INFO OLAHRAGA INFO PAPUA
Home » Blog » Turnamen Sepakbola SIMAPITOWA Cup IV Ditutup, FC Reburi Tampil Sebagai Juara

Turnamen Sepakbola SIMAPITOWA Cup IV Ditutup, FC Reburi Tampil Sebagai Juara

Setelah berlangsung sejak tanggal 11 Juli 2018 di lapangan Bola Gerardus Tigi, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, Turnamen Sepakbola SIMAPITOWA Cup ke IV resmi ditutup pelaksanaannya dalam suatu ibadah yang dilaksanakan di Aula Distrik Mapia, kabupaten Dogiyai, sabtu 28 Juli 2018.

Usai Ibadah, Ketua Pusat RPM SIMAPITOWA, Hengky Mote, dalam sambutannya menjelaskan tentang perkembangan organisasi Siriwo Mapia Piyaiye Topo Wanggar (SIMAPITOWA) ini.

Dijelaskan, organisasi RPM SIMAPITOWA ini sudah terdaftar di DPD KNPI Provinsi Papua serta di Pengadilan, selanjutnya akan didaftarkan juga di Kespol.

Di tempat yang sama, Kepala Distrik Mapia, Bonifasius Dogomo SH mengatakan, Turnamen RPM SIMAPITOWA Cup seharusnya ditutup oleh Kepala Dinas Pemuda & Olahraga Dogiyai, namun karena beliau berhalangan maka dirinya mewakili Kepala Dinas untuk menutup Turnamen ini.

“Organisasi ini awalnya dibentuk oleh orang Mapia sendiri, sekarang juga dijalankan oleh orang Mapia dan nanti juga akan dijalakan oleh orang Mapia itu sendiri”, kata Kepala Distrik,

Sementara itu, Panitia Turnamen SIMAPITOWA Cup Ke IV, Edmondus Madai dalam laporannya mengatakan bahwa tujuan dilaksanakannya Turnamen ini adalah untuk membangun Asrama Mahasiswa dan Pelajar dari RPM SIMAPITOWA di Jayapura, dan berhasil tampil sebagai juara dalam turnamen ini adalah FC Reburi, diikuti FC Didiwato sebagai juara kedua dan FC Moneina sebagai juara ketiga.

Edmondus juga meminta agar semua pihak khususnya kaum intelektual muda yang ada di Nabire maupun Dogiyai bisa mendukung hal ini dan bersama-sama memperjuangkan hal ini.

Sementara itu, Ketua Dewan Paroki Bomomani, Yohanes Butu A.Md mengatakan bahwa gereja perlu mendukung pembangunan asrama yang direncanakan menelan dana 3 Miliar rupiah.

“Dalam tiga milyar itu bagi setiap kampung tiga puluh juta berarti akan jadi pembangun asrama itu”, kata Yohanes.

Dengan tegas Yohanes Butu menyatakan semua Distrik harus pikir pentingnya tentang pendidikan, Kesehatan, dan lain pun juga. Setiap kampung harus anggarkan dana desa itu supaya kita sukseskan asrama itu dengan tujuan tercapai.

“Dengan turnamen ini jangan ada dendam dan perasaan emosi kepada klub lain atau teman tertentu, itu mematikan maka jangan”, kata Yohanes Butu.

Sementara Ketua Dewan Adat Mapia, Marthen Iyai mengatakan bahwa orang Mapia harus bersatu. Selain itu dirinya mendukung agar mahasiswa atau pelajar yang menuntut ilmu keluar Mapia, mereka harus memiliki tempat tinggal yang layak sehingga nantinya jika mereka telah sukses dan berhasil mereka bisa kembali dan membangun daerah ini kembali.

[Nabire.Net/Musa.Boma]


Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.