Wisata Pantai Berbasis Konservasi Penyu Kini Hadir Di Nabire Papua
Nabire – Penyu merupakan kura-kura laut yang bisa ditemukan di seluruh samudera di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman purba yaitu sekitar 145 hingga 208 juta tahun yang lalu, atau seusia dinosaurus.
Namun sejak beberapa dekade terakhir, populasi penyu di dunia menyusut sangat cepat, lantaran dampak perburuan telur ilegal oleh para tangan-tangan nakal yaitu manusia, serta polularitas pemangsa yang sangat banyak dibandingkan hewan vertebrata kelas reptilia ini. Populasi penyu yang kian hari kian terancam perlu mendapat perhatian bagi kita semua.
Kini di kabupaten Nabire, telah hadir Wisata Konservasi Penyu yang merupakan upaya pengalihan eksploitasi terhadap penyu menjadi kegiatan ekowisata pantai, hasil kerjasama warga Kampung Makimi, Distrik Makimi Nabire bersama Dinas Kelautan & Perikanan kabupaten Nabire.
Penetapan kawasan konservasi penyu ini merupakan upaya pemerintah kabupaten Nabire melalui Dinas Kelautan & Perikanan bersama warga Kampung Makimi, untuk menjamin kelestarian populasi penyu.
Di kampung Makimi sendiri, ada Kelompok Konservasi Penyu yang merupakan binaan dari Dinas Kelautan & Perikanan kabupaten Nabire, Bidang Sumber daya Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau kecil.
Kelompok ini mendapat perhatian serius dari pemerintah, bahkan Bupati Nabire juga memberikan dukungan dengan berkunjung ke kawasan ini, pertengahan 2018 lalu, sekaligus melepas 200 anak penyu.
(Baca Juga : Kelompok Konservasi Penyu Kampung Makimi adalah binaan dari Dinas Kelautan & Perikanan kabupaten Nabire, Bidang Sumber daya Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau kecil)
Berbagai kegiatan pembinaan juga telah dilaksanakan oleh DKP Nabire kepada Kelompok Konservasi Penyu, seperti pelatihan penetasan telur penyu dan lain sebagainya.
Warga sekitar juga sudah mulai sadar akan pentingnya keberadaan penyu dengan membiarkan telur penyu yang ditemukan menetas.
Seperti dikatakan Staf Dinas Kelautan & Perikanan kabupaten Nabire, Musa Wayeni, Kamis (07/03), warga kampung Makimi telah menemukan 90 butir telur penyu dan mereka dibiarkan menetas. Setelah menetas, penyu tersebut akan dilepas.
“Kini warga Nabire bisa menikmati wisata pantai berbasis konservasi penyu di kampung Makimi, Distrik Makimi Nabire. Warga bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan anak-anak penyu kemudian dilepaskan ke laut. Warga bisa datang ke kampung Makimi dan bertemu dengan Mama Samberi”, kata Musa.
Musa berharap kampung Makimi nantinya bisa menjadi kampung wisata penyu yang secara sosial dan ekonomi dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi kesejahteraan masyarakat dengan tetap mengedepankan sisi perlindungan dan kelestarian terhadap penyu itu sendiri.
[Nabire.Net]



Leave a Reply