INFO NABIRE
Home » Blog » P2P Dinkes Nabire Evaluasi Capaian Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS

P2P Dinkes Nabire Evaluasi Capaian Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS

Guna mengevaluasi kembali kegiatan penanggulangan penyakit HIV/AIDS di kabupaten Nabire, Dinas Kesehatan kabupaten Nabire melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), melaksanakan pertemuan evaluasi semester, pekan lalu (18/10), bertempat di Hotel JDF Nabire.

Peserta yang hadir dalam pertemua ini berasal dari Komisi Penanggulangan AIDS Nabire, LSM Primari, Klinik Santo Rafael, serta 20 layanan konseling HIV dan 32 Puskesmas se-Nabire.

Alfret Lambey selaku penanggung jawab program HIV/AIDS di P2P Dinkes Nabire mengatakan, pertemuan ini bertujuan untuk mengevaluasi target, capaian, indikator serta kendala-kendala yang ditemukan di setiap layanan kesehatan.

Sebab dengan melihat capaian sejak tahun 2017, ada kurang lebih 14 ribu orang yang di tes dengan jumlah temuan hampir 972 kasus positif HIV dan dilayani dan ditawarkan untuk minum obat ARV.

Menurut Lambey, data terakhir secara komulatif kurang lebih 7000 kasus terdapat di Nabire. Sehingga evaluasi dipastikan untuk memilah-milah dari dari mana sumbernya berasal sehingga mengetahui pastinya kumulatif positif jumlah yang ada di Nabire.

Dikatakan, Nabire merupakan kabupaten transit dan banyak orang yang keluar masuk, artiya pasti ada muatan dari luar, jadi harus diketahui berapa kasus sebenarnya yang ada di Nabire dari 7.000 kasus yang ada.

“Kabupaten Nabire memiliki 32 puskesmas, satu RSUD, satu BKIA tetapi untuk layanan konseling tes baru terdapat 20 layanan. Sehingga jika masyarakat ingin memeriksa status HIV-nya, bisa datang di puskesmas yang ada, baik di dalam kota maupun luar kota. Selain itu, ada tujuh layanan disentralisasi AVR, yang mana pasien dapat mengambil prodak ARV dan bukan hanya di RSUD saja, tetapi bisa dilakukan tujuh layanan yang ada. Contohnya puskesmas Bumi Wonorejo,” katanya.

Lanjutnya, pihaknya mengalami kendala dalam pelayanan, sebab jika pasien hanya di Nabire, tentu layanan-layanan bisa mengontrol. tetapi kalau sudah lintas batas diluar kabupaten maka secara tidak langsung memutuskan layanan. Sehingga perlu ada kerja sama dengan beberapa daerah di Meepago seperti Dogiyai dan lainnya dalam penanganan kasus HIV/AIDS.

Sebab ada banyak tidak konsisten untuk minum ARV, bahkan putus.

“Kita bersyukur bahwa ada banyak orang sadar akan kesehatan dan telah melakukan tes tanpa ada diskriminasi. dan masih banyak yang kurang sadar dan putus tidal melanjutkan,” terangnya.

(PPN)


Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.