INFO NABIRE
Home » Blog » Wabup Nabire Tekankan Peran Kader Posyandu dalam Pencegahan Stunting dan HIV/AIDS

Wabup Nabire Tekankan Peran Kader Posyandu dalam Pencegahan Stunting dan HIV/AIDS

(Wabup Nabire Tekankan Peran Kader Posyandu dalam Pencegahan Stunting dan HIV/AIDS)
(Wabup Nabire Tekankan Peran Kader Posyandu dalam Pencegahan Stunting dan HIV/AIDS)

Nabire, Pemerintah Kabupaten Nabire, Papua Tengah, memperkuat peran kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dalam mencegah stunting serta meningkatkan upaya penanganan HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria. Sebanyak 297 kader dari 132 Posyandu di 15 distrik mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas untuk memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.

Kegiatan yang diselenggarakan melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Nabire tersebut berlangsung selama dua hari, 22–23 Oktober 2026, di Auditorium LPP RRI Nabire. Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Wakil Bupati Nabire, Burhanuddin Pawennari, yang mewakili Bupati Nabire, Mesak Magai, pada Kamis (22/10/2026).

Dalam sambutan Bupati yang dibacakannya, Burhanuddin menekankan bahwa kader Posyandu memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat, terutama keluarga yang membutuhkan edukasi, pendampingan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Menurutnya, kader tidak hanya bertugas mendukung kegiatan pelayanan kesehatan rutin, tetapi juga menjadi penggerak edukasi, pendamping keluarga, serta penghubung antara masyarakat dan tenaga kesehatan.

Kader Posyandu Didorong Tingkatkan Deteksi Dini

Burhanuddin meminta seluruh peserta memanfaatkan pelatihan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan edukasi kesehatan, mengenali potensi masalah kesehatan sejak dini, mendampingi keluarga, serta melaporkan temuan di lingkungan masing-masing kepada pihak terkait.

“Jadilah kader yang aktif, kader disiplin, kader yang bertanggung jawab dan mampu menjadi teladan bagi masyarakat,” demikian pesan Bupati Nabire dalam sambutan yang dibacakan Wakil Bupati.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya komitmen kader dalam menjalankan tugas secara konsisten. Peningkatan kapasitas diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi diterapkan dalam pelayanan sehari-hari di kampung dan kelurahan.

Pencegahan Stunting Dimulai dari Pendampingan Keluarga

Dalam upaya menekan risiko stunting, kader Posyandu diharapkan memperkuat pendampingan terhadap ibu hamil, bayi, balita, dan keluarga yang berisiko mengalami gangguan pertumbuhan anak.

Pendampingan tersebut perlu disertai edukasi kesehatan dan pemantauan kondisi ibu serta anak, sekaligus mendorong keluarga memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia.

Peran kader menjadi penting untuk membantu masyarakat memahami langkah-langkah pencegahan stunting dan mengenali kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.

Selain persoalan gizi dan pertumbuhan anak, kader juga diharapkan mendukung upaya pencegahan serta penanganan HIV/AIDS dan TBC melalui penyampaian informasi yang benar, dorongan untuk melakukan pemeriksaan dini, dan pendampingan kepada masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.

Burhanuddin turut mengingatkan pentingnya menghindari stigma dan diskriminasi terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS maupun pasien yang membutuhkan perawatan.

Masyarakat, menurutnya, perlu memberikan dukungan dan memperlakukan mereka secara manusiawi agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Pencegahan Malaria Perlu Dukungan Masyarakat

Dalam penanganan malaria, kader diharapkan ikut mendorong perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan lingkungan, melindungi diri dari gigitan nyamuk, serta mengarahkan warga untuk segera mencari pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada malaria.

Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan di tingkat keluarga dinilai penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit dan pentingnya pemeriksaan ketika muncul gejala.

Namun, Burhanuddin menegaskan bahwa penanganan berbagai persoalan kesehatan tersebut tidak dapat dibebankan kepada kader Posyandu semata. Dukungan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, keluarga, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan berbagai unsur lainnya tetap dibutuhkan.

Kondisi Geografis Nabire Jadi Tantangan Pelayanan

Burhanuddin menjelaskan bahwa Kabupaten Nabire memiliki karakteristik wilayah yang beragam, mulai dari kawasan pesisir dan kepulauan, perkotaan, hingga daerah pegunungan dan pedalaman.

Perbedaan kondisi geografis tersebut menuntut pendekatan pelayanan kesehatan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap wilayah. Faktor aksesibilitas, transportasi, serta kearifan lokal menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam menjangkau masyarakat.

Karena itu, kader Posyandu diminta memperkuat koordinasi dengan pemerintah kampung dan kelurahan, pemerintah distrik, Puskesmas, tenaga kesehatan, serta unsur masyarakat lainnya.

Kerja sama lintas sektor diharapkan dapat membantu mengatasi kendala pelayanan sekaligus memastikan informasi kesehatan menjangkau keluarga yang membutuhkan pendampingan.

Pelatihan Diharapkan Berdampak pada Pelayanan Kesehatan

Melalui kegiatan peningkatan kapasitas ini, Pemerintah Kabupaten Nabire berharap 297 kader Posyandu yang mengikuti pelatihan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam tugas masing-masing.

Dengan dukungan berbagai pihak, kader diharapkan dapat memperkuat edukasi kesehatan, membantu deteksi dini masalah kesehatan, serta mendorong masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan secara tepat.

Kegiatan yang berlangsung hingga 23 Oktober 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kelembagaan masyarakat di tingkat kampung dan kelurahan, khususnya dalam mendukung pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan warga.

Pemerintah Kabupaten Nabire berharap penguatan kapasitas kader Posyandu dapat berkontribusi terhadap terwujudnya masyarakat yang sehat, produktif, dan sejahtera.

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.