Kabar Baik! Program Sekolah Gratis Papua Tengah akan Diperluas, SMP Kini Ikut Dibiayai
Nabire, 13 Maret 2026 – Pemerintah Provinsi Papua Tengah memastikan program sekolah gratis bagi pelajar tetap dilanjutkan pada tahun 2026 sebagai upaya meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak Papua.
Kepala Bidang Pengelolaan Data dan Fasilitas Pendidikan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yulianus Kuayo, mengatakan kebijakan tersebut merupakan program yang dicanangkan langsung oleh Gubernur Papua Tengah.
Hal itu disampaikannya kepada awak media di Nabire, Jumat (13/3/2026).
Menurut Yulianus, tujuan utama program sekolah gratis adalah memastikan seluruh anak Papua tetap bersekolah sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.
“Kebijakan gubernur ini sebetulnya tujuannya hanya satu, anak-anak Papua harus sekolah. Kalau semua anak Papua sekolah maka otomatis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) akan meningkat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini masih banyak anak Papua yang tidak melanjutkan pendidikan karena terkendala biaya sekolah. Karena itu pemerintah mengambil kebijakan untuk menanggung sejumlah komponen pembiayaan pendidikan yang sebelumnya dibebankan kepada orang tua siswa.
Dalam pelaksanaannya, dana program sekolah gratis tidak diberikan langsung kepada siswa, melainkan disalurkan ke sekolah agar penggunaan anggaran dapat lebih terkontrol dan tepat sasaran.
“Kalau dana diberikan langsung ke siswa, kita masih pertanyakan apakah benar akan dibayarkan ke sekolah. Karena itu pemerintah memilih membayar langsung ke sekolah sehingga siswa tinggal datang dan belajar,” jelasnya.
Program sekolah gratis tersebut mencakup jenjang pendidikan SMA, SMK dan SLB. Pada tahun 2026, program ini juga diperluas dengan memasukkan jenjang SMP serta memberikan dukungan bagi sekolah yang memiliki fasilitas asrama.
Yulianus menjelaskan terdapat perbedaan antara sekolah berpola asrama dan sekolah berasrama.
Sekolah berpola asrama merupakan lembaga pendidikan di mana seluruh siswa dan guru tinggal dalam satu kompleks sekolah, seperti yang diterapkan di SMA Negeri Meepago atau Meepago Boarding School.
Sementara sekolah berasrama adalah sekolah yang menyediakan fasilitas tempat tinggal bagi sebagian siswa, namun tidak semua peserta didik tinggal di asrama tersebut. Dalam beberapa kasus, fasilitas asrama juga dapat dikelola oleh lembaga lain seperti gereja.
Selain itu, terdapat pula rumah penampungan atau penginapan siswa yang dibangun oleh pemerintah kampung atau daerah. Namun fasilitas tersebut tidak termasuk kategori asrama sekolah karena tidak memiliki sistem pendidikan khusus.
“Kalau asrama itu ada sistemnya, ada kurikulumnya, ada aturan di dalamnya. Jadi itu berbeda dengan rumah penampungan biasa,” katanya.
Yulianus menambahkan, hingga tahun lalu program sekolah gratis telah menjangkau hampir 25 ribu siswa di Papua Tengah. Tahun ini jumlah penerima manfaat diperkirakan meningkat setelah jenjang SMP turut dimasukkan dalam program tersebut.
Selain itu, dukungan untuk sekolah berpola asrama menjangkau sekitar 2.000 siswa, sedangkan sekolah berasrama sekitar 1.000 siswa.
“Kalau ditotal semuanya, penerima manfaatnya sudah lebih dari 50 ribu siswa,” ujarnya.
Sementara untuk jenjang sekolah dasar (SD), pemerintah provinsi masih mengkaji formulasi kebijakan yang tepat agar program dukungan pendidikan dapat berjalan efektif tanpa mengganggu proses belajar mengajar di sekolah.
Pemerintah berharap program sekolah gratis tersebut dapat membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak Papua sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua Tengah.
[Nabire.Net/Musa Boma]


Leave a Reply