Tanggapan Kapolres Nabire Terkait Pemberitaan Pembubaran Paksa Pemungutan Suara Di 3 Distrik Yang Ada Di Dogiyai
Kapolres Nabire, AKBP Semmy Ronny Thabaa, menggelar jumpa pers dengan wartawan, rabu sore 1 maret 2017, guna menanggapi pemberitaan salah satu media nasional, Tribunnews, yang memberitakan keberpihakan Kapolres Nabire pada pasangan Yakobus Dumupa/Oskar Makai, yang mengikuti Pilkada Dogiyai 2017.
Menanggapi pemberitaan tersebut, Kapolres Nabire merinci secara detail kejadian sebenarnya yang terjadi, bahwa pemberitaan tersebut terkait aduan pasangan Markus Waine/Angkian Goo ke Propam Mabes Polri, selasa kemarin 28 februari 2017.
(Baca Juga : Kuasa Hukum Pasangan Markus Waine/Angkian Goo Laporkan Kapolres Nabire Ke Propam Mabes Polri)
Pasangan Markus Waine dan Angkian Goo melaporkan Kapolres Nabire atas tuduhan keberpihakan serta tidak profesional dengan membubarkan massa pasangan Markus Waine/Angkian Goo yang akan melakukan pemungutan suara dengan sistem ikat/noken.
“Saya sebagai Kapolres Nabire melaksanakan tugas sesuai dengan peran dan fungsi serta tanggung jawab pada saat distribusi logistik dari kabupaten ke Distrik, pada saat itu ada penumpukan logistik di 3 Distrik yakni Distrik Dogiyai, Mapia dan Kamu Selatan” ucap Kapolres Semmy Thabaa.
Lebih lanjut, Kapolres menegaskan, dari penumpukan logistik yang terjadi di Distrik Dogiyai pada pukul 09.00 wit, ada salah satu paslon dengan sengaja mendirikan posko pemenangan dalam areal kantor Distrik Dogiyai, dengan maksud bahwa begitu logistik dari kabupaten digeser Distrik, maka logistik tidak perlu lagi digeser ke tingkat kampung (TPS), oleh karena itu pendirian posko pemenangan bertujuan untuk menghadang pergeseran logistik dari Distrik ke TPS oleh tim pemenangan paslon tersebut dengan alasan, proses pencoblosan menggunakan sistem noken/ikat.
Mendapati hal tersebut, Kapolres Nabire didampingi Ketua KPUD Dogiyai, Moses Magai dan Ketua Panwas Dogiyai, Hengky Wakey langsung melakukan pengecekan dan pengamanan di Distrik Dogiyai.
Warga yang mendirikan posko diberikan pemahaman bahwa sesuai mekanisme yang ada, logistik harus sampai terlebih dulu di TPS atau tingkat kampung, baru bisa dilakukan pemilihan, jika memang harus sistem ikat/noken, hal tersebut tetap bisa dilakukan tetapi harus dari tingkat TPS atau kampung.
Selain itu, Kapolres Nabire menambahkan bahwa jika dibiarkan di tingkat Distrik, maka hal itu bisa digugat oleh pasangan calon lainnya yang keberatan bahwa hal tersebut sudah tidak sesuai dengan mekanisme atau prosedur yang berlaku.
Selain di Distrik Dogiyai, hal yang sama pun terjadi di Distrik Mapia dan Kamuu Selatan. Penanganan yang sama pun dilakukan oleh Kapolres Nabire bersaa Ketua KPU Dogiyai dan Ketua Panwas Dogiyai.
Dari ketiga Distrik tersebut, kendala cukup besar terjadi di Distrik Kamuu Selatan yang merupakan basis massa pasangan calon nomor urut empat, Markus Waine/Angkian Goo.
“Pada saat itu akhirnya kami turun bersama sama dengan Ketua Panwas Dogiyai Hengky Wakey dan Ketua LMA Dogiyai Germanus Goo perjalan menuju ke Distrik Kamu Selatan berjalan kaki kurang lebih selama 2 Jam menyusuri daerah lembah dan rawa. Sesampainya disana, kami berikan pemahaman kepada mereka, mereka memang agak keras, dengan jumlah massa yan besar dan tetap memaksakan kehendak yang melawan aturan,” ujar Kapolres.
Ditambahkan Kapolres Semmy Thabaa, ada sebagian kecil warga justru ingin agar proses distribusi logistik berjalan seperti mekanisme yang ada yakni tetap sampai ke kampung atau TPS, oleh karena itu pihaknya menyarankan kepada warga yang bersikeras agar logistik cukup sampai di tingkat Distrik, bahwa logistik tetap harus dikirim ke tingkat TPS atau kampung, mengikuti mekanisme yang ada. Namun massa tetap marah dan menganggap bahwa Kapolres Nabire membubarkan massa.
[Nabire.Net]



niver
siapa pemimpin Dogiyai yang akan membangun Dogiyai…..? kalau maslah, demi masalah terus bergulir di MK, kami Masyarakat Kabupaten Dogiyai merindukan Pembangunan, serta SDM, agar dapat bersaing dengan kabupaten lainnya.
Blasiu Waine
Warga masyarakat Dua belas kampung Distrik Kamuu selatan menilai Kapores Nabire dan mantan Panwas Hengki Wakei dan Germanus Goo disuap dengan uang oleh kepentingan pasangan calon Bupati lain, Karna tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, Intelektual, tokoh perempuan, serta seluruh masyarakat dua belas kampung telah melakukan kesepakatan untuk dukungan suara pasangan no 4 waine-Goo dengan menyatakan sikap :
1. Demi harga diri orang kamuu selatan
2. Suara tidak keluar kepasangan calon lain
3. Siap berkorban dan siap beruntung
4. Selamatkan 89 gelar sarjana penganggur asal kamsel
5. Sesuai jumlah DPT Distrik Kamsel 21. 811 tidak keluarkan suara satupun kepada pasangan calon lain.
Tetapi kapolres Nabire tidak menghargai kesepakatan yang ditanda tangani oleh seluruh tokoh masyarakat, dan mendesak logistik turunkan me TPS masing-masing pada akhir terjadi perpecahan suara dan terjadi money politik.