Atasi Krisis Air Bersih, Pemkab Nabire Ajukan Bantuan 250 Sumur Bor
Nabire, Pemerintah Kabupaten Nabire memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Pemerintah menilai situasi tersebut perlu ditangani secara terpadu karena dampaknya tidak hanya menyasar lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu ketersediaan pangan, air bersih, kesehatan, pendidikan hingga aktivitas penerbangan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Nabire, Yulianus Pasang, S.Pd., M.Pd., mengatakan pemerintah daerah telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Karhutla. Tim tersebut melibatkan berbagai unsur untuk mempercepat pencegahan dan penanganan kebakaran di lapangan.
“Secara khusus yang terjadi di Nabire adalah kebakaran hutan dan lahan yang luar biasa. Pemerintah Kabupaten Nabire sejak terjadinya itu merespons bagaimana untuk menanggulangi kejadian ini,” kata Yulianus kepada awak media di Nabire.
Satgas Libatkan Banyak Unsur
Satgas Karhutla Nabire melibatkan pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat serta pemuda. Tim mulai menjalankan tugas setelah surat keputusan mengenai pembentukan satgas disampaikan.
Yulianus menekankan bahwa penanganan kebakaran tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat di tingkat kota, distrik hingga kampung diminta mengambil bagian dalam upaya pencegahan.
Warga juga diingatkan agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Dalam kondisi kering, api yang awalnya berada di satu titik dapat menjalar dengan cepat dan berpotensi merusak perkebunan maupun permukiman.
“Kalau satu titik saja api bisa meluas, bahkan sampai rumah habis,” tegasnya.
Kebun Terbakar, Ketahanan Pangan Terancam
Dampak karhutla juga mulai menjadi perhatian dari sisi kebutuhan pangan. Pemkab Nabire telah melakukan pendataan berdasarkan wilayah distrik dan kampung untuk mengetahui kondisi masyarakat yang terdampak.
“Kita sudah data per distrik bahkan per kampung. Kita sudah undang semua kepala distrik,” jelas Yulianus.
Pendataan tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menyiapkan bantuan bagi warga yang kebunnya terdampak kebakaran. Pemkab kemudian membentuk tim untuk mengalokasikan beras dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan hingga tingkat distrik dan kampung.
Kebun masyarakat memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Ketika tanaman yang akan dipanen rusak akibat kebakaran, warga tidak hanya kehilangan sumber makanan, tetapi juga berpotensi menghadapi tekanan ekonomi.
Kekeringan Perparah Persoalan Air Bersih
Selain karhutla, kekeringan menjadi tantangan lain yang harus segera ditangani. Sejumlah kawasan, termasuk Wadio dan Nabire Barat, disebut mengalami keterbatasan pasokan air.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Nabire menyiapkan pembangunan sumur bor. Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan BNPB dan mengusulkan bantuan sekitar 250 sumur bor serta lima mobil tangki air.
Yulianus mengatakan pemerintah daerah tidak ingin hanya bergantung pada bantuan pemerintah pusat. Apabila bantuan belum tersedia, pembangunan fasilitas air bersih akan tetap diupayakan melalui pemerintah daerah.
“Kemarin juga sudah dibentuk, kita tunjuk tim teknis dari Kodim untuk melaksanakan bagaimana sumur bor itu sehingga bisa digunakan untuk konsumsi masyarakat,” katanya.
Dunia Usaha Diminta Ikut Bergerak
Pemkab Nabire juga berencana melibatkan sektor swasta dan kontraktor besar dalam penyediaan sarana air bersih. Pemerintah mendorong pola gotong royong agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi lebih cepat.
“Kita nanti akan minta agar kalau bisa satu sumur satu kontraktor. Mau tidak mau ini bukan urusan satu pemerintah saja,” ujarnya.
Di sektor kesehatan, Dinas Kesehatan diminta memastikan layanan di puskesmas pembantu, puskesmas, rumah sakit serta pelayanan kesehatan keliling tetap berjalan optimal.
Pemerintah juga memperhitungkan dampak asap terhadap kegiatan belajar mengajar dan penerbangan. Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang dan berpotensi mengganggu operasional penerbangan apabila kondisi memburuk.
Pemkab Nabire berharap Satgas Karhutla bersama seluruh elemen masyarakat dapat bergerak cepat. Pencegahan sejak awal dinilai menjadi kunci agar kebakaran tidak meluas sekaligus menjaga kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama kondisi kering berlangsung.
[Nabire.Net/Musa Boma]





Tinggalkan Komentar