INFO NABIRE INFO OLAHRAGA INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Soal Sejumlah SLB Tak Terlibat PEPARDA, Kabid Olahraga Minta Maaf

Soal Sejumlah SLB Tak Terlibat PEPARDA, Kabid Olahraga Minta Maaf

(Soal Sejumlah SLB Tak Terlibat PEPARDA, Kabid Olahraga Minta Maaf)
(Soal Sejumlah SLB Tak Terlibat PEPARDA, Kabid Olahraga Minta Maaf)

Nabire, Polemik keterlibatan sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) dalam Kejuaraan Paralimpik Pelajar Daerah (PEPARDA) I Papua Tengah mendapat tanggapan dari Jack Gobogau selaku Kabid Olahraga Provinsi Papua Tengah. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada pihak SLB yang merasa belum mendapatkan kesempatan dalam kegiatan tersebut sekaligus menjelaskan mekanisme pendataan peserta yang dilakukan pemerintah.

Klarifikasi tersebut muncul setelah pelaksanaan PEPARDA I Papua Tengah pada 18–19 September 2026 di Nabire mendapat sorotan dari kalangan penyandang disabilitas. Sebelumnya, Ketua Yayasan Peduli Difabel Nabire sekaligus Kepala SLB Matahari, Maria Yetiasaputri Kapitarauw, mempertanyakan keterbukaan informasi serta kesempatan bagi sekolah dan atlet disabilitas untuk mengikuti ajang tersebut.

Dalam keterangannya, Jack mengatakan dirinya telah menurunkan petugas ke setiap kabupaten di Papua Tengah untuk melakukan pendataan sekolah luar biasa. Menurut dia, dari data yang diterima, terdapat beberapa SLB yang telah masuk dalam pendataan awal, di antaranya SLB Petra, SLB Mimika dan SLB Pembina.

Namun, Jack mengaku baru mengetahui keberadaan SLB Matahari dalam proses klarifikasi yang berlangsung setelah persoalan tersebut mencuat.

“Untuk SLB yang lain, salah satunya SLB Matahari, saya baru tahu setelah dilakukan klarifikasi tadi di kantor,” kata Jack.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam sejumlah pertemuan teknis sebelum pelaksanaan kegiatan, persoalan mengenai keberadaan SLB lain di Papua Tengah tidak disampaikan kepadanya.

Menurut Jack, dirinya beberapa kali berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah sebelum pertandingan berlangsung. Bahkan, terdapat sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan sekolah maupun layanan terapi bagi penyandang disabilitas yang turut dihadiri berbagai pihak. Namun, menurut keterangannya, dalam pertemuan tersebut tidak ada informasi yang menyebut masih terdapat SLB lain yang belum terakomodasi.

Keterangan tersebut menjadi bagian dari penjelasan pemerintah setelah sebelumnya muncul pertanyaan mengenai mekanisme pelibatan peserta dalam PEPARDA. Dalam pemberitaan sebelumnya, warga disabilitas mempertanyakan mengapa sejumlah sekolah, yayasan difabel, sekolah inklusi, serta sekolah yang memiliki peserta didik berkebutuhan khusus disebut belum memperoleh kesempatan yang sama.

Janji Libatkan SLB Matahari pada Kegiatan Berikutnya

Jack mengatakan persoalan tersebut akan menjadi bahan evaluasi. Ia menyatakan akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Papua Tengah untuk mengklarifikasi lebih lanjut persoalan pendataan dan komunikasi antarlembaga.

Ia juga menyampaikan bahwa SLB Matahari akan dipastikan masuk dalam kegiatan olahraga berikutnya, termasuk agenda tahun depan.

Selain itu, Jack berencana turun langsung untuk melihat potensi anak-anak penyandang disabilitas yang dinilai perlu dipersiapkan sebagai calon atlet untuk menghadapi kompetisi yang lebih tinggi, termasuk agenda olahraga pelajar tingkat nasional.

“Kami akan ketemu Kepala Dinas untuk klarifikasi masalah ini. Tahun depan SLB Matahari akan kami ikutsertakan,” ujarnya.

Meski demikian, Jack mengatakan pemerintah masih perlu mempertimbangkan sejumlah aspek terkait atlet yang sebelumnya telah meraih juara dalam PEPARDA. Menurutnya, selain SLB, terdapat pula sekolah inklusi, yayasan penyandang disabilitas dan sekolah umum yang memiliki siswa berkebutuhan khusus.

Mengaku Baru Dua Bulan Menjabat

Jack turut menyampaikan permohonan maaf secara pribadi kepada pihak SLB Matahari. Ia menjelaskan bahwa dirinya baru sekitar dua bulan menjalankan tugas sebagai Kabit Olahraga dan kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda pertama yang ditanganinya.

Ia mengatakan saat menerima petunjuk teknis kegiatan dari Dinas Pendidikan, dirinya masih dalam proses mempelajari mekanisme penyelenggaraan karena baru pertama kali menangani agenda serupa.

“Saya secara pribadi minta maaf kepada SLB Matahari. Saya baru dua bulan menjabat dan ini juga menjadi kegiatan pertama yang saya tangani,” tuturnya.

PEPARDA I Papua Tengah sendiri menjadi ajang olahraga pelajar penyandang disabilitas yang mempertandingkan lima cabang olahraga, yakni atletik, bulu tangkis, tenis meja, karate dan catur. Pemerintah Provinsi Papua Tengah sebelumnya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai ruang bagi pelajar penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan dan mengejar prestasi.

Evaluasi Pendataan Dinilai Penting

Klarifikasi Jack membuka ruang bagi evaluasi terhadap mekanisme pendataan, penyampaian informasi dan koordinasi antarinstansi dalam penyelenggaraan olahraga disabilitas di Papua Tengah.

Bagi masyarakat penyandang disabilitas, persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan satu pertandingan, tetapi juga menyangkut akses terhadap informasi dan kesempatan untuk mengembangkan potensi atlet.

Karena itu, tindak lanjut pemerintah menjadi penting untuk memastikan seluruh sekolah, yayasan, sekolah inklusi maupun kelompok yang membina atlet berkebutuhan khusus dapat memperoleh informasi mengenai agenda olahraga secara jelas.

Dengan adanya komitmen evaluasi dan rencana pelibatan SLB Matahari pada kegiatan berikutnya, polemik PEPARDA Papua Tengah kini memasuki tahap klarifikasi dan pembenahan. Publik masih menantikan penjelasan lebih lanjut mengenai hasil koordinasi antara Kabit Olahraga, Dinas Pendidikan Papua Tengah, serta mekanisme pendataan peserta untuk kegiatan olahraga disabilitas berikutnya.

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.