Ibadah Minggu Pagi 7 Oktober 2018 Di GKI Maranatha Malompo Nabire
Ibadah Minggu Pagi 7 Oktober 2018 dilaksanakan di Gereja GKI Maranatha Malompo Nabire. Ibadah tersebut dipimpin pelayan firman, Pdt. Emma Windesi S.PAK.
Sementara bahan renungan terambil dari I Korintus 12:12-31 dengan nats ‘Banyak Anggota Tetap Satu Tubuh”.
Dalam khotbahnya Pdt. Emma Windesi mengatakan, Tuhan telah mengatur sedemikian rupa, tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota tubuh, sehingga semua mendapatkan bagiannya dengan baik. Kecil atau besar anggota tubuh itu, tidaklah menjadi soal. Karena masing-masing telah memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama, yaitu menjaga tubuh dan memastikan semuanya dapat berjalan dengan baik.
Dengan kata lain, tiap-tiap anggota tubuh bertanggung jawab kepada anggota tubuh yang lain. Perbuatan kaki dapat menyakitkan mata dan tangan. Apa yang dilakukan oleh tangan mungkin berbahaya bagi telinga dan hidung. Apabila salah satu anggota tubuh disakiti dari luar, seluruh tubuh akan merasakannya juga.
Demikian halnya dengan jemaat atau gereja sebagai persekutuan orang percaya yang diumpamakan sebagai satu tubuh banyak anggota. Di dalam satu jemaat, ada orang-orang yang berfungsi sebagai pendeta, penatua, diaken, penjaga gereja, penyanyi koor, atau anggota-anggota gereja biasa yang memiliki beragam pekerjaan, seperti guru, dokter, petani, buruh, atau pedagang.
Pendeta memerlukan jemaat dan penatua untuk dapat menggerakkan arah pelayanan. Begitu pula dengan jemaat yang memerlukan pendeta sebagai pemimpin dan panutan. Karena semua sifat yang saling bergantung dan saling melengkapi ini, maka tiap-tiap orang harus menghargai yang lain. Sikap hidup saling menghargai inilah yang sekarang nampaknya semakin langka.
Di akhir khotbahnya, Pdt. Emma Windesi mengatakan, di dunia yang semakin maju dan modern, kebersamaan manusia semakin dituntut dan diharapkan. Saat ini orang lebih memetingkan diri sendiri, individualistis, ada pula yang meremehkan orang-orang kecil dan sederhana. Padahal semakin orang tidak peduli dengan keberadaan orang lain, kehidupan masyarakat akan semakin kacau. Seperti halnya tubuh yang sakit, karena salah satu anggota tidak berfungsi dengan baik.
Gereja sebagai tubuh Kristus harus menjadi contoh yang hidup, bagaimana seharusnya hidup bermasyarakat yang baik. Sebagaimana jemaat diharapkan saling melengkapi dalan hidupnya, demikian juga hendaknya hal tersebut dinyatakan dalam masyarakat, karena jemaat atau gereja merupakan bagian dari masyarakat.
Ibadah juga diisi dengan Paduan suara dari PAM GKI Maranatha Malompo, Solo WYK III, dan Paduan suara PAR.
[Nabire.Net/Aprian]




Leave a Reply