INFO OLAHRAGA
Home » Blog » SSB Batik Papua Gagal Ke Brazil

SSB Batik Papua Gagal Ke Brazil

Tekad serta ambisi sekolah sepak bola (SSB) Batik Papua untuk dapat tampil di Brazil harus dikubur dalam-dalam, itu setelah dalam putran Final nasional AQUA Danone Nations Cup (ADNC), tim yang bermarkas di Lapangan Tjigombong, Kotaraja gagal dalam pertandingan penyisihan grup.

Dalam putaran final yang berlangsung dua hari sejak 7-8 Juni, tampil sebagai juara sekaligus menjadi duta Indonesia ke Brazil adalah SSB Asad 313 Purwakarta berhak mengangkat trofi juara setelah mengalahkan SSB Bledeg Biru Malang pada pertandingan final di Stadion Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, Minggu (8/6/2014). Mereka menang adu penalti 2-1 setelah di waktu normal 2×10 menit tak ada gol yang tercipta.

Sedangkan SSB Batik Papua harus puas sebagai juara kunci pada babak penyisihan dengan mengemas 1 poin dari 3 kali bertanding. SSB Batik tergabung di Grup C bersama Mutiara Cempaka DKI Jakarta, Binuang Muda Kalsel serta Garuda Putra Jakarta Bekasi.

Tim asuhan Thomas Madjar pada laga perdana bermain imbang tanpa gol (0-0) ketika menghadapi SSB Mutiara Cempaka DKI Jakarta. Selanjutnya di-laga kedua dan tiga, Marko Madjar dan kawan-kawan harus menelan pil pahit kalah secara beruntu. Pertama dengan (1-0) atas SSB Garuda Putra Bekasi (Jawa Barat) dan kalah lagi (1-2) atas SSB Binuang Muda (Kalimantan Selatan).

Di grup ini dua tim yang lolos adalah SSB Binung Muda dengan mengumpulkan poin 7 dan SSB Garuda Putra dengan mengumpulkan poin 4. Buat SSB Batik keikutsertaan di-pesta sepakbola anak usia 10-12 tahun ini merupakan pertandingan yang pertama di tingkat nasional. Apalagi aturan yang di berlakukan dalam pertandingan sangat ketat dengan mengedepankan aturan sepakbola yang baik dan benar.

Kekalahan ini membuat kecewa pendudung SSB Batik Papua yang hadir dalam turnamen Aqua Danone Nations Cup di Jakarta. Kekalahan ini juga dirasakan anak-anak SSB Batik Papua yang tidak percaya kalau mereka tidak mampu lolos ke Brazil.

Pelatih SSB Batik Papua Thomas Madjar harus tertunduk dan meminta maaf kepada seluruh masyarajak Papua karena dirinya tidak mampu mengantarkan perwakilan tim Papua yang tergabung dalam tim SSB Batik Papua untuk melaju dan lolos ke ADNC di Brazil.

“Postur tubuh tim lawan yang susah di imbangi anak-anak kami. Saya sudah berusaha untuk mengimbangai dengan strategi yang saya terapkan tapi lawan lebih baik dari kami,” kata Thomas Madjar mengevaluasi.

Pelatih yang akrab dipanggil Boma itu sudah memutar otak merubah strategi di laga terakhir menghadapi SSB Binuang Muda asal Kalimantan Selatan, namun permainan dan kualitas mereka yang masih di atas Papua sehingga strategi yang diterapkan tidak berjalan maksimal.

“Orang belakang saya suruh naik menjadi gelandang dan orang geladang saya suruh menjadi striker. Karena kinerja orang depan saya dalam dua kali pertandingan tidak maksimal membuat saya harus merubah strategi yang biasa saya buat. Namun sama juga susah untuk kami menangkan pertandingan,” bebernya.

Thomas akui waktu persiapan yang mepet dibanding tim peserta lainnya ikut mempengaruhi. Waktu persiapan dan latihan yang sangat kurang karena pemain harus diperhadapkan dengan persiapan ujian sekolah di Jayapura sehingga waktu pertemuan tim untuk berlatih sangat kurang.

“Waktu pertemuan kita dengan pemain untuk mempersiapkan tim memang sedikit dan itu yang sebenarnya menjadi kendala utama kami. Beda dengan tim-tim lain yang sudah bersiap diri sejak jauh-jauh hari,” kata thomas Madjar.

Setelah belum berhasil kali ini Boma bilang “Ini merupakan pembelajaran, dan sekaligus motivasi untuk saya bersama tim dan juga pemain untuk terus membentuk dan mempersiapkan tim lebih baik lagi dari saat ini,” akunya.

Secara terpisah Ketua SSB Batik (Bhineka Tunggal Ika) Ethikamunendra menuturkan kalau pengalamanlah dan jam bertanding yang sebenarnya ingin dicapai SSB Batik dalam turnamen ini, walaupun juga prestasi ingin dikejar namun itu bukan yang utama.

“di Cibubur dan Bali pada turnamen yang pernah diikuti oleh tim SSB Batik semua itu hanya ingin membentuk mental dan kepribadian anak untuk mampu menghadapi pertandingan yang sangat tinggi intensitasnya dan mampu anak-anak ini melindungi diri,” ucapnya.

Lawan yang dihadapi juga berat, dengan melihat kualitas dan jam terbang dari tim SSB lain yang juga lolos final ADNC di Jakarta 2014 ini.

“Harapannya ke depan, anak-anak kami bisa menjadi pribadi yang baik dan bermental kuat dengan kemandirian yang melekat kuat pada diri mereka,” bebernya.

“Harapan saya ya itu, kami (SSB Batik, red) mampu melahirkan dan menciptakan pemain – pemain bola yang berkualitas dengan mental yang baik dan bermoral,” ucapnya.

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.