Tak Ada Pengasuh, Guru di Dogiyai Tetap Mengajar Sambil Menggendong Balita
Dogiyai, 29 April 2026 – Pemandangan guru mengajar sambil menggendong balita menjadi hal yang biasa di SD Negeri Waneuwo, Dusun Waneuwo, Kampung Diyeugi, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.
Kondisi ini bukan tanpa alasan. Banyak guru yang bertugas di wilayah pedalaman tidak memiliki keluarga untuk membantu menjaga anak, bahkan sebagian tidak mampu membayar pengasuh.
Kepala SD Negeri Waneuwo, Alex Pakage, S.Pd, menjelaskan bahwa kebijakan memperbolehkan guru membawa anak ke sekolah telah mendapatkan izin dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Dogiyai, David Goo, S.Pd.
Menurutnya, kebijakan tersebut diambil berdasarkan kondisi nyata yang dihadapi para guru di lapangan.
“Banyak guru tidak punya keluarga untuk menitipkan anak, atau tidak mampu membayar pengasuh. Daripada guru tidak masuk kelas, lebih baik tetap mengajar meskipun harus membawa anak,” ujar Alex Pakage.
Salah satu guru kelas 3, Maria, yang akrab disapa Mama Guru Maria, mengaku sudah terbiasa mengajar sambil menggendong anaknya yang berusia dua tahun.
“Daripada tidak masuk kelas, lebih baik saya gendong. Anak murid harus tetap belajar,” kata Maria.
Tidak hanya guru perempuan, guru laki-laki pun pernah mengalami situasi serupa.
“Saya pernah mengajar sambil menyuapi anak bubur. Setelah itu lanjut menulis matematika di papan tulis,” ujar Guru Melki sambil tertawa.
Bagi para guru di pedalaman ini, kondisi tersebut bukanlah keluhan, melainkan bentuk tanggung jawab ganda: sebagai orang tua dan sebagai pendidik.
Perjuangan sunyi para guru di ruang kelas pedalaman seperti di Waneuwo menjadi bukti nyata dedikasi terhadap masa depan generasi Papua Tengah.
Dari ruang kelas sederhana di Dusun Waneuwo, masa depan anak-anak Papua Tengah terus ditulis—dengan kapur tulis, dengan ketulusan, dan dengan gendongan penuh cinta.
[Nabire.Net/Jeri Degei]





Tinggalkan Komentar