INFO NABIRE
Home » Blog » Perjuangan Marice Tamara Untuk Pangan & Pendidikan Di Yaro

Perjuangan Marice Tamara Untuk Pangan & Pendidikan Di Yaro

1

Marice Tamara telah berupaya membuat anak-anak mau bersekolah meski tinggal di daerah pedalaman. Berhasil membuat anak-anak mau bersekolah menjadi modal baginya mengajak orangtua mereka menanam tanaman lokal umbi-umbian yang  berguna bagi gizi keluarga. Guru taman kanak-kanak ini sukses memenuhi gizi warga dengan biaya murah. Tinggal di daerah pedalaman dimana harga pangan mahal, Marice dapat meringankan beban penduduk akan kebutuhan pangan yang sehat.

Marice mengajar sebagai seorang guru di Taman Kanak-Kanak Pelangi Satu Atap di Distrik Yaro Kabupaten Nabire, Papua. Puluhan tahun perempuan asal Manado ini mengabdi untuk mendidik anak-anak di Tanah Papua. Menurut Marice, sangat sulit memotivasi orang-orang di pedalaman Papua untuk menyekolahkan anak, apalagi untuk tingkat TK. Padahal, pada tahap itulah kepribadian anak terbentuk. Berbagai macam cara telah dilakukan oleh Marice agar warga bersedia menyekolahkan anaknya.

Pun saat anak-anak telah mulai sekolah, Marice masih menemui banyak tantangan. Setiap pagi, anak-anak yang ke sekolah tidak pernah mandi dan bersarapan. Tak hanya itu, pakaian yang dikenakan juga jarang dicuci. Alhasil, biasanya, saat jam sekolah memasuki pukul 9, para siswa ini akan sangat tidak konsentrasi dikarenakan lapar dan badannya tidak segar. Sehingga, tidak sedikit siswa yang kemudian tertidur di kelas, dan mengabaikan pelajaran yang diberikan.

Hingga pada suatu hari, Marice melihat ada sekelompok perempuan yang sering berkumpul di seberang sekolahnya. Lambat laun Marice penasaran tentang aktivitas para perempuan tersebut. Mereka datang bersama-sama, lalu mengolah tanah bersama-sama, dan kemudian pulang bersama-sama.

Marice pun mulai mencari tahu. Didapatinya sebuah papan di dekat lokasi bertuliskan, “Demplot Promosi Pangan Lokal Kampung Yaro”. Tercantum pula keterangan bahwa kegiatan ini didukung oleh lembaga bernama KOMPAK dan Oxfam. Marice kemudian berinisiatif menemui orang dari KOMPAK. Singkat cerita, Marice menyampaikan ketertarikannya untuk bisa juga menjalankan kegiatan serupa di sekolah, dan berharap KOMPAK bersedia membantu niatannya.

Perjuangan baru dimulai! Sebagai awal, Marice bersama koleganya, Tince Buntu Bulawan, mengundang ibu-ibu orang tua siswa dan menyampaikan ide untuk membuka kebun secara bersama-sama agar hasilnya bisa dikonsumsi para murid.

Gayung bersambut. Wali murid menerima positif ide tersebut. Maka, terhitung sejak awal tahun 2013, Marice bersama dengan para perempuan orang tua siswa mulai membersihkan semak belukar yang ada di belakang sekolah dan kemudian menanaminya dengan beragam umbi-umbian. Menjadi agenda rutin, setiap hari Jumat para wali murid akan datang ke ladang sekolah ini untuk merawat tanaman yang ada. Bahkan, para siswa juga mulai dilibatkan dalam kegiatan tanam-menanam dan kemudian dipungkasi dengan mandi atau membersihkan diri.

Melalui kegiatan ini Marice merasa bahagia karena mendapatkan media untuk mengajarkan nilai-nilai tentang hidup sehat, tentang kemandirian dan juga tentang menjaga alam. Selain itu, 40 siswa Marice ini semakin giat bersekolah karena setiap pagi akan diadakan makan bersama dengan menu utama dari hasil kebun sekolah.

“Saya senang, anak-anak menjadi lebih bersemangat ke sekolah dan kami bisa memperbaiki gizinya melalui pangan yang kami tanam sendiri,” ujar Marice.

(OXFAM)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

  • Yunita
    15 Agustus, 2014 09:02 pada 09:02

    Salut buat ibu Marice…maju teruss Papua…semoga ibu-ibu yang lain juga muncul untuk memajukan Papua

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.