KO’SAPA Perkuat Gerakan Sastra Papua, Hidupkan Kembali Spirit Mambesak Lewat Kaderisasi dan Literasi Budaya
Nabire, Komunitas Sastra Papua (KO’SAPA) memperkuat komitmennya dalam menjaga keberlangsungan sastra, literasi, dan kebudayaan Papua melalui konsolidasi organisasi sekaligus peringatan Hari Lahir Mambesak ke-48. Organisasi ini menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui kaderisasi generasi muda, pendokumentasian budaya, hingga pengembangan jaringan sastra di tingkat nasional maupun internasional.
Konsolidasi internal yang dilaksanakan pada 24 Juli 2026 menghasilkan berbagai keputusan penting untuk memperkuat arah gerakan KO’SAPA. Fokus utama organisasi diarahkan pada pembinaan anak-anak muda Papua agar aktif dalam bidang sastra, literasi, penelitian, dan kebudayaan.
Dalam forum tersebut, Mecky Tebai dipercaya sebagai Koordinator Umum. Musa Boma dan Hengky Yeimo ditetapkan sebagai sekretaris, sementara posisi bendahara dipercayakan kepada Theresia Tekege.

Selain menyusun struktur kepengurusan baru, KO’SAPA juga membentuk koordinator wilayah berdasarkan tujuh wilayah adat Papua. Langkah ini diharapkan mampu memperluas jangkauan gerakan budaya hingga ke berbagai daerah.
Organisasi tersebut turut menetapkan delapan bidang kerja yang meliputi penelitian, penerbitan, pengembangan sumber daya manusia, media, literasi, diplomasi kebudayaan, hingga penguatan jejaring komunitas.
Terinspirasi Warisan Arnold C. Ap
Mantan Koordinator KO’SAPA, Hengky Yeimo, mengatakan perjalanan komunitas sastra tersebut berangkat dari semangat yang pernah dibangun almarhum Arnold C. Ap dalam menjaga identitas budaya Papua.
Menurutnya, Arnold Ap telah memberikan teladan melalui upaya mendokumentasikan cerita rakyat, bahasa daerah, lagu-lagu tradisional, hingga berbagai bentuk sastra lisan yang hidup di tengah masyarakat Papua.
“Komunitas Sastra Papua adalah manifestasi dari pemikiran besar Arnold Ap terkait sastra. Apa yang beliau lakukan melalui pendokumentasian cerita rakyat, bahasa daerah, nyanyian rakyat, hingga pewarisan budaya menjadi pekerjaan utama kami,” ujar Hengky.
Ia menegaskan bahwa sastra tidak boleh hanya dipandang sebagai peninggalan sejarah, tetapi harus tetap hidup dan berkembang bersama masyarakat.
“Sasapa Kusasapa”, Menyapa Masyarakat untuk Mendokumentasikan Budaya
Semangat tersebut diwujudkan melalui slogan “Sasapa Kusasapa”, sebuah ajakan untuk saling menyapa sesama orang Papua sekaligus turun langsung ke kampung-kampung guna menggali, mencatat, dan mendokumentasikan kekayaan budaya yang masih diwariskan secara turun-temurun.
Pendekatan ini dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama pelestarian budaya, bukan sekadar objek penelitian.
Melalui cara tersebut, KO’SAPA berharap berbagai cerita rakyat, mitos, legenda, bahasa daerah, syair adat, hingga lagu-lagu tradisional dapat terdokumentasi secara lebih baik sebelum tergerus perkembangan zaman.
Program Kerja Fokus pada Literasi dan Kaderisasi
Dalam upaya memperkuat gerakan literasi, KO’SAPA telah menyiapkan sejumlah program yang akan dijalankan secara bertahap.
Program tersebut meliputi diskusi rutin, pelatihan menulis, panggung budaya, penerbitan buku, Festival Literasi Papua, Kongres Pendidikan dan Sastra Papua, hingga memperluas kerja sama dengan komunitas sastra di Indonesia maupun luar negeri.
Hengky menilai kaderisasi menjadi faktor penting agar estafet sastra Papua tidak terputus.
Ia mengajak masyarakat Papua untuk tidak hanya menikmati hasil kebudayaan, tetapi juga terlibat aktif melalui kegiatan membaca, menulis, meneliti, berdiskusi, bernyanyi, bertutur, serta mendokumentasikan kekayaan budaya daerah masing-masing.
“DO MI DOU”, Merawat Sastra dari Karya Sendiri
KO’SAPA juga memperkenalkan seruan “DO MI DOU (Segera Datang Lihat): Membiasakan, Merawat, dan Menumbuhkan Sastra Papua dari Keringat Sendiri.”
Bagi komunitas tersebut, sastra Papua merupakan identitas yang lahir dari ratusan suku dan bahasa yang tersebar di Tanah Papua.
Karena itu, berbagai bentuk sastra seperti dongeng, legenda, cerita lisan, lagu rakyat, hingga syair adat harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Sastra Papua tidak boleh berhenti pada nostalgia. Sastra harus hidup di tengah masyarakat.”

Hengky menambahkan bahwa karya budaya hanya dapat bertahan apabila masyarakat sendiri memiliki kesadaran untuk terus menulis, menyanyikan, mempertunjukkan, dan mewariskannya.
Menurutnya, dari karya yang lahir melalui usaha masyarakat akan tumbuh peradaban yang menjaga identitas Papua di masa depan.
Hari Lahir Mambesak ke-48 Dirayakan Lewat Berbagai Kegiatan Budaya
Semangat tersebut diwujudkan dalam peringatan Hari Lahir Mambesak ke-48 yang digelar melalui kolaborasi KO’SAPA, Rumah Inspirasi Kebadabi, dan RJB (Merdeka dari Kompleks) di Mapiduba, Nabire.
Mengangkat tema “Mambesak: Merdeka dalam Nada, Merdeka dalam Kata,” rangkaian kegiatan menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan budaya yang dirintis Arnold C. Ap bersama kelompok Mambesak sejak 5 Agustus 1978.
Pra-peringatan berlangsung pada 4 Agustus 2026 melalui lomba menggambar bagi anak-anak.
Sementara acara puncak pada 5 Agustus menghadirkan pembagian bingkisan untuk anak-anak, diskusi bertajuk Musik Akustik dan Musik AI, pertunjukan vokal grup, musikalisasi puisi, pembacaan karya sastra, hingga penampilan lagu-lagu rakyat Papua yang diaransemen kembali.
Momentum tersebut juga menjadi penghormatan kepada almarhum Rikex Nhfod, musisi Papua yang dikenal aktif berkarya.
Musisi Anes Yeimo atau King of Blvck turut mempersembahkan Mixtape Mambesak sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menghidupkan kembali semangat musik Papua di kalangan generasi muda.
Sastra, Budaya, dan Alam Papua Tidak Bisa Dipisahkan
KO’SAPA menilai bahwa pelestarian budaya Papua memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan lingkungan hidup.
Tanah, hutan, sungai, bahasa, dan ruang hidup masyarakat merupakan sumber lahirnya cerita, lagu, maupun tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Karena itu, kerusakan lingkungan juga berpotensi menghilangkan sebagian identitas budaya yang hidup bersama masyarakat adat.
Hengky menegaskan bahwa semangat Mambesak menjadi pengingat agar masyarakat terus menjaga budaya dari berbagai bentuk eksploitasi serta memperkuat kesadaran generasi muda terhadap identitas Papua.
Mengajak Semua Pihak Terlibat
KO’SAPA mengajak pemerintah, akademisi, gereja, komunitas, pelajar, mahasiswa, pegiat seni, hingga masyarakat luas untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan sastra Papua.
Menurut organisasi tersebut, pelestarian budaya memerlukan kerja jangka panjang melalui dokumentasi, pendidikan, penelitian, penerbitan, pertunjukan seni, serta kaderisasi generasi muda.
Dengan semangat “DO MI DOU”, KO’SAPA berharap Mambesak tidak hanya dikenang sebagai kelompok musik legendaris, tetapi juga sebagai simbol gerakan kebudayaan yang terus menginspirasi masyarakat Papua untuk mencintai bahasa, sastra, sejarah, musik, dan identitas budayanya.
[Nabire.Net/Musa Boma]





Tinggalkan Komentar