Kisah Isak Waine, Anak Petani dari Dogiyai yang Selangkah Lagi Raih Gelar Doktor
Dogiyai, Perjuangan panjang seorang anak petani asal Kampung Puweta I, Distrik Kamu Selatan, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, kini mencapai babak penting. Isak Waine, 37 tahun, berhasil melewati Ujian Tertutup Disertasi pada 27 Oktober 2026 dan kini menantikan jadwal Ujian Promosi Doktor untuk meraih gelar doktor di bidang Kesehatan Masyarakat.
Pencapaian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Isak yang penuh tantangan. Kehilangan kedua orang tua sejak duduk di bangku SMP dan menghadapi keterbatasan ekonomi ketika merantau tidak membuatnya berhenti mengejar pendidikan tinggi.
Saat ini, Isak menempuh pendidikan doktoral di Universitas Strada Indonesia, Kediri, Jawa Timur. Sebelumnya, ia telah menyelesaikan pendidikan sarjana Kesehatan Masyarakat pada 2011 dan pendidikan magister di Universitas Cenderawasih pada 2019.
Bagi Isak, keberhasilan tersebut bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan bukti bahwa latar belakang keluarga sederhana tidak seharusnya membatasi kesempatan seseorang untuk meraih masa depan yang lebih baik.
“Saya bukan anak orang kaya. Saya hanyalah anak petani dari Tanah Papua yang memiliki mimpi besar, tekad yang kuat, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan,” ungkap Isak.
Kehilangan Kedua Orang Tua Sejak SMP
Isak lahir dan dibesarkan di Kampung Puweta I, Distrik Kamu Selatan, Kabupaten Dogiyai. Ia mengawali pendidikan di SD Inpres Uwibutu/Madi, kemudian melanjutkan sekolah di SMP YPPGI Enarotali.
Namun, saat masih duduk di bangku SMP, Isak harus menghadapi kehilangan kedua orang tuanya. Setelah peristiwa tersebut, ia melanjutkan hidup bersama keluarga kakak-kakaknya yang juga memiliki tanggung jawab memenuhi kebutuhan rumah tangga masing-masing.
Meski keadaan ekonomi keluarga terbatas, keinginan untuk melanjutkan pendidikan tetap ia pertahankan.
Pada 2004, setelah menyelesaikan pendidikan SMP, Isak melanjutkan sekolah menengah atas di Biak. Ia lulus pada 2007 dan kemudian memutuskan merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan sarjana Kesehatan Masyarakat.
Saat berangkat, modal yang dimilikinya hanya Rp3 juta. Jumlah tersebut harus digunakan untuk menunjang kebutuhan hidup dan pendidikan selama berada di tanah rantau.
Dalam kondisi tersebut, Isak sempat merasa putus asa dan berpikir untuk kembali ke Papua karena kesulitan membiayai kuliah.
Nasihat yang Mengubah Perjalanan Hidup
Di tengah kesulitan, Isak mendapatkan dukungan dari almarhum Ones Yobee, seorang kakak senior yang memberinya motivasi agar tidak menyerah sebelum menyelesaikan pendidikan.
“Adik, kenapa mau pulang ke Papua? Kalau adik sudah menginjakkan kaki di Jawa, berarti adik harus pulang membawa ijazah. Walaupun rambut sudah putih, adik harus membawa ijazah terlebih dahulu sebelum pulang ke Papua,” demikian pesan yang dikenang Isak.
Nasihat tersebut menjadi titik balik dalam perjuangannya. Ones Yobee kemudian mengajaknya menemui pimpinan kampus untuk menjelaskan kondisi ekonomi yang dihadapinya.
Isak menyampaikan kesungguhannya untuk menyelesaikan pendidikan, meskipun harus membayar biaya kuliah secara bertahap. Kesempatan itu membantunya bertahan dan melanjutkan pendidikan hingga menyelesaikan tahapan akademik sarjana.
Pada 12 September 2011, ia melaksanakan ujian skripsi S1 Kesehatan Masyarakat. Tidak lama kemudian, pada awal Oktober 2011, ia menerima panggilan untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari proses penerimaan kerja di PT Redpath Indonesia, perusahaan kontraktor yang bermitra dengan PT Freeport Indonesia.
Pada 2013, Isak mengikuti seleksi CPNS Kabupaten Dogiyai dan kemudian diangkat menjadi CPNS di lingkungan pemerintah kabupaten tersebut.
Melanjutkan Pendidikan hingga Jenjang Doktor
Di tengah perjalanan kariernya, Isak kembali melanjutkan pendidikan. Pada 2017, ia menempuh program magister Kesehatan Masyarakat di Universitas Cenderawasih dan menyelesaikannya pada 2019.
Keinginan memperdalam ilmu kemudian membawanya ke jenjang doktoral. Pada 2022, ia memutuskan melanjutkan studi di Program Doktor Kesehatan Masyarakat Universitas Strada Indonesia di Kediri, Jawa Timur.
Perjalanan tersebut menuntutnya membagi waktu, tenaga, dan pikiran antara pendidikan, pekerjaan, serta kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Setelah melalui proses akademik dan penyusunan disertasi, Isak akhirnya berhasil melaksanakan Ujian Tertutup Disertasi pada 27 Oktober 2026. Ia kini menantikan tahapan Ujian Promosi Doktor sebagai langkah berikutnya untuk menyelesaikan pendidikan doktoralnya.
Pesan Isak untuk Generasi Muda Papua
Pengalaman hidupnya mendorong Isak menyampaikan pesan kepada generasi muda Papua, khususnya mereka yang berasal dari keluarga sederhana dan menghadapi keterbatasan ekonomi.
Ia berharap anak-anak Papua tidak merasa rendah diri karena lahir dari keluarga petani, tinggal di kampung terpencil, atau tidak memiliki dukungan finansial yang memadai.
“Jangan pernah malu menjadi anak petani. Jangan pernah merasa rendah diri karena berasal dari keluarga sederhana. Jangan pernah menganggap kehilangan orang tua, keterbatasan ekonomi, atau keadaan keluarga sebagai alasan untuk menguburkan cita-cita,” pesannya.
Menurut Isak, pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada gelar akademik maupun jabatan. Ilmu pengetahuan perlu digunakan untuk meningkatkan kualitas diri, membangun karakter, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Jangan hanya mengejar gelar, kejarlah ilmu. Jangan hanya mengejar jabatan, kejarlah pengabdian. Jangan hanya ingin dihormati, jadilah pribadi yang bermanfaat bagi sesama,” tegasnya.
Ia juga menilai pembangunan sumber daya manusia Papua membutuhkan dukungan keluarga, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Kesempatan belajar, pembinaan karakter, serta pendampingan bagi generasi muda menjadi bagian penting dalam mendorong lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas.
Berharap Ilmu Menjadi Bekal Pengabdian
Isak menyadari bahwa perjalanan pendidikannya tidak terlepas dari dukungan keluarga, kakak-kakaknya, para dosen, rekan-rekan, dan orang-orang yang membantunya ketika menghadapi kesulitan.
Ia secara khusus mengenang kedua orang tuanya serta almarhum Ones Yobee yang telah memberikan semangat ketika dirinya hampir menyerah.
Bagi Isak, pencapaian akademik bukanlah tujuan akhir. Ilmu yang diperoleh harus menjadi bekal untuk mengabdi, membantu masyarakat, dan berkontribusi bagi pembangunan Tanah Papua.
“Papua tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas. Papua membutuhkan generasi yang berilmu, jujur, berkarakter, rendah hati, dan memiliki hati untuk membangun masyarakatnya,” ungkapnya.
Perjalanan Isak Waine, dari anak petani di Kabupaten Dogiyai hingga mencapai tahap Ujian Tertutup Disertasi, menjadi gambaran tentang pentingnya ketekunan dan kesempatan pendidikan. Kini, sambil menantikan Ujian Promosi Doktor, ia berharap kisahnya dapat menginspirasi generasi muda Papua untuk terus belajar, menjaga integritas, dan tidak menyerah pada keterbatasan.
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar