Pagi tadi, Sabtu (19/07/14), Antonia, seorang mahasiswi asal Papua terlibat baku maki dengan seorang warga Makassar, penjual pakaian dan sandal di pasar Buton jalan Patimura Nabire, Papua.
“Kam stop bikin harga seenaknya di sini. Kam jual sandal karet yang di Jawa Rp15.000 ini bikin sampai Rp95.000 di sini. Pakaian Dagadu tuh di Jawa Rp.15.000 kamu naikan sampai Rp85.000. kam (kamu:red) stop sudah,” katanya marah-marah.
Banyak warga menyaksikan peristiwa ini. Tampak sejumlah penjual keluar meninggalkan jualan mereka untuk menyaksikannya.
Antonia memegang sebuah sandal dan menunjukkan harga asli yang belum sempat dilepaskan si penjual ini, Ismail. “Lihat ini, harga asli hanya 25.000 tapi dia kasih harga sama mama-mama Papua ini tadi Rp95.000. Kenapa main-main harga di sini,” tuturnya emosional.
Lebih lanjut kata Antonia, “Saya tahu, harga sandal dan pakaian seperti ini sangat murah di Jawa. Saya kuliah di Yogyakarta jadi saya tahu persis. Mereka bikin sampai tiga kali lipat padahal daya beli masyarakat rendah. Mama-mama dong (mereka:red) terpaksa beli saja”.
“Kalau barang yang berat dan memakan ongkos kilo, kami maklumi naikan harga secukupnya. Tetapi, barang-barang yang tidak kena ongkos kilo, milsanya pulsa juga sangat mahal di Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Malah dua kali lipat. Pulsa Rp10.000 kami harus beli dengan harga Rp20.000, bahkan ada yang lebih,” tuturnya.
Antonia mengatakan, pihaknya akan menghubungi teman-temannya untuk survey harga di semua pasar di Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Intan Jaya.
“Kami duga, tidak hanya di sini. Di mana-mana,semua jenis barang bikin harga sampai sekian kali lipat. Ini kondisi yang menyengsarakan orang Papua. Padahal, banyak orang Papua yang pendapatannya tidak jelas,” katanya.
“Kami akan sampaikan kepada pemerintah masing-masing kabupaten agar segera menetapkan harga satuan dan cek harga. Ini salah satu faktor akan membuat kondisi masyarakat kita tidak berubah sementara mereka yang lain datang bikin harga sekian kali lipat. Ini tidak adil dan eksploitasi,” tuturnya.
Ketika diwawancarai, Ismail menuturkan, harga mereka tentukan demikian karena biaya pengiriman mahal dan juga tempat yang mereka gunakan untuk jualan (pasar Buton) disewakan.
“Om, kami ini biaya kirim mahal. Tempat ini juga kami sewa. Jadi, kalau kami turunkan harga ya kami rugi,” katanya.
Ismail menuturkan, harga barang-barang yang mereka jual dengan harga demikian bukan berkaitan dengan lebaran. “Ini dari dulu, kami jual begitu om. In bukan karena Lebaran,” tuturnya tenang.
Mama Albertina yang berada di pasar itu menuturkan, pihaknya sudah terbiasa membeli pakaian dengan harga yang telah ditentukan penjual. “Kami ya beli saja. Kami tahunya harga itu memang begitu. Kami baru tahu, setelah ade perempuan itu marah-marah tadi, kalau harga sebenarnya lebih murah,” tuturnya.
Setelah sekitar 40 menit terlibat baku marah, Antonia meninggalkan pasar itu. Sejumlah orang yang menyaksikan peristiwa ini membubarkan diri.
Tinggalkan Komentar