INFO NABIRE
Home » Blog » Istighosah Awal Bulan Agustus Di Pondok Pesantren Daarul Fikri Wonorejo Nabire

Istighosah Awal Bulan Agustus Di Pondok Pesantren Daarul Fikri Wonorejo Nabire

Bertempat di Pondok Pesantren Daarul Fikri Bumi Wonorejo, Nabire, Minggu 5 Agustus 2018, telah dilaksanakan acara Istighosah atau doa bersama setiap hari minggu pertama di awal bulan.

Acara istighosah ini bertujuan untuk membersihkan hati serta mendoakan kesuksesan para santri dalam menuntut ilmu. Istighosah dihadiri oleh segenap santri dan wali santri namun pengasuh tidak dapat hadir karena masih dalam perjalanan balik dari Jawa ke Nabire.

Antusias wali santri dan simpatisan pondok pesantren Daarul Fikri semakin meningkat melihat pentingnya perkumpulan ini dan doa bersama yang Insya Allah lebih besar harapan terkabulnya doa-doa yang dipanjatkan.

Adapun rangkaian susunan acara Istighosah yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :

  1. Pembukaan yang di isi dengan pembacaan suratul Fatihah

  2. Pembacaan Kalam suci ilahi yang di bawakan oleh Ustad Imam Humaini (santri pondok pesantren Al-hikam II Jakarta)

  3. Pembaca’an Yasin Fadilah yang dipimpin oleh Ustad Khairul Umam (alumni pondok pesantren Syaichona Moh.cholil Demangan Barat, Bangkalan, Madura)

  4. Pembacaan istighosah oleh santri pondok pesantren Daarul Fikri

  5. Pembacaan hizbun nashor oleh Ustad Roni (pondok pesantren Jerenguan Sampang)

  6. Mauidhotul Hasanah yang di sampaikan oleh ustadz Khairul Umam

  7. Penutup doa yang dipimpin oleh ustadz Zainal

Salah satu kutipan isi pidato atau mauidhoh dari ustad Umam adalah pentingnya mencari ilmu dan cara belajar yang baik adalah dimulai dari niat yang baik, niat mencari ilmu karena Allah karena apapun cita-cita kita kalau terlebih dahulu yang kita cari adalah kebaikan akhirat maka kebaikan dunia pun akan ikut, meskipun tanpa diniati khusus.

Yng kedua adalah sebelum mencari ilmu Allah terlebih dahulu kita bersihkan hati, diantaranya dengan banyak beribadah sholat dan dzikir, karena ilmu Allah itu bersih jika diterima oleh hati yang kotor maka bisa jadi tertolak bahkan bisa tidak masuk sama sekali.

Proses selanjutnya dalam mencari ilmu harus bisa menjauhi perkara yang dilarang oleh Allah, terutama masalah makanan yang kita makan harus halalan toyyibah, halal dalamm cara memperolehnya, serta halal dalam dzatnya.

Adapun yang dimaksud halal cara mperolehnya adalah uang yang di hasilkan bukan dari menipu, mencuri, korupsi, judi, dan lain-lain. Sedangkan yang dmaksud dengan halal dalam segi dzatnya adalah bukan makanan yang ditetapkan ke harapannya oleh syari’at seperti contoh arak dan kalbun dan khinzir, dan lain-lain.

Lalu proses selanjutnya adalah pertama ilmu yang perlu dikaji adalah akhaq, menata tatakrama, sopan santun, baik kepada Allah maupun kepada makhluknya terutama tata krama kepada orang tua dan guru, karena jika kita tidak tahu etika meskipun pintar, cerdas tidak ada manfaatnya/berkahnya, jika kita belum bisa menghormati orang yang mengasih ilmu (ustadz/ulama’) maka dari itu jika semua kita jalankan maka belajar ilmu apapun insya Allah akan lebih cepat faham dan mengerti apa yang sedang di pelajari.

Jika semua sudah dapat dijalani barulah tahap selanjutnya dilakoni seperti semangat, bersungguh-sunguh dalam belajar, banyak membaca dan menghafal dan masih banyak lagi yang tidak bisa disampaikan dalam satu majlis karena waktu yang terbatas.

Oleh karena itu marilah sambil berjalan dan berproses Insya Allah akan sampai pada apa yang dituju yaitu taqorrub Ilallah (mendekatkan diri kepada Allah SWT).

[Nabire.Net]


Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.