Freeport Bekali 200 Mahasiswa UNCEN dengan Wawasan Industri Pertambangan
Jayapura, Sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (UNCEN) mendapatkan kesempatan mempelajari teknologi pertambangan modern, pengelolaan risiko operasional, hingga strategi membangun hubungan dengan masyarakat melalui program Eksekutif Mengajar PT Freeport Indonesia (PTFI).
Program ini menghadirkan jajaran eksekutif PTFI untuk membagikan pengalaman profesional dan pengetahuan praktis kepada mahasiswa. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pembelajaran akademik dengan kebutuhan dunia industri, khususnya sektor pertambangan yang terus berkembang melalui pemanfaatan teknologi.
Penyelenggaraan kedua Eksekutif Mengajar berlangsung di Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN, Jayapura, Papua. Dua narasumber yang hadir ialah Senior Vice President Operations Maintenance PTFI Ayep Dirmawan dan Vice President Community Relations Engel Enoch.
Mahasiswa tidak hanya memperoleh gambaran mengenai operasional pertambangan, tetapi juga memahami pentingnya kompetensi teknis, kemampuan menganalisis risiko, serta keterampilan komunikasi dalam menghadapi tantangan dunia kerja.
Teknologi Mengubah Pengelolaan Operasi Pertambangan
Dalam pemaparannya, Ayep Dirmawan menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pendekatan pemeliharaan peralatan di industri pertambangan. Pengelolaan pemeliharaan kini tidak lagi sekadar mengandalkan perbaikan setelah kerusakan terjadi.

Melalui analisis data, perusahaan dapat menerapkan preventive maintenance atau pemeliharaan preventif serta predictive maintenance atau pemeliharaan prediktif. Kedua pendekatan tersebut membantu mengidentifikasi potensi gangguan lebih awal sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum kerusakan menghambat operasional.
Ayep menegaskan, pemanfaatan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan manusia dalam membaca informasi dan menentukan langkah yang tepat.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana memperbaiki peralatan yang rusak, tetapi bagaimana kita mampu memprediksi risiko sebelum gangguan terjadi. Teknologi membantu pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat, namun manusia yang mengelolanya tetap menjadi faktor terpenting,” kata Ayep.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa bahwa kompetensi di sektor pertambangan tidak terbatas pada penguasaan teori teknis. Kemampuan menganalisis data, memahami risiko, dan mengambil keputusan juga menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan operasional.
Mahasiswa Perlu Memahami Aspek Sosial Industri Tambang
Selain teknologi dan operasional, program Eksekutif Mengajar turut membahas pentingnya hubungan antara perusahaan, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
Vice President Community Relations PTFI Engel Enoch mengajak mahasiswa memahami bahwa kegiatan pertambangan memiliki dimensi sosial yang perlu dikelola melalui komunikasi, kepercayaan, dan kolaborasi.

Ia menekankan bahwa membangun trust dan berkolaborasi erat dengan masyarakat merupakan fondasi untuk menjaga License to Operate serta keberlanjutan operasi
perusahaan)
Menurut Engel, kemampuan mendengarkan, memahami perspektif yang berbeda, serta mengenali konteks sosial dan budaya merupakan keterampilan penting, terutama ketika perusahaan menjalankan kegiatan usaha di Papua yang memiliki keberagaman masyarakat dan budaya.
“Diplomasi bukan semata kemampuan berbicara atau bernegosiasi. Ketika kepercayaan terbangun, dialog dapat tumbuh, perbedaan dapat dikelola, dan kolaborasi mempunyai ruang untuk berkembang,” ujar Engel.
Pembahasan ini memperluas pemahaman mahasiswa mengenai dunia pertambangan. Selain kemampuan teknis, calon tenaga profesional juga perlu memiliki keterampilan interpersonal untuk membangun hubungan yang baik dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait.
Mahasiswa Mendapat Gambaran Dunia Kerja
Salah seorang peserta, Isabella Waicang, mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan UNCEN, menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang bermanfaat karena mahasiswa dapat melihat hubungan antara teori perkuliahan dan penerapannya di industri.

Menurut Isabella, pembelajaran langsung dari praktisi memberikan pemahaman mengenai cara berpikir dan kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki dunia profesional.
Ia menyampaikan pandangan tersebut setelah mengikuti kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 15 September 2026.
Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNCEN, Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si., menilai program Eksekutif Mengajar sebagai kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan di luar pembelajaran reguler.
Saat membuka acara, Septinus berharap mahasiswa Fakultas Teknik memanfaatkan kesempatan berdialog dan belajar langsung dari para eksekutif PTFI sebagai bekal menghadapi dunia kerja.
Eksekutif Mengajar Berlangsung Dua Kali pada 2026
Program Eksekutif Mengajar merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang mempertemukan lingkungan perguruan tinggi dengan pengalaman praktis dunia industri.
Sebelum kegiatan kedua ini, PTFI telah menyelenggarakan program serupa di Kampus UNCEN pada 29 April 2026. Kegiatan pertama tersebut menghadirkan Vice President Mining Safety Division PTFI Eman Widijanto dan Vice President Corporate Communication PTFI Katri Krisnati.

Penyelenggaraan kedua dengan peserta sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Teknik kembali membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami tantangan industri pertambangan dari berbagai perspektif.
Melalui pembelajaran langsung dari praktisi, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai teknologi, keselamatan dan pengelolaan risiko, serta hubungan sosial dalam industri pertambangan.
Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal tambahan bagi mahasiswa UNCEN untuk mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja sekaligus memahami kompleksitas industri pertambangan di Papua.
[Nabire.Net]





Oap cerdas
tutup Freeport…..
tutup blok wabuuu
merdekaaaa….tarik militer….
g sadar kl beasiswa pendidikan dr pemerintah dan Freeport…..
harusnya berfikir…apakah sebby sambom ada kasi Kam uang pendidikan kah?