Tak Perlu Keluar Kota, Hidden Beach Nabire Tawarkan Pesona Senja di Tepi Laut
Nabire, Menikmati suasana pantai tidak selalu harus menempuh perjalanan jauh dari pusat kota. Di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, sebuah kawasan pesisir yang sebelumnya nyaris luput dari perhatian kini mulai menjadi pilihan baru bagi masyarakat, terutama anak muda, untuk bersantai sambil menunggu matahari terbenam.
Tempat itu bernama Hidden Beach. Lokasinya berada tidak jauh dari pusat Kota Nabire dan dapat ditempuh sekitar lima menit perjalanan. Meski akses menuju lokasi melewati gang kecil di belakang Kantor Bank Papua Jalan Yos Sudarso Nabire, suasana yang ditemukan setelah tiba justru terasa seperti berada jauh dari keramaian perkotaan.
Hamparan laut terbuka, pasir putih, pepohonan kelapa dan semilir angin menjadi pemandangan utama. Ditambah suara ombak yang terdengar sepanjang waktu, kawasan ini menawarkan pengalaman sederhana yang justru menjadi daya tarik tersendiri.
Dari Gang Kecil Menuju Ruang Santai di Tepi Laut
Hidden Beach merupakan tempat usaha yang memanfaatkan kawasan pesisir milik keluarga pengelola. Ide pengembangannya muncul setelah Daniel Windesi, pengurus Hidden Beach, melihat konsep tempat nongkrong serupa ketika berkunjung ke sejumlah kota, seperti Jayapura, Biak dan Manokwari.
Pengalaman tersebut kemudian memunculkan gagasan untuk menghadirkan tempat berkumpul yang lebih dekat dengan masyarakat Nabire.

“Karena di Nabire tidak ada tempat hiburan dalam kota, dan anak Nabire juga membutuhkan tempat hiburan,” kata Daniel.
Bersama tiga hingga empat orang rekannya, Daniel mulai menata kawasan tersebut secara bertahap. Tidak menggunakan konsep yang terlalu rumit, mereka lebih banyak memanfaatkan karakter alami pesisir sebagai bagian dari daya tarik tempat tersebut.
Usaha ini tergolong masih sangat muda. Hidden Beach baru beroperasi sekitar empat bulan. Namun, dalam waktu singkat, jumlah pengunjung mulai menunjukkan perkembangan, terutama pada sore hingga malam hari.
“Banyak tempat wisata, tapi jauh-jauh. Kebetulan tempat seperti ini yang anak-anak muda cari,” ujarnya.
Senja Menjadi Magnet Utama
Sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 WIT menjadi waktu yang paling ramai. Ketika matahari mulai bergerak turun, pengunjung berdatangan untuk mencari tempat duduk terbaik menghadap laut.
Sebagian memilih mengobrol bersama teman. Ada pula yang sekadar duduk menikmati angin pantai atau mengabadikan pemandangan senja melalui kamera ponsel.
Konsep terbuka menjadi salah satu keunggulan Hidden Beach. Para pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati makanan atau minuman, tetapi juga memperoleh ruang untuk berlama-lama menikmati suasana pesisir.
Sejumlah fasilitas sederhana disiapkan untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Di beberapa titik tersedia para-para, kursi santai hingga bean bag yang diarahkan menghadap pantai.
Pilihan makanan juga dibuat cukup sederhana dan dekat dengan selera masyarakat. Salah satunya pisang goreng cokelat serta berbagai olahan pisang yang dikemas dengan sentuhan lebih modern.
Tiket Terjangkau, Perputaran Ekonomi Mulai Terlihat
Daya tarik Hidden Beach tidak hanya terletak pada lokasinya, tetapi juga harga yang relatif mudah dijangkau.
Pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp10 ribu per orang. Sementara kursi yang berada di area dekat bibir pantai dibanderol sekitar Rp30 ribu dan dapat digunakan oleh tiga hingga empat orang.
Hidden Beach beroperasi sejak pagi hingga sekitar pukul 22.00 WIT. Jika kondisi sedang ramai, jam operasional dapat berlangsung lebih lama.
Dari sisi ekonomi, usaha tersebut mulai menunjukkan hasil. Daniel menyebut pendapatan harian rata-rata berada pada kisaran Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Saat tingkat kunjungan meningkat, omzet dalam sehari dapat mencapai sekitar Rp2 juta.
Aktivitas usaha itu juga memberikan peluang pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Saat ini terdapat tiga orang yang membantu menjalankan operasional, termasuk anak muda yang masih berstatus sebagai pelajar.
Bukan Sekadar Tempat Nongkrong
Kehadiran Hidden Beach memperlihatkan bahwa ruang rekreasi tidak selalu harus dibangun dalam skala besar. Lingkungan yang sederhana, jika dikelola dengan kreativitas, dapat berubah menjadi tempat yang memiliki nilai sosial sekaligus ekonomi.
Bagi masyarakat Nabire, terutama generasi muda, keberadaan tempat seperti ini memberikan alternatif untuk berkumpul tanpa harus bepergian jauh keluar kota.
Lebih dari itu, pengembangan Hidden Beach menunjukkan bagaimana potensi kawasan pesisir dapat dimanfaatkan untuk menciptakan aktivitas ekonomi baru tanpa menghilangkan karakter alaminya.
Daniel berharap keberadaan tempat tersebut dapat menjadi pemicu bagi anak-anak muda Papua untuk berani melihat peluang dari lingkungan di sekitar mereka.
“Untuk anak muda Papua, semangat dan manfaatkan ekosistem yang ada,” pesannya.
Hidden Beach memang masih berada pada tahap awal. Namun, dari sebuah sudut pesisir yang tersembunyi di balik gang kecil, kini tumbuh sebuah ruang baru tempat masyarakat bertemu, berbincang dan menikmati pergantian hari.
Di Nabire, mungkin senja tidak pernah benar-benar berubah. Yang berubah adalah cara orang menemukannya.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar