Pastor Yance Yogi Minta TNI-Polri Kedepankan Pendekatan Humanis dalam Penanganan Konflik Intan Jaya
Intan Jaya, 4 Juli 2026 – Pastor Yance Yogi meminta pemerintah bersama TNI dan Polri mengedepankan pendekatan humanis dalam menangani konflik bersenjata yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Menurutnya, upaya menjaga keamanan harus tetap mengutamakan keselamatan masyarakat sipil serta dilakukan melalui koordinasi dengan berbagai elemen masyarakat di daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Pastor Yance pada Sabtu (4/7/2026), menyusul situasi keamanan di Intan Jaya yang masih menjadi perhatian berbagai kalangan. Ia menegaskan bahwa perlindungan terhadap masyarakat sipil harus menjadi prioritas utama dalam setiap langkah penanganan konflik.
Pengamanan Harus Mengutamakan Keselamatan Warga
Dalam keterangannya, Pastor Yance menilai bahwa pelaksanaan operasi pengamanan tidak boleh menimbulkan dampak yang membahayakan masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik.
Ia mengingatkan agar setiap tindakan aparat keamanan selalu mempertimbangkan aspek kemanusiaan sehingga warga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan rasa aman.
Menurutnya, masyarakat sipil merupakan pihak yang paling rentan terdampak ketika konflik bersenjata terjadi. Oleh karena itu, setiap kebijakan maupun operasi keamanan harus dirancang sedemikian rupa agar tidak menambah penderitaan masyarakat.
“Pemerintah bersama TNI dan Polri perlu mengedepankan pendekatan humanis dalam menangani konflik di Intan Jaya serta mengutamakan keselamatan masyarakat sipil,” kata Pastor Yance Yogi, Sabtu (4/7/2026).
Soroti Insiden yang Menimpa Tokoh Agama
Pastor Yance juga menyinggung adanya insiden yang menimpa seorang tokoh agama dalam situasi konflik di Papua. Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
Menurutnya, keberadaan tokoh agama memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan sosial masyarakat, memberikan pendampingan rohani, sekaligus menjadi jembatan komunikasi di tengah situasi yang sulit.
Karena itu, ia meminta seluruh pihak menghormati keberadaan para pemuka agama serta memastikan mereka dapat menjalankan pelayanan kepada masyarakat tanpa rasa takut.
Ia berharap setiap pihak yang terlibat dalam upaya penyelesaian konflik turut memberikan perlindungan terhadap para tokoh agama dan tempat-tempat ibadah sebagai ruang yang aman bagi masyarakat.
Personel Diminta Memahami Kondisi Sosial Budaya Papua
Selain menyoroti aspek perlindungan warga, Pastor Yance juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap kondisi sosial dan budaya masyarakat Papua bagi setiap personel yang bertugas di lapangan.
Menurutnya, karakteristik sosial masyarakat Papua memiliki kekhasan yang perlu dipahami agar komunikasi antara aparat dan masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Ia mengatakan bahwa sebelum menjalankan tugas, personel keamanan sebaiknya membangun koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan setempat, tokoh gereja, kepala kampung, hingga para kepala suku.
Pendekatan seperti ini dinilai dapat meminimalkan kesalahpahaman sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap upaya menjaga keamanan.
“Personel yang bertugas di Papua perlu memahami kondisi sosial dan budaya masyarakat serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh gereja, kepala kampung, dan kepala suku sebelum menjalankan tugas,” ujar Pastor Yance.
Warga Sipil Bukan Sasaran Konflik
Pastor Yance menegaskan bahwa masyarakat sipil sama sekali bukan pihak yang harus menjadi sasaran dalam konflik bersenjata.
Ia secara khusus menyebut kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini menjalankan aktivitas sehari-hari, seperti mama-mama Papua yang berjualan di pasar, anak-anak yang sedang menempuh pendidikan, aparatur sipil negara (ASN), tenaga pelayanan publik, hingga para pedagang.
Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut merupakan bagian dari masyarakat yang harus mendapat perlindungan penuh sesuai prinsip-prinsip kemanusiaan.
Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dalam konflik dapat menghormati keberadaan masyarakat sipil sehingga aktivitas pendidikan, pelayanan kesehatan, perekonomian, maupun pelayanan pemerintahan tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Gereja Minta Dugaan Pelanggaran Diproses Sesuai Hukum
Mewakili Gereja Katolik dan gereja-gereja Protestan, Pastor Yance juga mendesak agar setiap dugaan pelanggaran terhadap masyarakat sipil maupun rumah ibadah diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Menurutnya, penegakan hukum yang transparan dan adil merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap proses penyelesaian konflik.
Ia menilai bahwa setiap dugaan pelanggaran perlu ditangani melalui mekanisme hukum tanpa mengabaikan asas keadilan maupun hak-hak masyarakat.
Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah munculnya persoalan serupa di kemudian hari.
Tim Penanganan Konflik Perlu Dioptimalkan
Dalam penyampaiannya, Pastor Yance mengingatkan bahwa sejak tahun 2019 Kabupaten Intan Jaya telah memiliki Tim Penanganan Konflik.
Keberadaan tim tersebut dinilai menjadi salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi antarlembaga dalam mencari solusi atas berbagai persoalan keamanan yang terjadi di wilayah tersebut.
Karena itu, ia berharap penyelesaian konflik dilakukan melalui mekanisme yang telah tersedia dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, pendekatan dialog jauh lebih efektif untuk membangun kepercayaan dibandingkan penyelesaian yang hanya mengandalkan pendekatan keamanan semata.
Perlindungan Warga Menjadi Prioritas
Situasi keamanan di Intan Jaya dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat, termasuk pelayanan pendidikan, kesehatan, kegiatan ekonomi, hingga mobilitas warga.
Berbagai pihak terus mendorong agar penyelesaian konflik dilakukan secara menyeluruh dengan mengedepankan perlindungan masyarakat sipil, penghormatan terhadap hukum, serta komunikasi yang melibatkan seluruh unsur masyarakat.
Pendekatan kolaboratif antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh adat, pemerintah kampung, dan masyarakat dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menciptakan situasi yang lebih kondusif.
Harapkan Dialog Menjadi Jalan Penyelesaian
Menutup pernyataannya, Pastor Yance berharap penyelesaian konflik di Intan Jaya dapat dilakukan melalui mekanisme yang telah ada dengan tetap mengutamakan dialog, perlindungan warga sipil, serta penegakan hukum.
Ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga keamanan dan menciptakan suasana damai sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut.
Menurutnya, perdamaian hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak mengedepankan komunikasi, saling menghormati, serta menempatkan keselamatan masyarakat sebagai kepentingan utama dalam setiap proses penyelesaian konflik.
[Nabire.Net/Marten Dogomo]


Tinggalkan Komentar