INFO NABIRE
Home » Blog » Ini 10 Imam Keuskupan Yang Ditahbiskan Di Gereja Kristus Raja Nabire

Ini 10 Imam Keuskupan Yang Ditahbiskan Di Gereja Kristus Raja Nabire

pentahbisan

Uskup Keuskupan Timika, Papua, Mgr. John Pilip Saklil menabiskan 10 Imam Keuskupan Timika di Gereja Kristus Raja Nabire, Selasa, (06/01/15) kemarin. 
Perayaan ekaristi menabisan dihadiri puluhan pastor dari Keuskupan Timika, sejumlah pejabat provinsi Papua dan Kabupaten serta ribuan umat katolik dan tamu-undangan.

Para imam katolik yang ditabiskan terdiri dari 8 imam ordo projo dan 2 di antaranya ordo OFM (Frasiskan). Uskup Mgr.John Pilip Saklil menempatkan para imam baru itu di sejumlah paroki di wilayah kerja Keuskupan Timika.

Mereka adalah Agustinus Alua, Pr ditempatkan di Seminari Tinggi Jesusalem Baru STFT Fajar Timur Abepura Jayapura sebagai pembina para Frater asal Keuskupan Timika; Alfonsus Biru Kira, Pr ditempatkan di Paroki Modio; Andreas Peni,  Pr ditempatkan di Paroki Madi, Enarotali; Honaratus Pigai, Pr ditempatkan di Gereja Katedral Timika; Stefanus Yogi, Pr di Paroki Kristus Raja Nabire; Matias Ronal Sitanggang, Pr ditempatkan di Paroki Bilai; Oktavianus Taena, Pr ditempatkan di Paroki Timepa; dan Rinto Dumatubun, Pr ditempatkan di Paroki Apouwo.

Sementara itu, dua imam Fransiskan masing-masing Maximilianus Dora, OFM ditempatkan di Paroki Sempan Mimika dan Ambrosius Sala, OFM ditempatkan di Paroki Puweta.

“Kami tabiskan 10 imam ini bukan untuk dilayani tetapi melayani umat di tempat tugas masing-masing. Menjadi seorang imam berarti menjadi seorang pelayan,” kata Mgr. John Pilip Saklil saat membacarakan tempat tugas para iman ini.

Uskup mengingatkan, 10 imam baru itu bukan lagi menjadi milik gereja. Tetapi telah menjadi orang umum untuk mewartakan kasih Allah.

“Keluarga sudah serahkan kepada gereja dan mereka (para imam, red) telah menjadi orang gereja. Sekarang mereka bukan lagi orang Mee, orang Toraja atau orang Dani. Mereka milik umum untuk menjadi pewarta kasih Allah, kata Uskup.

Uskup juga menekankan, orang tua atau khususnya umat katolik tidak hanya menyerahkan anak mereka menjadi imam tetapi orang katolik harus hidup sebagai orang beriman.

“Jangan ada masalah di mana-mana, ada perang di mana-mana, ada pembunuhan di mana-mana,” kata uskup.

Bupati Nabire, Isaias Douw dalam sambutannya menyatakan tabisan imamat ini merupakan hal yang istimewa. Karena itu, pihaknya memberikan apresiasi kepada Keuskupan Timika, orang tua dari imam baru, dan kepada para imam baru.

“Ini tabisan yang berbanyak dan merupakan hadiah di awal tahun 2015 untuk Kabupaten Nabire karena ditabiskan dari Nabire. Kepada para imam baru, saya berikan apresiasi karena menjadi imam katolik itu tidak mudah. Butuh proses panjang dan melepaskan semuanya, orang tua, harta, dan lainnya,” kata Isaias.

Isaias meminta, tabisan itu menjadi moment untuk saling menghargai, menghormati, dan mengakui antar etnis, suku, dan budaya. Karena, 10 imam yang ditabiskan berasal dari berbagai suku bangsa, sebagaimana Nabire terdiri dari berbagai suku bangsa.

Ketua Panitia Penabisan, Edy Raya mengatakan, tabisan imam terselenggara karena dukungan dari banyak pihak, baik secara moril maupun pendanaan.

“Kami mendapatkan banyak dukungan baik moril maupun pendanaan. Dukungan dana mencapai 1 milyar lebih,” katanya.

(MS)

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.