Tangis dan Kekuatan Paula Pakage Dampingi ODHA di Nabire
Nabire, Perempuan itu duduk sambil menggenggam telepon selulernya. Sesekali ia mengusap wajah. Sejumlah pesan dari orang-orang yang pernah didampinginya sebagai pasien masuk silih berganti.
Paula S. Pakage, 43 tahun, sudah hampir dua dekade mendampingi orang dengan HIV. Ia tidak sekadar mengingatkan mereka meminum obat antiretroviral (ARV). Ia mendatangi rumah pasien, mengantar obat, menemani ketika mereka ketakutan, bahkan menerima telepon ketika tubuhnya sendiri sedang lelah.
Bagi Paula, kalimat itu bukan sekadar ucapan kepada pasien. Selama bertahun-tahun, ia berusaha memastikan orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) tidak merasa sendirian menghadapi penyakit dan stigma.
Melawan Stigma Sejak HIV Masih Menjadi Hal Tabu
Pengabdian itu bermula pada 2007. Ketika itu Paula baru kembali dari Bandung setelah menyelesaikan pendidikan sarjana ekonomi. Ia melihat HIV (Human Immunodeficiency Virus) masih menjadi sesuatu yang menakutkan di Nabire, terutama di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Karang.
Orang-orang saling menuduh ketika ada anggota keluarga meninggal karena penyakit yang belum mereka pahami. Bahkan orang yang hendak menjalani tes HIV (Human Immunodeficiency Virus) kerap menggunakan nama samaran karena takut identitasnya diketahui.
“Waktu itu HIV sesuatu yang tabu, sesuatu yang menakutkan. Stigma masih sangat keras,” ujar Paula.
Ia kemudian bergabung dengan LSM Primari Nabire, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat, termasuk penanggulangan HIV/AIDS. Paula mulai belajar mengenai HIV (Human Immunodeficiency Virus) dari tenaga kesehatan dan dokter yang menangani penyakit tersebut.
Ia mendatangi dokter, bertanya, belajar, lalu mempraktikkannya melalui pendampingan pasien. Dari sana, Paula menjadi konselor sekaligus pendamping orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus).
Pasien pertama yang ia dampingi adalah seorang perempuan. Mereka bertemu di lorong layanan untuk orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) di Primari Nabire.
Perempuan itu kehilangan suaminya. Keluarga suaminya justru menuduhnya sebagai penyebab kematian. Padahal perempuan tersebut juga korban.
Paula mendampinginya menjalani pengobatan. Ia membantu memastikan perempuan itu mengonsumsi ARV secara teratur dan merujuknya ke layanan kesehatan, termasuk Klinik Santo Rafael yang berada di Nabire terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Bukit Meriam.
Bertahun-tahun kemudian, perempuan tersebut masih hidup. Kondisinya membaik dan hasil pemeriksaan viral load menunjukkan virus HIV tidak terdeteksi. Ia tetap menjalani terapi ARV.
Menurut Paula, kepatuhan menjalani terapi dan menjaga kesehatan menjadi bagian penting dalam pengobatan HIV (Human Immunodeficiency Virus). Ia menjelaskan bahwa terapi ARV dapat menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga kesehatan pasien dapat dipertahankan dan risiko penularan dapat ditekan.
Mendampingi Pasien, Mengembalikan Harapan
Selama hampir 19 tahun, Paula mengaku telah mendampingi lebih dari 473 orang. Mereka berasal dari berbagai latar belakang: orang yang sudah berkeluarga, anak muda, korban kekerasan atau persoalan keluarga, hingga bayi yang lahir dari ibu dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus).
Sebagian pasien datang setelah mendengar cerita dari pasien lain.
Cara Paula menjangkau mereka pun sederhana. Ia mendatangi permukiman, tempat berkumpul anak muda, atau meminjam halaman rumah warga untuk melakukan sosialisasi.

Ia tidak membawa bahasa medis yang rumit. Di tengah anak-anak muda yang sedang berkumpul, Paula ikut duduk. Mereka makan pinang, mengobrol, lalu perlahan membicarakan HIV (Human Immunodeficiency Virus).
“Kalau kita datang ke muda-mudi, cara bicara harus menyesuaikan dengan mereka. Jangan kita bicara seperti kepada orang berpendidikan tinggi,” ujarnya.

Dari obrolan itu, Paula mengajak mereka memeriksakan diri. Jika seseorang dinyatakan positif HIV (Human Immunodeficiency Virus), pendampingan tidak berhenti pada pemeriksaan dan pemberian obat.
Ada pasien yang takut identitasnya diketahui keluarga. Ada yang panik. Ada pula yang merasa hidupnya berakhir setelah dinyatakan positif.
Diagnosis HIV (Human Immunodeficiency Virus) tidak hanya menyerang fisik. Bagi sebagian orang, diagnosis itu juga dapat merenggut impian, ambisi, dan keinginan untuk melihat hari esok. Rasa takut dan stigma membuat sebagian pasien merasa terasing ketika orang-orang terdekat perlahan menjauh.
Ia bukan keluarga. Ia bukan pula kawan lama. Namun bagi sejumlah pasien, kehadirannya berubah menjadi jangkar kehidupan sekaligus jembatan yang menghubungkan mereka kembali dengan harapan.
Penerimaan tanpa syarat menjadi fondasi utama pendampingan Paula. Ketika sebagian orang melihat pasien HIV dengan prasangka, ia datang tanpa jarak dan tanpa tatapan yang menghakimi.
Paula berusaha memperlakukan pasien sebagai manusia utuh, bukan sekadar seseorang yang hidup dengan penyakit yang harus dijauhi.
Kehadirannya pun jauh melampaui tugas administratif mengingatkan jadwal minum ARV. Ia terus menyuarakan bahwa keberadaan virus di dalam darah tidak menentukan jati diri, karya, maupun harga diri seseorang.
Ketika seorang pasien sudah berhenti melihat masa depannya sendiri, Paula berusaha menjadi orang yang tetap percaya bahwa masih ada potensi dan impian yang bisa diraih.
Dedikasi itu diwujudkan melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Menggenggam tangan pasien di ruang tunggu rumah sakit ketika kecemasan datang. Mendengarkan keluhan melalui telepon. Mendatangi rumah. Mengantar obat. Atau sekadar memastikan seseorang tidak menghadapi masa sulit seorang diri.
Bagi pasien yang pernah didampinginya, tindakan-tindakan sederhana itu menjadi bukti bahwa empati tidak selalu lahir dari hubungan darah. Kepedulian yang tulus dan terus hadir dapat menjadi kekuatan bagi seseorang untuk merebut kembali kendali atas kehidupannya.
Jika pasien menelepon dan mengatakan tubuhnya terasa tidak nyaman atau pikirannya gelisah, Paula mengajaknya berbicara.
“Kadang saat mereka bercerita, itu yang menjadi semangat dan kekuatan buat mereka,” katanya.
Pendampingan biasanya dilakukan selama tiga hingga enam bulan. Jika pasien sudah patuh mengonsumsi obat, memahami jadwal pengambilan ARV, dan mampu mengelola kesehatannya, Paula membiarkan mereka mengambil obat secara mandiri.
Namun jika belum, ia tetap mengingatkan jadwal pengobatan. Bahkan ketika diperlukan, Paula mengambil dan mengantarkan obat tersebut.
Ada pasien yang pernah didampinginya dalam kondisi sangat lemah, bahkan harus menggunakan popok. Setelah menjalani pengobatan dan mendapat pendampingan, kondisi pasien membaik dan ia dapat kembali beraktivitas.
Namun tidak semua cerita berakhir seperti itu.
Jenuh, bosan, serta minimnya dukungan keluarga membuat sebagian pasien menghentikan pengobatan. Paula terdiam ketika mengingat pengalaman tersebut. Air matanya jatuh. Ia mengusap wajahnya beberapa kali.
Mimpi Membangun Rumah Pembinaan dan Klinik HIV
Pengalaman mendampingi pasien hingga akhir kehidupan itu melahirkan sebuah mimpi yang masih ia simpan.
Sejak 2013, Paula membayangkan sebuah tempat khusus seperti klinik dan gedung pembinaan bagi orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang sudah berada pada kondisi berat dan tidak lagi mendapat dukungan keluarga.
Suatu ketika, Paula harus mengantar obat kepada seorang pasien di wilayah Topo yang kondisinya sudah kritis. Ia menempuh perjalanan seorang diri. Sepeda motor yang digunakan ternyata bermasalah.
Saat hendak pulang, motornya mogok. Dalam kondisi kehabisan bensin dan berada jauh dari permukiman, Paula berharap bertemu orang yang dikenalnya.
Harapan itu datang. Ia bertemu Yobe, yang saat itu menjabat kepala kampung di Topo.
Yobe menolongnya. Paula ditumpangkan hingga kembali ke Topo. Bahkan ia memberikan uang Rp 20 ribu dari Rp 50 ribu yang ada di sakunya agar Paula bisa membeli bensin.
Wilayah pelayanan Paula tidak hanya di pusat Kota Nabire. Ia pernah melakukan konseling dan edukasi hingga Sima dan Topo. Perjalanan menuju lokasi bisa memakan waktu satu setengah hingga dua jam.
Ia tinggal bersama sembilan anaknya di asrama Siriwini. Anak tertuanya berusia 25 tahun dan yang paling kecil 8 tahun. Ia juga mengasuh sekitar 15 anak berusia 5-12 tahun yang kehilangan orang tua akibat HIV.
Suaminya, Dianus Youw, meninggal pada 2021. Ia merupakan salah satu orang yang selama ini mendukung gerakan kemanusiaan Paula.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Paula membuat kue dan menitipkannya di kios, kafe, serta pondok-pondok jualan. Ia juga mengajar secara sukarela di SD YPPGI Karang Mulia.
Di tengah aktivitas tersebut, ia tetap menjalankan konseling. Jika ada pasien menelepon dan meminta bantuan, Paula berusaha datang.
Sebelumnya, Paula juga menjabat Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Nabire hingga akhir 2025.
Kini, ia kembali memperdalam pendidikan kesehatan. Gelar sarjana ekonomi yang diperolehnya di Bandung tidak membuatnya berhenti belajar. Ia kembali kuliah di bidang administrasi kesehatan dan kini duduk di semester lima.
“Kalau orang hanya musiman atau ikut ramai karena ada kegiatan, tidak akan bertahan sampai seperti ini,” katanya.
Paula menyebut ada satu prinsip yang terus dibawanya: “Tangismu adalah dukaku dan senyummu adalah kekuatanku.”
“Kalau tubuh saya capek ingin istirahat, tapi kalau ditelepon, tidak ada alasan untuk menolak. Karena ada diri saya di dalam diri mereka,” ujarnya.
Hampir dua dekade menjadi relawan membuat Paula tidak lagi melihat HIV hanya sebagai persoalan medis. Baginya, stigma dan kesepian juga menjadi persoalan yang harus ditangani.
Paula tahu tidak semua orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) mendapatkan virus karena perilaku mereka. Ada yang tertular dari pasangan. Ada anak yang terpapar dari ibunya. Karena itu, ia memilih mendampingi tanpa menghakimi.
Salah satu orang yang pernah merasakan pendampingan Paula adalah AB perempuan berusia 43 tahun.
Diagnosis HIV (Human Immunodeficiency Virus) sempat membuat AB kehilangan pandangan terhadap masa depan. Penyakit itu bukan hanya memengaruhi kondisi fisiknya, tetapi juga membuat impian, ambisi, dan keinginannya untuk melihat hari esok seperti ikut menghilang.
Ketika orang-orang di sekitarnya mulai menjauh karena ketakutan dan stigma, Paula hadir.
Bagi AB, Paula bukan keluarga dan bukan pula teman lama. Namun sosok itu berubah menjadi tempat berpijak ketika kehidupan terasa gelap.
Paula tidak datang dengan rasa takut berlebihan. Ia tidak memperlakukan AB sebagai seseorang yang harus dijauhi. Ia hadir dan berbicara sebagai sesama manusia.
Penerimaan itu menjadi bagian penting dalam proses AB menerima keadaan dirinya.
Paula terus mengingatkan bahwa HIV (Human Immunodeficiency Virus) tidak mendefinisikan harga diri seseorang. Keberadaan virus di dalam tubuh tidak berarti seseorang kehilangan hak untuk memiliki impian, bekerja, berkarya, dan menjalani kehidupan.
Ketika AB sendiri sudah berhenti mempercayai masa depannya, Paula menjadi salah satu orang yang tetap percaya bahwa masih ada kehidupan yang bisa dijalani.
Pendampingan itu hadir melalui hal-hal sederhana. Dari menggandeng tangan AB di ruang tunggu rumah sakit yang memicu kecemasan hingga memastikan pengobatan tetap berjalan.
Bagi AB, tindakan tersebut menjadi bukti bahwa ia tidak sendirian.
Melalui pendampingan Paula, AB perlahan berusaha merebut kembali kendali atas kehidupannya. Ia menemukan bahwa keberanian untuk menjalani hari dan kehadiran seseorang yang bersedia mendampingi tanpa stigma dapat menjadi alasan untuk kembali berharap.
Dengan mata sayu, ia mengenakan pakaian yang dilapisi jaket. Postur tubuhnya tampak seperti orang sehat pada umumnya. Namun rasa sakit yang ia rasakan hanya ia sendiri yang tahu.
Sesekali AB mengusap keringat di dahinya. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak ingin pengalaman sakit yang dialaminya dirasakan oleh orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) lainnya.
Keinginan itu pula yang membuat sosok seperti Paula penting bagi mereka. Di tengah rasa sakit, ketakutan, dan stigma, ada seseorang yang bersedia datang dan mendengar.
Mimpi membangun rumah pembinaan dan klinik khusus orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) belum terwujud. Namun Paula mengatakan mimpi itu justru menjadi ukuran keberhasilan hidupnya.
“Saya rasa sudah cukup kaya suatu kelak kalau saya bisa wujudkan rumah pembinaan dan klinik khusus bagi orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus). Di situ saya akan merasa sebagai orang yang paling kaya,” ujarnya.
Nabire Catat 10.705 Kasus HIV/AIDS
Ketua KPA Provinsi Papua Tengah Freny Anouw mengatakan penanganan orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) di tingkat provinsi diarahkan pada dua hal: memastikan orang yang sudah terinfeksi menjalani terapi ARV secara rutin dan mendorong masyarakat memeriksakan status kesehatannya.
Menurut Freny, masyarakat yang belum mengetahui status HIV (Human Immunodeficiency Virus) perlu mendatangi fasilitas kesehatan seperti puskesmas untuk menjalani pemeriksaan.






Tinggalkan Komentar