INFO NABIRE
Home » Blog » IPMS Gelar Lapak Buku dan Diskusi Film Pesta Babi di Nabire

IPMS Gelar Lapak Buku dan Diskusi Film Pesta Babi di Nabire

(IPMS Gelar Lapak Buku dan Diskusi Film Pesta Babi di Nabire)
(IPMS Gelar Lapak Buku dan Diskusi Film Pesta Babi di Nabire)

Nabire, 13 Juli 2026 – Keluarga Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Siriwo (IPMS) kembali menggelar ruang diskusi literasi yang dipusatkan di KPR Siriwo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, pada Minggu (12/7/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan dua agenda utama, yakni lapak buku dan pemutaran film dokumenter Pesta Babi, sebagai bagian dari upaya menumbuhkan budaya membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis di kalangan pelajar serta mahasiswa asal Siriwo.

Mengusung tema “Mencari dan Membongkar”, ruang diskusi ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk saling bertukar gagasan, memperluas wawasan, sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya literasi dalam menghadapi tantangan zaman. Peserta menilai bahwa membaca dan berdiskusi bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan fondasi dalam membentuk karakter, cara berpikir, serta kemampuan menganalisis berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.

Kegiatan diawali dengan lapak buku yang menyediakan berbagai bacaan dengan beragam tema, mulai dari sejarah, sosial, budaya, politik, hingga pengembangan diri. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membaca, berdiskusi mengenai isi buku, dan saling merekomendasikan bacaan yang dinilai mampu memperkaya perspektif.

Setelah sesi lapak buku, kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter Pesta Babi. Film tersebut kemudian menjadi bahan diskusi bersama yang berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh antusias. Peserta menyampaikan berbagai pandangan mengenai pesan yang terkandung dalam film, termasuk keterkaitannya dengan dinamika kehidupan sosial, budaya, serta realitas masyarakat Papua saat ini.

Salah seorang peserta mengatakan bahwa tema “Mencari dan Membongkar” merupakan ajakan bagi generasi muda untuk tidak berhenti mencari pengetahuan serta berani membongkar cara pandang yang selama ini dianggap mapan melalui proses membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis.

“Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga bagaimana kita memahami realitas, mempertanyakan berbagai persoalan, lalu mencari solusi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap salah seorang peserta dalam diskusi.

Peserta lainnya menambahkan bahwa budaya literasi perlu terus ditanamkan sejak dini karena menjadi salah satu modal penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Menurut mereka, generasi muda Siriwo harus mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan identitas budaya yang dimiliki.

Diskusi juga menyoroti pentingnya membangun ruang-ruang belajar yang inklusif di luar lingkungan pendidikan formal. Melalui kegiatan seperti ini, pelajar dan mahasiswa memiliki kesempatan untuk berdialog secara terbuka, bertukar pengalaman, serta melatih kemampuan menyampaikan pendapat secara argumentatif dan menghargai perbedaan pandangan.

Dalam kesempatan tersebut, peserta menegaskan bahwa perubahan besar tidak lahir secara instan. Sebaliknya, perubahan selalu dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti membiasakan diri membaca buku, menulis gagasan, mengikuti diskusi, dan terus belajar dari berbagai pengalaman.

Mereka percaya bahwa kebiasaan tersebut akan menjadi investasi jangka panjang bagi lahirnya generasi muda Siriwo yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap berbagai perubahan yang terjadi di era globalisasi.

Pemutaran film Pesta Babi juga menjadi momentum bagi peserta untuk merefleksikan berbagai nilai budaya Papua. Diskusi berkembang tidak hanya membahas isi film, tetapi juga menyentuh persoalan identitas budaya, kehidupan masyarakat adat, tantangan pembangunan, hingga pentingnya menjaga nilai-nilai lokal di tengah arus modernisasi.

Suasana diskusi berlangsung dinamis. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan dan interpretasi masing-masing terhadap film yang ditayangkan. Perbedaan pendapat justru menjadi bagian penting dalam memperkaya sudut pandang peserta serta melatih kemampuan berdialog secara sehat.

Dalam beberapa tahun terakhir, ruang-ruang literasi yang digagas komunitas pelajar dan mahasiswa mulai berkembang di berbagai daerah di Papua. Kegiatan seperti lapak buku, bedah buku, diskusi publik, hingga pemutaran film edukatif menjadi alternatif pembelajaran yang melengkapi proses pendidikan formal. Melalui kegiatan tersebut, generasi muda didorong untuk lebih aktif membaca, berdiskusi, dan menghasilkan gagasan yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.

IPMS menilai gerakan literasi perlu terus dijaga agar menjadi budaya yang tumbuh secara berkelanjutan di kalangan pelajar dan mahasiswa. Selain meningkatkan pengetahuan, literasi juga diyakini mampu memperkuat kemampuan berpikir kritis, membangun kepedulian sosial, serta mendorong lahirnya generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Di penghujung kegiatan, keluarga besar IPMS menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota dan peserta yang telah meluangkan waktu untuk hadir serta berpartisipasi aktif dalam diskusi. Mereka berharap ruang literasi seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin sebagai wadah belajar bersama sekaligus mempererat kebersamaan di antara pelajar dan mahasiswa Siriwo.

Ke depan, IPMS berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan edukatif yang tidak hanya berfokus pada peningkatan minat baca, tetapi juga mendorong lahirnya budaya menulis, berdiskusi, dan berpikir kritis. Harapannya, ruang-ruang literasi tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan kapasitas generasi muda Siriwo serta berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, dan Papua secara umum.

[Nabire.Net]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.