Berawal dari Kegelisahan, Kini 11 Rumah Belajar Hadir untuk Ratusan Anak Papua
Nabire, Pukul lima sore, langit di atas Waharia mulai berubah warna. Jingga bercampur ungu muda menyeruak dari balik pegunungan, menembus celah seng dan papan rumah-rumah panggung. Bau tanah basah bekas hujan siang tadi masih menggantung di udara, bercampur asap tipis dari tungku kayu bakar tetangga yang sedang menanak nasi untuk makan malam.
Dari sebuah rumah sederhana berdinding papan, terdengar suara riuh yang tidak biasa untuk jam segini.
“A… B… C…”
Suara itu berlapis-lapis. Ada yang mengeja lantang, hampir berteriak, seolah ingin memastikan seluruh kampung mendengar bahwa ia bisa. Ada pula yang berbisik pelan, ragu, seperti takut salah. Di sudut ruangan yang hanya diterangi dua lampu bohlam, seorang anak laki-laki—tubuhnya sudah sebesar orang dewasa—menggenggam pensil dengan canggung. Berkali-kali ia menghapus tulisannya sendiri, dan setiap kali penghapus itu bergesek di kertas, terdengar bunyi gerasak kecil yang seolah menjadi irama tersendiri di ruangan itu.
Tak jauh darinya, seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun duduk bersila di atas tikar plastik. Tangannya yang biasa memikul air dan menumbuk sagu kini gemetar memegang pensil kayu. Sesekali ia tersenyum malu ketika hurufnya melenceng dari garis. Tidak ada yang menertawakannya. Yang ada hanya anggukan pelan dari seorang perempuan berjilbab di depan kelas, yang tersenyum sabar sambil berkata lirih, “Coba lagi, pasti bisa.”

Perempuan itu adalah Nasda Damis. Di sampingnya, seorang perempuan lain dengan rambut diikat sederhana, mata yang tak lepas mengawasi satu per satu anak di ruangan itu—Natalia. Dua nama yang, bagi ratusan anak Papua di sekitar Nabire, telah menjadi sinonim dari kata “kesempatan”.
Kegelisahan yang Tidak Bisa Didiamkan
Ruang belajar itu tidak berdiri di atas gedung megah. Tidak ada AC yang mendesing, tidak ada meja kayu berpernis, tidak ada papan tulis putih yang berkilau. Yang ada hanyalah lantai semen dingin, beberapa buku tulis lusuh yang halamannya sudah menggulung di ujung, dan bau khas kapur tulis yang menempel di jari-jari kecil.
Namun dari sinilah semuanya bermula.
Natalia, lulusan ilmu komputer, sesungguhnya punya jalan lain yang jauh lebih mulus. Ia bisa saja duduk di depan layar komputer di sebuah kantor berpendingin ruangan, menekuni dunia digital yang telah ia pelajari bertahun-tahun di bangku kuliah. Tapi setiap kali ia melintasi kampung dan melihat anak-anak berlarian tanpa arah di siang hari—padahal seharusnya mereka duduk di bangku sekolah—ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

Ia mendengar cerita tentang remaja usia 15 sampai 16 tahun yang masih tertatih mengeja namanya sendiri. Ia mendengar tentang orang dewasa berusia sekitar tiga puluh tahun yang seumur hidupnya belum pernah menginjak ruang kelas. Cerita itu bukan datang dari satu kampung saja. Dari pesisir yang berbau garam dan ikan asin, hingga pegunungan yang dingin menusuk tulang, kenyataan yang sama terus berulang.
Di titik itulah ia bertemu Nasda Damis, lulusan manajemen yang menyimpan kegelisahan serupa. Pertemuan dua perempuan ini bukan sekadar perkenalan biasa. Ia menjadi percikan yang menyalakan sesuatu yang lebih besar.
“Saya sempat berpikir, buat apa ilmu yang saya pelajari bertahun-tahun kalau di sekitar saya masih banyak anak yang bahkan belum mengenal huruf,” kata Natalia.
Tanpa banyak berhitung untung rugi, tanpa proposal tebal atau rapat panjang, keduanya sepakat membuka satu rumah belajar sederhana di Waharia. Dari situlah benih Yayasan Honai Papua Permai tumbuh, hingga akhirnya berbadan hukum resmi di bawah Kementerian Hukum dan HAM. Bagi kebanyakan orang, akta itu hanya selembar kertas administratif. Bagi Natalia dan Nasda, ia adalah pintu—pintu untuk menjangkau lebih banyak anak yang selama ini luput dari perhatian.
Sebelas Rumah, Empat Ratus Wajah
Kabar tentang rumah belajar itu menyebar seperti bau masakan yang tercium dari dapur tetangga—perlahan, tapi pasti mengundang orang untuk datang. Dari mulut ke mulut, dari satu kampung ke kampung lain. Anak-anak mulai berdatangan dengan kaki telanjang dan tas plastik berisi buku tulis yang sudah menggulung sudutnya. Orang tua menitipkan harapan yang selama ini mereka simpan sendiri. Relawan-relawan baru muncul, menawarkan waktu dan tenaga mereka tanpa diminta.
Kini, sebelas rumah belajar telah berdiri: Waharia, Air Mandidi, Sanoba Dalam, Sanoba Bawah, Kali Mangga, Denzipur, Karang Tumaritis, Kampung Harapan, Kalibobo, Waroki, dan Kali Harapan. Sekitar empat ratus anak—dari suku pesisir hingga pegunungan—duduk berdesakan di ruang-ruang sempit itu setiap minggunya.
Sebagian baru mengenal bentuk huruf. Sebagian mulai berani mengeja. Sebagian lagi belajar menghitung dengan jari-jari yang masih kaku memegang pensil. Ada yang datang dengan kepala tertunduk, malu karena tubuhnya sudah lebih besar dari teman-teman sekelasnya. Tapi di ruang-ruang itu, rasa malu perlahan luruh oleh tepuk tangan—tepuk tangan spontan setiap kali seseorang berhasil membaca satu kalimat penuh untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Suara tepuk tangan itu sederhana. Tapi bagi yang pernah mendengarnya langsung, bunyi itu terasa seperti letupan kecil kegembiraan yang menembus dada.
“Setiap kali ada anak yang berhasil membaca satu kalimat penuh untuk pertama kalinya, rasanya semua lelah kami terbayar. Itu yang membuat kami terus jalan sampai sekarang,” ujar Natalia.
Ongkos yang Dibayar dengan Diam-Diam
Fondasi rumah-rumah belajar ini bukan dana besar, bukan pula bangunan megah. Fondasinya adalah ketulusan yang nyaris tak terlihat.
Sebagian besar pengajar adalah ibu rumah tangga—perempuan yang siang harinya sibuk memasak, mencuci, mengurus anak sendiri, lalu di sore hari berjalan kaki atau menumpang motor menuju rumah belajar. Banyak dari mereka sudah terbiasa mengajar di Sekolah Minggu gereja. Tidak ada gaji yang menanti di ujung bulan. Yang ada hanya keyakinan sederhana bahwa setiap anak layak mendapat kesempatan.
Mereka mengeluarkan ongkos bensin dari kantong sendiri. Mereka membeli pulsa untuk saling mengabari jadwal mengajar, uangnya diambil dari sisa belanja dapur yang sebenarnya sudah pas-pasan. Tak jarang mereka harus menahan diri, mengurangi jajan anak sendiri, demi memastikan rumah belajar tetap buka minggu itu.
Ketika ditanya mengapa bertahan, jawabannya selalu terdengar ringan, meski di baliknya tersimpan pengorbanan yang tidak kecil.
“Karena kami ingin anak-anak Papua punya masa depan yang lebih baik.”
Dua Perempuan, Satu Arah
Di balik gerakan ini berdiri dua perempuan dengan jalan hidup yang berbeda, tapi bermuara pada tujuan yang sama.
Natalia sesungguhnya memiliki peluang meniti karier di dunia teknologi informasi—dunia digital yang telah ia tekuni bertahun-tahun di bangku kuliah. Namun panggilan hatinya justru membawanya ke ruang-ruang belajar sederhana, duduk berjam-jam menemani anak-anak Papua mengenal huruf demi huruf, satu demi satu, dengan kesabaran yang tak pernah tampak habis.
Di sampingnya berdiri Nasda Damis, lulusan manajemen yang percaya bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari besarnya organisasi yang dikelola, melainkan dari seberapa banyak kehidupan yang dapat diubah. Bersama Natalia, ia memilih mencurahkan tenaga, waktu, dan pikirannya agar semakin banyak anak Papua memperoleh kesempatan belajar yang layak.

Keduanya sadar, pendidikan adalah pintu pertama untuk memutus rantai ketertinggalan. Karena itu mereka tidak menunggu segalanya sempurna. Mereka memulai dengan apa yang ada—mengajak relawan, mengetuk pintu rumah warga satu per satu, lalu membuka ruang belajar yang terbuka bagi siapa saja: anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa yang seumur hidup belum pernah merasakan bangku sekolah.
Bagi keduanya, setiap anak Papua yang berhasil membaca kalimat pertamanya bukan sekadar pencapaian akademis. Itu adalah awal lahirnya harapan baru—bagi keluarga, bagi kampung, bagi masa depan Tanah Papua.
Yang Tak Pernah Cukup
Setiap hari, rumah-rumah belajar itu membutuhkan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang kebanyakan: buku tulis, pensil, penghapus, spidol, kertas gambar, buku bacaan, alat peraga sederhana. Semua cepat habis. Semua harus terus tersedia.
Di sisi lain, permintaan membuka rumah belajar baru terus mengalir dari kampung-kampung tetangga. Banyak orang tua berharap anak mereka juga bisa merasakan apa yang dirasakan anak-anak di Waharia. Namun hingga hari ini, yayasan belum mampu menjawab seluruh permintaan itu—bukan karena tak mau, melainkan karena keterbatasan dana dan jumlah relawan.
Bagi Natalia dan Nasda Damis, menolak permintaan itu terasa seperti menelan sesuatu yang pahit. Sebab di balik setiap permintaan, ada wajah-wajah anak yang sedang menunggu.
Undangan untuk Menjadi Bagian
Karena itulah Yayasan Honai Papua Permai mengajak siapa pun untuk ikut ambil bagian—bukan sebagai penyumbang sesaat, melainkan sebagai Sahabat Honai Papua Permai, donatur tetap yang bersedia menyisihkan sedikit rezekinya setiap bulan.
Tidak perlu menunggu kaya. Tidak harus memberi jutaan rupiah. Uang senilai satu cangkir kopi bisa berubah menjadi beberapa buku tulis. Bisa menjadi pensil yang akan dipakai seorang anak menulis namanya sendiri untuk pertama kali. Bisa menjadi ongkos bensin seorang relawan menuju rumah belajar. Bisa menjadi pulsa yang menyambungkan koordinasi para pengajar di kampung-kampung yang jauh satu sama lain.
Bagi sebagian orang, jumlah itu mungkin terasa kecil. Namun bagi anak-anak Papua, ia bisa menjadi awal dari kehidupan yang sama sekali baru. Setiap rupiah yang diberikan bukan sekadar angka—ia berubah menjadi kesempatan, menjadi harapan, menjadi masa depan.
Yayasan berkomitmen mengelola setiap dukungan dengan penuh tanggung jawab dan transparansi, karena kepercayaan para donatur adalah amanah yang harus dijaga.
“Kami tidak butuh donatur besar, kami butuh donatur yang setia. Sekecil apa pun bantuannya, kalau rutin, itu yang benar-benar menghidupkan rumah belajar kami,” kata Natalia.
Uluran Tangan Anda
Jika ada rasa peduli yang tumbuh setelah membaca kisah ini, jika ada rasa ingin berterima kasih kepada tanah yang telah memberi begitu banyak kepada bangsa ini, saatnya rasa itu diangkat menjadi tindakan nyata.
Donasi dapat disalurkan melalui:
Bank Papua
a.n. Yayasan Honai Papua Permai
No. Rekening: 9000201186060
Boleh sekali saja. Boleh juga rutin setiap bulan. Seberapa pun jumlahnya, ia akan sampai ke tangan anak-anak yang sedang belajar mengeja masa depan mereka sendiri.
Cahaya yang Tak Pernah Padam
Papua selama ini lebih sering diberitakan lewat kabar konflik, keterisolasian, atau kemiskinan. Padahal di balik semua itu, ada ribuan anak yang setiap hari menyimpan mimpi sesederhana: bisa membaca, bisa menulis, bisa menghitung, bisa sekolah—memiliki masa depan yang sama seperti anak-anak Indonesia lainnya.
Mimpi-mimpi itu kini tumbuh perlahan di ruang-ruang belajar sederhana yang dibangun dengan cinta. Di sanalah Natalia, Nasda Damis, para relawan, dan ratusan anak Papua sedang menulis kisah baru—kisah yang tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari keberanian untuk peduli.
Sebab perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dari satu rumah belajar. Dari satu relawan. Dari satu buku tulis. Dari satu pensil. Dari satu donatur.
Mungkin kita tidak pernah menginjakkan kaki di salah satu rumah belajar itu. Mungkin kita tidak pernah mendengar langsung suara anak yang baru berhasil mengeja namanya sendiri. Namun hari ini, kita punya kesempatan untuk menjadi bagian dari kisah tersebut.
Sebab ketika seorang anak Papua akhirnya mampu membaca halaman pertamanya, sesungguhnya bukan hanya dirinya yang berubah. Harapan sebuah keluarga ikut tumbuh. Masa depan sebuah kampung mulai terbuka. Dan Indonesia, sedikit demi sedikit, sedang menjadi bangsa yang benar-benar tidak meninggalkan siapa pun di belakang.
Di sebuah rumah sederhana di Nabire, ketika senja benar-benar turun dan bintang pertama mulai muncul di langit Waharia, suara itu masih terdengar, lirih namun tak pernah berhenti.
“A… B… C…”
Bagi sebagian orang, huruf-huruf itu tampak biasa. Tapi di Tanah Papua, huruf-huruf itu adalah cahaya.
Dan cahaya itu kini dijaga oleh Natalia, Nasda Damis, para relawan, serta siapa pun yang percaya bahwa pendidikan adalah hak setiap anak.
Termasuk Anda.
[Nabire.Net/Wendy Eko]





Tinggalkan Komentar