INFO NABIRE
Home » Blog » Kematian Siswa SD di Bumi Mulia Nabire Bukan karena DBD, Ini Penjelasan Dinkes

Kematian Siswa SD di Bumi Mulia Nabire Bukan karena DBD, Ini Penjelasan Dinkes

(Kematian Siswa SD di Bumi Mulia Nabire Bukan karena DBD, Ini Penjelasan Dinkes)
(Kematian Siswa SD di Bumi Mulia Nabire Bukan karena DBD, Ini Penjelasan Dinkes)

Nabire, Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire mengklarifikasi penyebab kematian seorang siswa sekolah dasar berusia 7 tahun yang sebelumnya dilaporkan sebagai kasus suspek Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan hasil pemeriksaan akhir di RSUD BLUD Kabupaten Nabire, anak tersebut meninggal dunia akibat meningoensefalitis, bukan demam berdarah.

Klarifikasi ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Silas Elias Numobogre, S.Kep., Ns., M.Kes., di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Jalan Merdeka, Rabu (14/10/2026).

Silas menegaskan bahwa hasil investigasi dan diagnosis akhir rumah sakit menjadi dasar untuk meluruskan informasi yang sebelumnya berkembang di masyarakat.

“Dari hasil pemeriksaan terakhir di rumah sakit sampai pasien meninggal, ternyata bukan DBD, tetapi ada penyakit lain yang menyebabkan peradangan otak,” jelas Silas.

Nabire.Net Sebelumnya Memberitakan Dugaan DBD

Sebelumnya, Nabire.Net memberitakan kematian seorang siswa sekolah dasar di SPC Bumi Mulia berdasarkan keterangan warga yang menyebutkan bahwa anak tersebut diduga meninggal dunia akibat demam berdarah.

Informasi tersebut disampaikan berdasarkan keterangan yang diperoleh di lapangan pada saat itu. Namun, untuk memastikan penyebab kematian, Nabire.Net kemudian melakukan konfirmasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire.

Dari hasil konfirmasi tersebut, Dinas Kesehatan menjelaskan bahwa berdasarkan diagnosis akhir RSUD BLUD Kabupaten Nabire, penyebab kematian pasien bukan DBD, melainkan meningoensefalitis.

Dengan demikian, informasi awal mengenai dugaan demam berdarah perlu diluruskan berdasarkan hasil pemeriksaan medis yang telah disampaikan oleh pihak berwenang.

Kronologi Sakit hingga Meninggal Dunia

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Agustina Elvin, S.Kep., Ns., menjelaskan bahwa pasien berinisial A.M.R.S., seorang anak laki-laki berusia 7 tahun, mulai mengalami sakit pada 8 Oktober 2026 dan meninggal dunia sehari kemudian, yakni 9 Oktober 2026.

Berdasarkan laporan investigasi, pasien awalnya mengalami demam dan dibawa keluarganya ke Klinik Catraska untuk menjalani pemeriksaan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan IgG reaktif, sedangkan pemeriksaan NS1 menunjukkan hasil nonreaktif.

Pasien selanjutnya menjalani rawat inap selama satu hari di Klinik Eliezer. Namun, kondisi kesehatannya memburuk hingga mengalami kejang. Dokter yang menangani kemudian memutuskan untuk merujuk pasien ke RSUD BLUD Kabupaten Nabire agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit rujukan, pasien kembali mengalami kejang selama kurang lebih lima menit.

Setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD BLUD Kabupaten Nabire, pasien menjalani pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Dokter yang menangani kemudian mencatat dugaan meningoensefalitis, yang selanjutnya ditegakkan sebagai diagnosis oleh dokter spesialis anak selaku Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP).

Mengenal Meningoensefalitis

Meningoensefalitis merupakan kondisi peradangan yang melibatkan selaput otak atau meninges serta jaringan otak. Kondisi ini dapat berkaitan dengan berbagai penyebab dan memerlukan pemeriksaan serta penanganan medis.

Diagnosis meningoensefalitis pada pasien tersebut tercantum dalam laporan investigasi dan diagnosis akhir rumah sakit. Karena itu, penyebab kematiannya tidak dapat disimpulkan sebagai DBD hanya berdasarkan gejala demam atau informasi awal yang beredar.

Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire menerima laporan awal dari penanggung jawab DBD Puskesmas Karadiri. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui koordinasi dan investigasi bersama pihak rumah sakit untuk memverifikasi riwayat penyakit, hasil pemeriksaan, penanganan medis, serta diagnosis akhir pasien.

Dinkes Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Silas menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire memiliki tim surveilans yang bertugas memantau dan menindaklanjuti laporan penyakit dari fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk malaria, tuberkulosis (TBC), HIV, dan DBD.

Menurutnya, koordinasi antara dinas kesehatan, puskesmas, dan rumah sakit sangat penting untuk memastikan informasi kesehatan yang diterima masyarakat sesuai dengan hasil pemeriksaan medis.

Terkait pencegahan DBD, Dinas Kesehatan terus mendorong pemantauan lingkungan serta penggunaan abate untuk membantu mengendalikan jentik nyamuk. Masyarakat juga diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.

Silas mengingatkan warga agar tidak menganggap remeh gejala demam dan segera mencari pertolongan medis apabila kondisi kesehatan memburuk.

Masyarakat, khususnya orang tua, perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam yang disertai kejang atau gejala berat lainnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire berharap klarifikasi ini dapat memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat mengenai kasus tersebut. Berdasarkan diagnosis akhir RSUD BLUD Kabupaten Nabire, penyebab kematian siswa berusia 7 tahun itu adalah meningoensefalitis, bukan demam berdarah dengue.

[Nabire.Net/Marten Dogomo]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.