Lanud Silas Papare & Balai Arkeologi Papua Diharapkan Bisa Melakukan Penelitian Peninggalan Perang Dunia II

Jayapura – Komandan Lanud Silas Papare Jayapura, Marsma TNI Budhi Achmadi di Sentani, Rabu (02/09) mengatakan bahwa pada Perang Dunia II atau Perang Pasifik, Jayapura atau Hollandia pada waktu itu bernilai penting bagi Sekutu dan Jepang.
Wilayah ini menjadi ajang perebutan antara Jepang serta Sekutu. Jepang menguasai Hollandia kemudian membuat tiga lapangan terbang di Sentani, setelah itu Jepang dikalahkan oleh Sekutu, lapangan terbang ini kemudian dikuasai oleh Sekutu dan diperpanjang dan diperluas.
Pada waktu itu ada pasukan Sekutu berjumlah 250 ribu yang mendarat di Jayapura, bertempur melawan pasukan Jepang yang berjumlah 11 ribu. Pasukan Sekutu yang berjumlah 250 ribu ini sama saja dengan jumlah pasukan TNI di seluruh Indonesia saat ini.
Hal yang menarik adalah Jayapura, pada Perang Dunia II menjadi salah satu titik penentu kemenangan Amerika mengalahkan Jepang, sehingga dipilih oleh Jenderal Douglas Mac Arthur sebagai markas besarnya. Dari Ifar Gunung Sentani, Mac Arthur merencanakan serangan balik ke Filipina dengan strategi lompat katak.
TNI AU terutama Lanud Silas Papare berusaha berkontribusi menyumbangkan pemikiran dalam bentuk buku tentang Sejarah Lanud Silas Papare dan Perang Dunia II di Papua. Buku ini disusun bekerjasama dengan Balai Arkeologi Papua.
Sejarah Perang Dunia II di Jayapura harus ditulis agar tidak hilang begitu saja, selain itu bukti-bukti seperti dokumentasi foto lama harus direproduksi ulang dalam bentuk digital, karena gambar foto cetak mudah rusak.
Sejarah telah membuktikan bahwa lapangan terbang Sentani sudah dikenal di internasional, lapangan terbang ini dibangun Jepang kemudian dilanjutkan pembangunannya oleh Amerika kemudian oleh pemerintah Belanda dan selanjutnya oleh Pemerintah Indonesia.
Kedepannya, Bandara Sentani berpotensi untuk dikembangkan sebagai bandara hub internasional yang menghubungkan negara-negara Pasifik.
Diharapkan, Lanud Silas Papare dan Balai Arkeologi Papua bekerjasama melakukan penelitian peninggalan Perang Dunia II, hasilnya seperti Indiana Jones, menemukan sesuatu data baru yang spektakuler.
Gusti Made Sudarmika, selaku Kepala Balai Arkeologi Papua sangat mengapresiasi kerjasama penulisan buku sejarah dengan Lanud Silas Papare Jayapura. Hasil penelitian Balai Arkeologi Papua memang harus dipublikasikan untuk umum, tidak hanya untuk peneliti dan akademisi saja.
Salah satu publikasi ini dalam bentuk buku. Masyarakat pada umumnya, guru, dan siswa harus tahu tentang peninggalan sejarah di daerahnya. Balai Arkeologi Papua tidak bisa sendiri melakukan penelitian, jadi perlu dukungan berbagai pihak, agar data yang didapatkan semakin lengkap dan komprehensif.
Tidak hanya buku saja sebagai output penelitian tetapi diharapkan juga ada film dokumenter yang pengambilan gambar video serta pengeditan akan melibatkan teman-teman jurnalis sehingga enak ditonton oleh masyarakat berbagai kalangan.
Hari Suroto, selaku koordinator peneliti Balai Arkeologi Papua menambahkan, peninggalan Perang Dunia II di Jayapura harus diteliti, dilestarikan dan dikembangkan sebagai destinasi pendidikan maupun destinasi wisata sejarah.
Wisatawan dari luar negeri juga tertarik dengan peninggalan Perang Dunia II di Jayapura, wisatawan ini berasal dari negara-negara yang pada waktu Perang Dunia II tergabung dalam Sekutu melawan Jepang, yaitu Amerika Serikat, Australia, Inggris dan Belanda. Selain itu dalam setiap tahunnya ada wisatawan Jepang yang napak tilas kakek atau orang tua mereka yang gugur dalam pertempuran di Papua.
[Nabire.Net/Hari Suroto]
Tinggalkan Komentar