Matahari Sore di Nabire Berubah Merah, BMKG Ungkap Penyebabnya
Nabire, Matahari sore di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, tampak berbeda dari biasanya pada Jumat (21/8/2026). Warna merah-oranye terlihat cukup mencolok saat matahari mulai turun di ufuk barat.
Fenomena tersebut menjadi perhatian warga karena langit Nabire saat itu terlihat berkabut dan diselimuti asap. Sejumlah warga bahkan mengabadikan pemandangan matahari kemerahan tersebut menggunakan kamera telepon seluler.
Warga Nabire, Martinus, mengatakan perubahan warna matahari menjadi pemandangan yang menarik perhatian masyarakat.
Menurut dia, warna merah pada matahari terlihat semakin jelas ketika posisinya mulai rendah menjelang sore. Meski demikian, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk memperhatikan kualitas udara apabila kabut asap berasal dari kebakaran yang masih berlangsung.
Sementara itu, Forecaster BMKG Nabire, Eusebio, menjelaskan bahwa warna merah yang terlihat pada matahari berkaitan dengan keberadaan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Jika dilihat dari citra peta hotspot, sebagian besar wilayah Nabire sudah tertutup asap,” kata Eusebio.
Secara ilmiah, perubahan warna tersebut terjadi ketika cahaya matahari melewati atmosfer yang mengandung banyak partikel asap. Saat matahari berada rendah di langit, cahaya harus menempuh jalur atmosfer yang lebih panjang.
Dikatakan Eusebio, cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru dan ungu lebih mudah mengalami hamburan oleh partikel di atmosfer. Sebaliknya, warna dengan panjang gelombang lebih panjang, terutama merah dan jingga, relatif lebih mampu menembus lapisan tersebut hingga mencapai mata pengamat.
Kondisi inilah yang membuat matahari terlihat seperti bola berwarna merah atau jingga.
Fenomena tersebut bukan berarti matahari berubah warna secara fisik. Perubahan yang terlihat merupakan efek interaksi cahaya matahari dengan atmosfer yang dipenuhi partikel.
Masyarakat Nabire diimbau tetap waspada terhadap kondisi udara, terutama apabila kabut asap semakin tebal atau menimbulkan gangguan pernapasan. Perkembangan kondisi cuaca, hotspot, dan kualitas udara dapat terus dipantau melalui informasi resmi BMKG.
[Nabire.Net/Marten Dogomo]





Tinggalkan Komentar