Kasus Hepatitis di Nabire Melonjak pada 2025, Dinkes Sebut Pemeriksaan Gratis Berhasil Ungkap Lebih Banyak Penderita
Nabire, Jumlah kasus hepatitis di Kabupaten Nabire mengalami lonjakan cukup signifikan sepanjang 2025. Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire mencatat peningkatan temuan kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut bukan sepenuhnya menunjukkan penyebaran penyakit yang semakin luas, melainkan dipengaruhi oleh semakin banyaknya masyarakat yang menjalani pemeriksaan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Agustina Elvin, S.Kep., Ns, mengungkapkan bahwa pada 2024 tercatat sebanyak 99 kasus hepatitis. Rinciannya terdiri dari 96 kasus Hepatitis B dan tiga kasus Hepatitis C.
Sementara itu, pada 2025 jumlah kasus yang berhasil ditemukan meningkat menjadi 210 kasus, terdiri atas 174 kasus Hepatitis B dan 36 kasus Hepatitis C.
Menurut Agustina, peningkatan angka tersebut erat kaitannya dengan semakin luasnya cakupan pemeriksaan kesehatan yang kini dilakukan di seluruh puskesmas melalui Program Cek Kesehatan Gratis.
“Jumlah kasus yang ditemukan meningkat karena pemeriksaan kesehatan gratis sudah mulai digalakkan. Semakin banyak masyarakat yang menjalani pemeriksaan, maka semakin banyak pula kasus hepatitis yang dapat terdeteksi,” jelasnya.
Hepatitis B hingga kini masih menjadi jenis hepatitis yang paling banyak ditemukan di Kabupaten Nabire. Karena itu, pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan, salah satunya melalui program Triple Eliminasi yang wajib diikuti seluruh ibu hamil.
Program nasional tersebut mencakup pemeriksaan Hepatitis B, sifilis, dan HIV sebagai langkah mencegah penularan penyakit dari ibu kepada bayi sejak dalam kandungan maupun saat proses persalinan.
“Seluruh ibu hamil di Tanah Papua diwajibkan menjalani pemeriksaan Triple Eliminasi sebagai bagian dari program Kementerian Kesehatan,” kata Agustina.
Meski demikian, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Tidak semua ibu hamil datang ke fasilitas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan, bahkan sebagian masih menolak menjalani skrining. Kondisi ini membuat edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam menekan penularan hepatitis.
Selain memperluas akses pemeriksaan, Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire juga berupaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam penanganan hepatitis. Dukungan anggaran dan ketersediaan logistik seperti alat pemeriksaan serta bahan medis juga menjadi faktor penting agar pelayanan dapat berjalan optimal.
Menurut Agustina, hingga saat ini kebutuhan logistik pemeriksaan hepatitis masih tersedia meskipun terkadang distribusinya mengalami keterlambatan dari pemerintah pusat melalui pemerintah provinsi.
Program Cek Kesehatan Gratis yang telah diterapkan di seluruh puskesmas kini menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk melakukan skrining Hepatitis B maupun Hepatitis C tanpa harus menunggu adanya kegiatan pemeriksaan massal.
“Kami memang belum melakukan skrining massal. Namun masyarakat dapat memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis di puskesmas untuk mengetahui kondisi kesehatannya, termasuk pemeriksaan hepatitis. Kami mengimbau masyarakat melakukan pemeriksaan minimal satu kali dalam setahun,” ujarnya.
Agustina juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala awal hepatitis. Penyakit ini sering kali sulit dikenali karena memiliki tanda-tanda yang mirip dengan penyakit lain seperti malaria.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain mual, lemas, demam, nyeri sendi, pusing, hilangnya nafsu makan, hingga tubuh yang mudah lelah. Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami perubahan warna urine menjadi lebih gelap serta mata dan kulit tampak menguning.
“Kalau mulai sering mual atau merasa tidak enak badan, sebaiknya segera datang memeriksakan diri. Gejala tersebut memang bisa disebabkan penyakit lain, tetapi juga dapat mengarah pada hepatitis,” katanya.
Dinas Kesehatan juga mengidentifikasi sejumlah kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar hepatitis, di antaranya ibu hamil, orang dengan HIV, pengguna narkoba suntik, pekerja seks, warga binaan pemasyarakatan, penerima transfusi darah, pengguna tato dan tindik, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), serta transgender.
Penularan Hepatitis B dari ibu kepada bayi masih menjadi perhatian utama. Untuk mencegah hal tersebut, ibu hamil yang dinyatakan positif akan mendapatkan terapi antivirus. Sementara bayi yang lahir akan menerima vaksin Hepatitis B dosis lahir (HB-0) serta Hepatitis B Immunoglobulin (HBIG) guna meningkatkan perlindungan terhadap infeksi.
Di sisi lain, pengendalian hepatitis di Nabire masih menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan anggaran, minimnya tenaga kesehatan, layanan rujukan yang belum optimal di RSUD, hingga rendahnya cakupan imunisasi Hepatitis B pada anak menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.
Agustina menilai hepatitis masih berpotensi menjadi fenomena gunung es. Artinya, jumlah penderita yang sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar dibandingkan kasus yang telah berhasil ditemukan melalui pemeriksaan.
“Kalau cakupan imunisasi Hepatitis B pada anak masih rendah, infeksi dapat berlanjut hingga usia dewasa dan menjadi kronis. Karena itu pemeriksaan dini dan upaya pencegahan harus terus ditingkatkan,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire mengajak seluruh masyarakat memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis yang tersedia setiap hari di seluruh puskesmas. Pemeriksaan rutin setidaknya sekali dalam setahun dinilai menjadi langkah sederhana namun penting untuk mendeteksi penyakit lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih serius.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar