Menata Bandara Lama Nabire: Jalan Alternatif, Ruang Hijau dan Ruang Bersama Masyarakat
Nabire, Kawasan Bandara Lama Nabire memiliki posisi strategis dan lahan yang cukup luas untuk dikembangkan lebih dari sekadar satu fungsi. Salah satu gagasan yang layak dikaji adalah membuka jalan alternatif dari jalan di samping DPPU Paniai menuju Kota Lama, sehingga dapat membantu membagi arus kendaraan dan mengurangi ketergantungan terhadap koridor Jalan Pantai Nabire.
Pada saat yang sama, kawasan Bandara Lama berpotensi ditata sebagai ruang terbuka hijau, alun-alun atau ruang publik kota, kawasan olahraga, area UMKM dan pasar malam, serta tempat berbagai kegiatan masyarakat.
Apabila Pemerintah Provinsi Papua Tengah maupun Pemerintah Kabupaten Nabire telah memiliki rencana lain untuk kawasan tersebut, berbagai kebutuhan itu justru dapat diselaraskan dalam satu masterplan terpadu, dengan prinsip pemanfaatan ruang sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.
Jalan Alternatif untuk Mengurai Kemacetan
Pertumbuhan aktivitas Kota Nabire membawa konsekuensi meningkatnya pergerakan kendaraan. Salah satu persoalan yang perlu mulai dipikirkan adalah kepadatan pada koridor Jalan Pantai Nabire, terutama ketika masyarakat hanya mempunyai sedikit pilihan jalur untuk berpindah dari kawasan timur menuju Kota Lama maupun sebaliknya.
Salah satu alternatif yang layak dikaji adalah membuka jalan baru dari jalan di samping DPPU Paniai, melintasi kawasan Bandara Lama, kemudian menghubungkannya menuju jaringan jalan di Kota Lama Nabire.
Jalan tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan Jalan Pantai. Fungsinya justru sebagai jalur pengurai, sehingga kendaraan mempunyai pilihan dan beban lalu lintas tidak terkonsentrasi pada satu ruas.
Trase yang ditampilkan dalam ilustrasi tentu masih berupa gagasan awal, bukan trase teknis maupun rencana resmi. Realisasinya memerlukan kajian mengenai status dan fungsi lahan, jaringan jalan, drainase, keselamatan, lingkungan, serta analisis lalu lintas.
Bandara Lama Jangan Hanya Dilihat sebagai Lahan untuk Dibangun
Saat ini kawasan Bandara Lama digunakan sebagai Kantor Sementara Gubernur Papua Tengah dan telah menjadi lokasi berbagai kegiatan pemerintahan maupun masyarakat.
Ke depan, nilai kawasan ini akan semakin besar apabila direncanakan secara menyeluruh.
Lahan terbuka yang luas di tengah kota semakin sulit ditemukan. Karena itu, jangan sampai seluruh kawasan secara bertahap dipenuhi bangunan tanpa menyisakan ruang publik yang memadai.

Sebagian kawasan dapat dipertahankan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) berupa taman, pepohonan, jalur pedestrian dan jogging track. Bagian lainnya dapat dikembangkan menjadi kawasan olahraga, lapangan terbuka, taman bermain anak serta ruang rekreasi keluarga.
Ruang yang luas juga potensial digunakan untuk pasar malam, festival budaya, pameran UMKM, konser, kegiatan komunitas, perayaan hari besar, serta berbagai event masyarakat dan pemerintah.
Dengan demikian, kawasan tetap produktif tanpa harus seluruhnya berubah menjadi bangunan permanen.
Nabire Juga Membutuhkan Alun-Alun
Ada kebutuhan sebuah kota yang terkadang tidak terlihat seperti kebutuhan infrastruktur dasar, tetapi sangat penting bagi kehidupan perkotaan: ruang bersama masyarakat.
Bukan berarti setiap kota secara hukum wajib memiliki alun-alun dalam bentuk tertentu. Namun secara fungsi, kota membutuhkan public space atau civic space tempat masyarakat dapat bertemu, berinteraksi, berekreasi dan berkegiatan tanpa harus selalu masuk ke ruang komersial.
Bandara Lama mempunyai peluang besar menjalankan fungsi tersebut.

Nabire dapat memiliki alun-alun dengan karakter Papua Tengah sendiri: ruang hijau, lapangan terbuka, fasilitas olahraga, panggung budaya, ruang UMKM, taman keluarga dan ruang berkumpul masyarakat.
Alun-alun bukan sekadar lapangan kosong. Ia dapat menjadi jantung kehidupan sosial sekaligus identitas sebuah kota.
Satu Kawasan, Banyak Fungsi
Gagasan jalan alternatif, RTH ataupun alun-alun tentu bukan berarti menutup kemungkinan adanya rencana lain.
Apabila Pemerintah Provinsi Papua Tengah telah mempunyai rencana pemanfaatan kawasan Bandara Lama, atau Pemerintah Kabupaten Nabire mempunyai kebutuhan pembangunan lainnya, seluruh rencana tersebut dapat dikoordinasikan dan diselaraskan.
Justru karena kawasan Bandara Lama cukup luas, berbagai fungsi berpotensi ditempatkan bersama melalui pembagian zona yang baik.
Ada ruang untuk fasilitas pemerintahan apabila diperlukan. Ada ruang untuk jalan alternatif. Ada ruang hijau, olahraga dan rekreasi. Ada ruang untuk UMKM dan event. Dan yang tidak kalah penting, tetap tersedia ruang publik yang dapat dinikmati masyarakat secara luas.
Karena itu, sebelum kawasan berkembang secara parsial, akan jauh lebih baik apabila Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten Nabire bersama seluruh komponen terkait menyusun masterplan kawasan Bandara Lama.
Masyarakat, tokoh adat, akademisi, komunitas, pemuda, pelaku usaha dan UMKM juga dapat dilibatkan sehingga kebutuhan berbagai pihak dapat dipertemukan dalam satu perencanaan jangka panjang.
Jangan Kehilangan Kesempatan
Kawasan luas di tengah kota merupakan aset yang nilainya akan semakin tinggi seiring perkembangan Nabire.
Jika ruang tersebut sejak awal terfragmentasi oleh pembangunan yang berjalan sendiri-sendiri, menyatukannya kembali menjadi kawasan terpadu di kemudian hari akan jauh lebih sulit dan mahal.
Karena itu, pertanyaannya sebaiknya bukan hanya:
“Bandara Lama mau dibangun apa?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Bagaimana kawasan Bandara Lama dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Nabire untuk puluhan tahun ke depan?”
Jalan alternatif dapat meningkatkan konektivitas. RTH menjaga ruang hijau kota. Kawasan olahraga mendukung aktivitas masyarakat. Pasar malam dan UMKM menggerakkan ekonomi rakyat. Ruang event menghidupkan kegiatan sosial dan budaya. Sementara alun-alun memberikan Nabire ruang bersama sekaligus identitas kota.
Semua fungsi tersebut tidak harus saling meniadakan.
Bandara Lama terlalu luas dan strategis apabila hanya dipandang untuk satu fungsi.
Yang dibutuhkan adalah perencanaan bersama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan masyarakat agar pemanfaatannya memberikan manfaat seluas-luasnya bagi kepentingan publik.
Dari bekas bandara, kawasan ini berpeluang bertransformasi menjadi salah satu jantung baru Kota Nabire—lebih terhubung, lebih hijau, lebih hidup, sekaligus menjadi ruang yang dapat dinikmati bersama oleh masyarakat hari ini dan generasi yang akan datang.
Opini: Wendy Eko Suswinarko
Pegiat Energi Hijau Terbarukan
Sekretaris IJTI Papua Tengah
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar