Jalan trans Papua Nabire-Dogiyai yang pekan lalu terputus akibat derasnya arus kali, pada jembatan di KM 174, dua hari kedepan sudah bisa tersambung. Tidak berselang lama setelah musibah terputusnya ruas jalan itu, pihak terkait langsung turun tangan membuat jembatan darurat. Kayu gelondongan diangkut menggunakan tronton dan dengan alat berat dipasang melintasi ruas sungai yang memutus ruas jalan jalur pedalaman ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, jembatan di KM 174 jalan trans Papua Nabire-Dogiyai, hilang terbawa derasnya air sungai. Peristiwa luapan air sungai di ruas jalan itu terjadi pada Minggu (8/12) malam. Tak hanya jembatan di KM 174, jembatan di KM 179 juga ikut hanyut. Hingga saat ini, belum ada jembatan alternatif yang bisa dilintasi kendaraan. Hal ini menyebabkan terputusnya jalur angkutan dari dan ke arah pedalaman.
Jumat lalu (13/12), dua batang kayu digunakan untuk warga menyeberang. Upaya untuk membuat jembatan darurat yang bisa dilewati kendaraan, terlihat sedang diupayakan. Kendaraan besar tronton terlihat telah mengangkut sejumlah batang pohon besar yang akan digunakan untuk membuat jembatan darurat. Namun belum bisa dipastikan kapan jembatan darurat yang bisa dilintasi kendaraan itu selesai.
Para penumpang dari Nabire yang akan menuju Dogiyai, Deiyai maupun Paniai harus rela berjalan kaki meniti jembatan kayu menyeberang dan mencari angkutan di seberang. Demikian juga sebaliknya, warga dari arah Paniai, Deiyai dan Dogiyai yang akan ke Nabire pun demikian. Berjalan kaki melintas jembatan kayu untuk selanjutnya mencari angkutan di seberang jembatan untuk melanjutkan perjalanan.
Penumpang yang akan melanjutkan perjalanan tidak perlu menunggu lama, karena banyak kendaraan yang sudah siap di kedua sisi ruas jalan yang putus itu. Untuk melanjutkan perjalanan dari KM 174 menuju Moanemani, angkutan umum yang dicarter mematok harga Rp. 1 juta. Sementara untuk angkutan yang antri menunggu penumpang juga dikenakan biaya parkir dan ongkos porter seharga Rp. 200.000.
Imbas tertupusnya ruas jalan di KM 174, berdampak stok bahan makanan dan kebutuhan lainnya di daerah pedalaman. Akibat lain, sejumlah barang juga harganya sudah melambung cukup tinggi. Kenaikan harga barang terkait dengan adanya biaya tambahan ketika memindahkan barang dari sisi jalan satu menyeberang ke jalan seberang. Sopir penangkut BBM menyebutkan, untuk memindahkan angkutan dirinya harus merogoh kantong Rp. 4 juta.
Lokasi terputusnya ruas jalan ini, terlihat seperti terminal dengan cukup banyaknya kendaraan yang menunggu angkutan lanjutan. Tak hanya itu, sejumlah warga juga telah membuka lapak jualan air minum dan kebutuhan lainnya.
Ketua Dewan Adat Paniai, Jhon Gobai, mengatakan, putusnya akses antara Kabupaten Nabire dengan Dogiyai, Deiyai dan Paniai, disebabkan oleh jembatan yang patah dan hanyut terbawa arus di 2 titip yaitu dekat Kampung Ugida, Kabupaten Dogiyai. Hal ini perlu ada perhatian semua pihak, terutama kontraktor proyek jembatan dan Satker Bina Marga Nabire, untuk evaluasi dan membangun jembatan darurat. Karena ruas jalan ini adalah urat nadi ekonomi di 3 kabupaten.
Tinggalkan Komentar