Inflasi Nabire Capai 6,16 Persen, El Nino dan Karhutla Jadi Pemicu
Nabire, Inflasi Kabupaten Nabire pada September 2026 mencapai 6,16 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut menunjukkan tekanan kenaikan harga masih cukup tinggi, terutama pada kelompok pangan dan transportasi.
Data tersebut disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nabire dalam Berita Resmi Statistik mengenai perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kantor BPS Nabire, Kamis, 1 Oktober 2026.
Kepala BPS Kabupaten Nabire, Dio Benuvin Perkasa Ginting, menjelaskan bahwa perkembangan harga selama September tidak terlepas dari sejumlah kondisi lingkungan dan cuaca yang terjadi di wilayah Nabire.
“Beberapa catatan peristiwa penting dapat berpengaruh terhadap indikator-indikator harga,” kata Dio dalam pemaparannya.
Cuaca Ekstrem hingga Karhutla Tekan Produksi
Salah satu kondisi yang menjadi perhatian adalah kemarau panjang dan fenomena El Nino. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi ketersediaan air dan mengganggu produksi pertanian.
Tekanan terhadap sektor pertanian juga diperburuk oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sepanjang periode tersebut, tercatat 23 kejadian karhutla dengan luas wilayah terdampak mencapai sekitar 67,95 hektare.
Kebakaran juga dilaporkan merusak lebih dari 1.052 tanaman sawit muda.
Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pertanian. Kualitas udara di Nabire juga sempat mengalami penurunan. Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nabire, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pernah mencapai 258, yang masuk kategori sangat tidak sehat.
Kabut asap dan berkurangnya paparan sinar matahari turut berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi produksi dan pasokan sejumlah komoditas hortikultura.
Inflasi Bulanan Nabire Capai 2,82 Persen
Secara bulanan, BPS mencatat Nabire mengalami inflasi sebesar 2,82 persen pada September 2026.
Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 116,61 pada Agustus menjadi 119,90 pada September 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan tingkat inflasi mencapai 5,25 persen.
Komoditas yang paling besar memberikan tekanan terhadap inflasi adalah cabai rawit dengan andil sebesar 1,94 persen. Berikutnya terdapat cabai merah sebesar 0,24 persen, angkutan laut 0,15 persen, buah pinang 0,12 persen, dan bayam 0,11 persen.
Menurut BPS, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan tersebut berkaitan dengan kondisi El Nino, keterbatasan air, serta dampak kabut asap akibat karhutla.
Di sisi lain, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Sejumlah barang dan jasa justru memberikan tekanan deflasi. Bawang merah tercatat memberikan andil deflasi 0,09 persen, disusul angkutan udara 0,08 persen, bawang putih 0,06 persen, tahu mentah 0,04 persen, dan wortel 0,03 persen.
Transportasi Jadi Penyumbang Inflasi Tahunan
Jika dibandingkan dengan September 2025, tingkat inflasi Nabire tercatat sebesar 6,16 persen.
Kelompok transportasi menjadi kelompok pengeluaran dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi, yakni 9,78 persen, dengan kontribusi terhadap inflasi sebesar 1,08 persen.
Sementara itu, lima komoditas yang tercatat memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan September 2026 adalah cabai rawit sebesar 1,62 persen, cabai merah 0,45 persen, daging babi 0,32 persen, bensin 0,29 persen, dan kangkung 0,27 persen.
Untuk angkutan laut, kenaikan tarif terjadi setelah berakhirnya periode pemberian diskon sehingga harga kembali ke tarif normal.
Tekanan Harga Berpengaruh pada Rumah Tangga
Perkembangan inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi ekonomi masyarakat Nabire. Kenaikan harga pangan dapat meningkatkan pengeluaran rumah tangga, sementara peningkatan biaya transportasi dapat menambah beban masyarakat dalam mobilitas maupun distribusi barang.
Besarnya kontribusi komoditas pangan juga menunjukkan bahwa kondisi produksi dan pasokan masih menjadi faktor penting dalam pembentukan harga di Nabire.
BPS akan terus memantau perkembangan Indeks Harga Konsumen dan perubahan harga berbagai komoditas untuk memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian daerah pada periode berikutnya.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar