Dari Striker Persinab ke Pelatih, Yahya Sosomar Menanam Mimpi Sepak Bola di Nabire
Peluit panjang berbunyi nyaring, membelah riuh sore di lapangan SMP Negeri 3 Nabire. Matahari perlahan condong ke barat, menyisakan panas yang masih terasa di kulit. Di tengah lapangan, puluhan anak berusia sekitar 10 hingga 13 tahun berlarian mengejar bola. Sesekali mereka terjatuh, bangkit kembali, lalu berusaha merebut bola dari kaki lawan.
Di antara riuh suara dan langkah-langkah kecil itu, seorang pria berkaus merah marun berdiri memperhatikan. Senyumnya mengembang setiap kali melihat anak-anak didiknya mencoba menguasai bola. Sesekali ia memberi arahan, membetulkan posisi, atau meniup peluit untuk menghentikan latihan.
Ia adalah Yahya Sosomar, 49 tahun. Pria yang akrab di sapa yaso, Bagi sebagian pencinta sepak bola di Nabire, namanya bukan sosok asing. Ia pernah menjadi striker Persinab Nabire, merantau membela sejumlah klub di luar Papua, dan merasakan kerasnya persaingan sepak bola nasional.
Kini, setelah gantung sepatu pada 2014, Yahya kembali ke lapangan. Namun, ia tidak lagi berlari mengejar bola untuk mencetak gol. Ia berdiri di pinggir lapangan, menyiapkan generasi yang kelak mungkin mengikuti jejaknya.
Melalui Sekolah Sepak Bola (SSB) All Star Nabire, ia membimbing sekitar 50 anak, terutama yang tinggal di kawasan Siriwini. Di tempat itu, pengalaman panjangnya sebagai pemain menjadi bekal untuk menanamkan kecintaan terhadap sepak bola sejak usia dini.
Dari Lapangan Profesional, Yahya Sosomar Kembali Membina Talenta Muda Papua
Kecintaan Yahya terhadap sepak bola tumbuh sejak kecil. Perjalanannya sebagai pemain mulai menemukan arah ketika ia duduk di bangku SMP kelas III. Saat itu, sekolah-sekolah di Nabire mendapat kesempatan mengikuti seleksi pemain untuk Piala Suratin. Yahya ikut mencoba, terpilih, lalu bergabung dengan Persinab Nabire Junior pada 1995.
Setahun kemudian, ia mendapat promosi ke tim inti Persinab. Dari sana, perjalanan panjangnya sebagai pemain profesional dimulai.
Ia kemudian merantau dan memperkuat sejumlah klub, antara lain PSBL Bandar Lampung, Persiraja Banda Aceh, Perseman Manokwari, Persikaba Badung, Persijap Jepara, Persitara Jakarta Utara, dan Mitra Kukar. Di Persitara, ia merasakan atmosfer persaingan sepak bola kasta tertinggi Indonesia.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Cedera beberapa kali menghambat langkahnya. Setelah kembali memperkuat Persinab pada 2012–2013, Yahya akhirnya memutuskan pensiun pada 2014.
Bagi banyak pemain, pensiun mungkin menjadi akhir dari perjalanan panjang bersama sepak bola. Bagi Yahya, keputusan itu justru membuka jalan menuju peran baru: membina pemain muda.
Ia mengikuti kursus kepelatihan dan dipercaya menangani Persinab Nabire pada 2015–2016. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa pembinaan sejak usia dini merupakan bagian penting dari masa depan sepak bola Papua.
Yahya menyadari, dirinya baru mulai mengenal sepak bola secara terarah ketika duduk di bangku SMP. Ia berharap anak-anak yang kini berlatih bersamanya tidak perlu menunggu selama itu untuk mendapatkan kesempatan belajar.
“Kalau bisa, mereka lebih dini mengenal sepak bola. Saya dulu mulai serius saat SMP kelas III. Menurut saya, itu sudah agak terlambat,” ujarnya.
Dari pengalaman itulah, keinginan membangun SSB All Star Nabire tumbuh. Ia ingin anak-anak memiliki ruang untuk belajar, mengenal permainan, dan mengembangkan kemampuan sebelum memasuki usia remaja.
SSB All Star Nabire, Tempat Puluhan Anak Mengejar Mimpi Tanpa Biaya
SSB All Star Nabire mulai dirintis pada 2024. Awalnya, kegiatan itu berjalan sederhana. Yahya mengajak beberapa mantan pemain yang memiliki anak untuk bergabung. Dari sekitar 10 anak pada masa awal, jumlah peserta perlahan bertambah setelah anak-anak lain dan orang tua di sekitar Siriwini mengetahui adanya latihan sepak bola.
Yahya memilih kawasan tersebut bukan tanpa alasan. Ia melihat anak-anak membutuhkan kegiatan positif yang dapat menyalurkan energi, minat, dan waktu mereka.
Ia juga mengamati bahwa sejumlah kawasan di Nabire sudah memiliki sekolah sepak bola, termasuk Wonorejo dan lingkungan Kodim. Namun, menurutnya, daerah siriwini masih membutuhkan ruang pembinaan serupa.
“Saya melihat anak-anak di daerah sini cukup banyak. Saya merasa terpanggil untuk membina mereka. Kita ingin anak-anak Papua bisa berkembang melalui sepak bola,” katanya.

Baginya, sepak bola bukan semata-mata urusan menang atau kalah. Lapangan juga menjadi tempat anak-anak belajar disiplin, menghargai teman, mengikuti aturan, dan bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Itulah sebabnya latihan tidak langsung dipenuhi materi teknis yang rumit. Anak-anak terlebih dahulu dikenalkan pada bola, cara mengoper, aturan permainan, tendangan sudut, hingga lemparan ke dalam.
Untuk peserta berusia sekitar delapan hingga sembilan tahun, Yahya lebih menekankan pengenalan dasar. Setelah mereka bertambah usia dan memahami permainan, barulah latihan ditingkatkan ke teknik yang lebih terperinci.
“Yang paling utama itu visi bermain bola mereka. Kalau soal shooting dan passing, lambat laun mereka bisa menguasainya. Tapi mereka harus lebih dahulu memahami permainan,” tuturnya.
Latihan berlangsung tiga kali seminggu, yakni Senin, Rabu, dan Jumat. Setiap pertemuan berlangsung sekitar satu setengah jam. Anak-anak memulai dengan latihan dasar, kemudian dibagi berdasarkan kelompok usia untuk bermain.
Dalam latihan, Yahya tidak hanya memperhatikan kerasnya tendangan atau kecepatan berlari. Ia juga mengamati cara anak membaca permainan, melihat ruang kosong, dan memahami posisi.
Anak yang memiliki kaki kiri dominan, misalnya, dapat diarahkan untuk mengenal peran di sayap kiri atau bek kiri. Menurutnya, kemampuan teknis harus dikembangkan bersama pemahaman terhadap kebutuhan tim.
Melatih Tanpa Memungut Biaya
Membina puluhan anak tentu membutuhkan tenaga, waktu, dan perlengkapan. Bola, rompi latihan, serta fasilitas lapangan menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Namun, selama sekitar dua tahun merintis SSB All Star Nabire, Yahya tidak pernah memungut biaya latihan dari anak-anak binaannya. Tak hanya memberikan pelatihan secara gratis, ia juga menyediakan 70 jersey untuk anak-anak binaannya tanpa dipungut biaya, sebagai bentuk komitmennya dalam mendukung dan mengembangkan bakat sepak bola generasi muda di Nabire.

Ia mengandalkan dukungan yang datang secara terbatas, antara lain bantuan dari Bupati Puncak Jaya Yuni Wonda dan Bupati Nabire Mesak Magai. Bantuan tersebut, menurut Yahya, berupa fasilitas latihan dan perlengkapan seperti bola serta rompi.
Di luar aktivitasnya sebagai pelatih, Yahya menjalankan usaha koperasi simpan pinjam untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia juga mendapat dukungan dari istrinya, Theodora Wamafma, yang bersama-sama membesarkan empat anak mereka: Giovani, Raul, Junior, dan Zoey.
Dukungan keluarga menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Sebab, melatih anak-anak bukan pekerjaan yang selesai ketika peluit dibunyikan. Ada waktu yang harus disisihkan, kebutuhan yang perlu dipenuhi, dan kesabaran yang terus diuji.
Yahya menjalani semua itu dengan satu harapan: anak-anak yang datang ke lapangan memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.
Dari puluhan peserta yang berlatih, ia mulai melihat beberapa anak menunjukkan perkembangan menjanjikan. Ada sekitar empat hingga tujuh pemain yang menurut pengamatannya mulai memperlihatkan kemampuan passing dan keterampilan mengolah bola.
Meski begitu, ia tidak ingin terburu-buru menyematkan harapan besar kepada mereka. Baginya, perkembangan setiap anak membutuhkan waktu dan proses yang berbeda.
“Saya ingin mereka seperti saya, bisa tampil di televisi atau diberitakan di koran. Saya tidak minta semua menjadi pemain profesional. Kalau satu atau dua saja berhasil, saya sudah punya kepuasan tersendiri,” katanya.
Di balik semangat latihan, ada persoalan yang kerap membuat Yahya prihatin: minimnya pertandingan rutin untuk kelompok usia dini.
Ia melihat anak-anak memiliki keinginan besar untuk menguji kemampuan mereka. Namun, kesempatan bertanding belum sebanding dengan semangat tersebut.
“Kadang anak-anak protes kepada saya, ‘Kapan kami bertanding?” ujarnya sambil menceritakan pengalaman melatih.
Selama ini, pertandingan yang bisa diikuti lebih banyak berupa laga uji coba dengan kelompok lain, termasuk tim di kawasan Kalibobo. Padahal, menurutnya, kompetisi menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.
Latihan membantu anak menguasai teknik. Pertandingan mengajarkan mereka menerapkan teknik tersebut dalam situasi nyata, membaca pergerakan lawan, bekerja sama, mengelola emosi, dan menerima hasil permainan.
Yahya juga menyoroti keberadaan SSB yang menurut pengamatannya belum semuanya aktif secara berkelanjutan. Sebagian baru ramai ketika ada turnamen, kemudian kembali sepi setelah kompetisi berakhir.
Ia berharap pembinaan sepak bola usia dini di Nabire tidak berhenti pada kegiatan latihan semata. Dibutuhkan kesinambungan antara pelatih, sekolah sepak bola, orang tua, dan penyelenggara kompetisi agar anak-anak memiliki jalur perkembangan yang jelas.

Pengalaman bersama All Star Nabire menunjukkan bahwa potensi itu ada. Sejumlah pemain binaannya telah mengikuti berbagai turnamen, termasuk ajang multievent tingkat daerah dan provinsi. Pada 2025, sejumlah pemain binaannya mendapat kesempatan mewakili Kabupaten Puncak Jaya dalam kompetisi multievent tingkat Provinsi Papua Tengah. Tim kelompok usia 14 tahun yang mereka ikuti berhasil meraih juara pertama.
Capaian itu menjadi salah satu pengalaman berharga bagi anak-anak yang selama ini belajar dari latihan sederhana di lapangan.
Namun, bagi Yahya, prestasi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia ingin anak-anak terus berlatih dan mendapat kesempatan bertanding secara rutin, bukan hanya ketika sebuah turnamen diselenggarakan.
Salah satu anak yang merasakan proses pembinaan di All Star Nabire adalah Ismail Rumaropen. Remaja berusia 13 tahun yang tinggal di Sanoba Bawah, Nabire, itu telah menyukai sepak bola sejak berusia sembilan tahun.
Sebelum bergabung dengan All Star, Ismail biasa bermain bersama teman-teman sekolahnya. Ia kemudian mengetahui adanya latihan dari informasi yang beredar melalui kenalan pelatih. Saat itu, All Star masih membutuhkan tambahan peserta.
Sejak saat itu, ia mulai belajar lebih teratur. Passing, control, shooting, dan dribbling menjadi bagian dari latihan yang dijalaninya. Ia bermain di posisi sayap kanan dan mengidolakan Lamine Yamal, pemain muda yang dikaguminya karena kemampuan teknik dan permainannya.
Pertemuan pertamanya dengan Yahya masih ia ingat. Sang pelatih menyambutnya dan mengingatkan bahwa latihan membutuhkan kesungguhan. Ismail harus datang secara rutin dan mempelajari materi yang diberikan.
Bagi Ismail, teguran pelatih bukan alasan untuk menyerah. Ia justru berusaha menjadikannya dorongan untuk memperbaiki diri.
“Kalau Coach Yaso marah, saya tambah semangat. Kalau kami berbuat salah, bukan untuk dendam, tetapi kami perbaiki saat bermain bola,” tuturnya.
Pelajaran yang diterimanya tidak berhenti pada teknik permainan. Yahya juga mengingatkan anak-anak mengenai pola makan dan kebiasaan sehari-hari. Mereka diminta menjaga asupan makanan, menghindari kebiasaan merokok, dan menjalani pola hidup yang mendukung kebugaran.
Ismail bahkan mulai membagikan pengetahuannya kepada teman-teman di sekolah. Ketika ada teman yang belum memahami teknik passing, ia mencoba mengajarkan apa yang telah dipelajarinya di lapangan.
Pengalaman itu membuat Ismail memandang Yahya lebih dari sekadar pelatih.
“Bagi kami, Coach itu seperti bapak. Dia mengajar kami dan memberikan pengetahuan supaya kami pintar bermain bola,” katanya.
Ismail juga masih mengingat kunjungan Patrich Wanggai yang pernah datang menyapa anak-anak saat bermain bersama pelatih mereka. Kehadiran pemain yang mereka kenal itu menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menambah semangat untuk berlatih.
Meski memiliki cita-cita menjadi pemain sepak bola, Ismail memahami bahwa jalannya masih panjang. Ia ingin terus belajar dan meningkatkan kemampuannya sebelum berharap melangkah lebih jauh.
Di rumah, dukungan datang dari orang tuanya, Suryani Magdalena Goo. Ia mendukung minat Ismail dan kerap mengantarnya ke lapangan untuk berlatih. Jika keadaan memungkinkan, Ismail juga berjalan kaki menuju tempat latihan.
Dukungan sederhana seperti itulah yang membuat kegiatan pembinaan terus berjalan. Ada anak yang datang dengan sepatu dan perlengkapan latihan, ada pula yang harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Namun, selama kesempatan berlatih masih tersedia, mereka tetap berusaha hadir.
Pemkab Nabire Dorong Pembinaan Sepak Bola Anak melalui Kompetisi Mini
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Nabire Martina Deba, menjelaskan bahwa pemerintah daerah memiliki program pertandingan sepak bola mini bagi anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang diselenggarakan hampir setiap tahun.
Program tersebut dirancang untuk menggali potensi, mengembangkan bakat, memotivasi anak mengejar cita-cita hingga tingkat internasional, serta membangun mental bertanding sejak dini. Melalui pertandingan, anak-anak diharapkan tidak canggung ketika menghadapi lapangan dan lawan yang lebih besar.
Martina menyebutkan, agenda pertandingan sepak bola untuk tahun ini belum berjalan. Pemerintah daerah berencana mengekspos berbagai pencapaian dan kegiatan pada Desember.
Bagi pembinaan seperti yang dilakukan Yahya, keberlanjutan program dan kompetisi menjadi penting. Anak-anak membutuhkan ruang untuk mengukur perkembangan, sedangkan pelatih memerlukan kesempatan untuk melihat sejauh mana latihan mereka diterapkan dalam pertandingan.
Dari Pinggir Lapangan, Coach Yaso Menjaga Mimpi Anak-Anak Nabire
Di lapangan SMP Negeri 3 Nabire, sore itu, latihan terus berjalan. Bola berpindah dari satu kaki ke kaki lain. Ada operan yang meleset, tendangan yang belum terarah, dan pemain yang masih kesulitan membaca pergerakan lawan. Namun, mereka kembali mencoba ketika diberi kesempatan.
Yahya tetap berdiri di pinggir lapangan, mengamati dan memberi arahan. Ia tahu perjalanan menuju sepak bola profesional tidak mudah. Tidak semua anak akan menjadi pemain besar, dan tidak semua mimpi akan terwujud dengan cara yang sama.
Namun, ia percaya setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk mencoba.
Pengalaman sebagai striker yang pernah merumput bersama klub-klub nasional kini menjadi bekal yang ia bagikan kepada generasi berikutnya. Ia tidak lagi mengejar gol untuk namanya sendiri. Ia ingin anak-anak Papua memiliki peluang yang dahulu ia perjuangkan melalui seleksi, latihan, perjalanan antarkota, dan berbagai tantangan sepanjang kariernya.
Jika suatu hari satu atau dua anak binaannya tampil di panggung sepak bola nasional, Yahya mungkin akan menyaksikannya dari pinggir lapangan, seperti sore-sore ketika ia mengawasi latihan di lapangan smp 3 Nabire.
Baginya, keberhasilan itu bukan semata-mata tentang pemain yang lahir dari All Star Nabire. Lebih dari itu, ada mimpi yang berhasil dijaga, kesempatan yang tidak terputus, dan generasi muda yang pernah menemukan arah melalui sepak bola.
Sebab, bagi Yahya Sosomar, membina anak-anak bukan sekadar mengajarkan cara menendang bola. Ia sedang membantu mereka percaya bahwa masa depan dapat diperjuangkan, satu latihan, satu operan, dan satu mimpi pada satu waktu.
*Penulis: Sitti Hawa/Wartawan Aktif di Nabire.Net
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar