INFO NABIRE
Home » Blog » TPA Kaladiri Nabire Bakal Disulap Jadi TPST Modern dan Wisata Edukasi

TPA Kaladiri Nabire Bakal Disulap Jadi TPST Modern dan Wisata Edukasi

(TPA Kaladiri Nabire Bakal Disulap Jadi TPST Modern dan Wisata Edukasi)
(TPA Kaladiri Nabire Bakal Disulap Jadi TPST Modern dan Wisata Edukasi)

Nabire, Pemerintah Kabupaten Nabire, Papua Tengah, merencanakan pengembangan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kaladiri menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp30 miliar. Proyek ini dirancang untuk mengubah sistem pengelolaan sampah di Nabire menjadi lebih modern, tertata, dan berorientasi pada pengolahan sampah, sekaligus menghadirkan ruang terbuka hijau serta wisata edukasi lingkungan bagi masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire, Arfan Natan Palumpun, mengatakan peningkatan status TPA Kaladiri merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah membenahi pengelolaan sampah, seiring dengan perkembangan Nabire sebagai ibu kota Provinsi Papua Tengah.

Menurut Arfan, keberadaan TPA Kaladiri tetap dipertahankan. Pemerintah daerah akan meningkatkan fungsi kawasan tersebut agar tidak sekadar menjadi lokasi penampungan akhir sampah, tetapi juga dilengkapi fasilitas pemilahan dan pengolahan menggunakan teknologi mekanis.

“TPA Kaladiri tidak akan kami tutup, tetapi akan dialihfungsikan, dinaikkan statusnya menjadi TPST,” kata Arfan di Nabire, Selasa (20/10/2026).

TPST Kaladiri Dirancang Lebih Modern

Pengembangan TPST Kaladiri diharapkan membawa perubahan terhadap kondisi kawasan yang selama ini identik dengan tempat pembuangan sampah. Melalui pembangunan fasilitas pengolahan terpadu, sampah nantinya dapat ditangani melalui proses yang lebih terencana sesuai dengan desain teknis yang telah disiapkan.

Selain fasilitas pengolahan mekanis, kawasan tersebut direncanakan memiliki area penghijauan dan ruang bagi masyarakat untuk bersantai. Pemerintah daerah juga ingin menjadikan TPST Kaladiri sebagai sarana pembelajaran lingkungan, khususnya bagi anak-anak sekolah.

Melalui fasilitas edukasi tersebut, masyarakat diharapkan dapat memahami tahapan pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan hingga proses pengolahan yang memungkinkan sampah tertentu dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomis.

“Di sana nanti tidak seperti hari ini yang mungkin teman-teman media lihat, kotor dan tidak teratur. Itu akan menjadi satu kawasan yang nantinya juga menjadi objek wisata,” ujar Arfan.

Konsep tersebut diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap fasilitas pengolahan sampah. Kawasan TPST tidak hanya berfungsi mendukung kebersihan kota, tetapi juga menjadi tempat masyarakat mempelajari pentingnya menjaga lingkungan.

Pembangunan Membutuhkan Anggaran Rp30 Miliar

Arfan menjelaskan, kebutuhan anggaran pengembangan TPST Kaladiri diperkirakan mencapai Rp30 miliar berdasarkan rencana anggaran biaya yang telah disusun. Besarnya kebutuhan pendanaan membuat pemerintah kabupaten berharap adanya dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan pemerintah pusat.

Menurut dia, pembangunan fasilitas pengolahan sampah terpadu membutuhkan pembiayaan yang besar sehingga tidak dapat sepenuhnya mengandalkan kemampuan anggaran pemerintah kabupaten.

“Ini sebenarnya tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah Kabupaten Nabire. Kami berharap ada bantuan dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan kementerian karena infrastruktur yang dibangun membutuhkan biaya sangat besar,” katanya.

Arfan menambahkan, pengembangan TPST Kaladiri telah memiliki desain teknis atau detail engineering design (DED) yang disusun bersama kementerian terkait serta instansi pekerjaan umum di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Dokumen tersebut menjadi pedoman pembangunan, termasuk penentuan bentuk dan fasilitas utama yang akan tersedia. Karena itu, pelaksanaan pembangunan harus mengikuti perencanaan teknis yang telah ditetapkan.

Pembangunan Dimulai dari Perkantoran

Saat ini, pembangunan di kawasan TPA Kaladiri masih berada pada tahap perkantoran. Pemerintah Kabupaten Nabire telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp2 miliar untuk pembangunan kantor dan gapura.

Arfan menjelaskan, anggaran tersebut sebelumnya direncanakan untuk membenahi kolam lindi, yakni fasilitas penampungan air limbah yang berasal dari timbunan sampah. Namun, dana yang tersedia dinilai belum mencukupi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut sehingga dialihkan untuk pembangunan kantor guna mendukung pengawasan operasional TPA.

Setelah pekerjaan perkantoran, pembangunan direncanakan berlanjut ke fasilitas pendukung lainnya. Fasilitas itu meliputi pagar keliling, jembatan timbang, serta sarana pengolahan sampah sesuai dengan desain teknis.

Pemerintah daerah berharap dukungan pendanaan dari pemerintah provinsi dan pusat dapat mempercepat penyelesaian berbagai tahapan pembangunan tersebut.

Meski demikian, kebutuhan anggaran Rp30 miliar masih merupakan perkiraan berdasarkan perencanaan yang tersedia. Realisasi keseluruhan pembangunan akan bergantung pada tahapan pelaksanaan dan dukungan pendanaan yang diperoleh.

Tetap Layani Nabire dan Kawasan Pemerintahan Provinsi

Arfan menegaskan, keberadaan TPA Kaladiri tetap diperlukan meskipun Nabire kini menjadi ibu kota Provinsi Papua Tengah. Fasilitas tersebut dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan pengelolaan sampah masyarakat sekaligus mendukung aktivitas kawasan pemerintahan.

TPST Kaladiri juga direncanakan melayani sampah dari kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Papua Tengah (PIPP).

Menurut Arfan, memindahkan lokasi pembuangan sampah ke wilayah lain, seperti Lagari, bukan pilihan yang tepat apabila jaraknya terlalu jauh dan fasilitas pendukung yang dibutuhkan belum tersedia.

Karena itu, pemerintah daerah memilih meningkatkan fungsi fasilitas yang sudah ada daripada memindahkan seluruh aktivitas pengelolaan sampah ke lokasi baru.

Keputusan tersebut diharapkan dapat mendukung efisiensi pelayanan sekaligus memastikan kebutuhan pengelolaan sampah di Nabire tetap terpenuhi seiring pertumbuhan aktivitas pemerintahan dan masyarakat.

Pengelolaan Sampah Membutuhkan Partisipasi Masyarakat

Pengembangan TPST Kaladiri tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

Pemerintah daerah berharap fasilitas baru nantinya dapat mendorong kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah, mengurangi sampah yang dibuang, serta memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai ekonomis.

Kehadiran ruang edukasi lingkungan juga diharapkan membantu memperkenalkan kebiasaan menjaga kebersihan kepada generasi muda sejak dini.

Arfan menilai, keberhasilan pengembangan kawasan tersebut membutuhkan kerja sama lintas pemerintahan dan partisipasi aktif masyarakat. Dukungan pendanaan harus diikuti dengan pengelolaan fasilitas yang baik agar manfaat pembangunan dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Pemkab Nabire berharap peningkatan fungsi TPA Kaladiri menjadi TPST dapat menjadi langkah penting untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah di daerah tersebut. Dengan pembangunan fasilitas yang memadai, kawasan itu diharapkan berkembang menjadi pusat pengolahan sampah yang lebih tertata, sarana edukasi lingkungan, sekaligus ruang publik yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

[Nabire.Net/Sitti Hawa]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.