Ibadah Minggu Pagi, 20 November 2016, Di Jemaat GKI Is Kijne Wadio Nabire
Dalam keadaan dunia dilanda krisis global ini, banyak anak-anak Tuhan berseru kepadaNya untuk kelegaan, kelepasan, serta kebebasan. Ini sama seperti yang dialami oleh bangsa Israel dalam bacaan Firman hari ini.
Demikian renungan pada Ibadah Minggu Pagi, 20 November 2016, di Jemaat GKI Is Kijne Wadio Nabire. Ibadah dipimpin oleh Pelayan Firman, Pdt. Mariani Tambunan S.Th, dengan mengangkat ayat renungan dari kita Hakim-Hakim 3:7-11 yang menceritakan tentang keteladanan Otniel.
Riwayat Otniel dimulai dengan keterangan tentang dosa bangsa Israel. Mereka hidup di tengah orang-orang asing, sehingga mereka kawin dengan perempuan-perempuan asing, dan turut memuja de-wa-dewa. Lalu Tuhan menyerahkan mereka kepada Kusyan-Risyataim, raja negeri Aram-Naharaim (nama Ibrani untuk Meso-potamia). Raja itu menindas orang Israel, dan membuat bangsa Israel meraung sete-lah delapan tahun penindasan.
Allah kemudian mencurahkan Roh-Nya ke atas Otniel, adik Kaleb. Otniel sudah menunjukkan kepahlawanannya dengan merebut kota Kiryat-Sefer atau Debir (Yos. 15:17). Ia lalu berhasil mengalahkan Kusyan-Risyataim atau raja Syam (Siria).
Masa damai selama 40 tahun kemudian menjadi pelajaran bagi bangasa Israel untuk tidak lagi hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa lain, karena hanya membuat mereka jatuh ke dalam dosa. Sebagai bangsa pilihan Tuhan, kehidupan mereka harus mempengaruhi kehidupan bangsa-bangsa lain di sekitarnya, bukan melakukan perkawinan campur yang berujung pada penyekutuan Allah.

Sungguh disayangkan jika kita pun menjalani kehidupan seperti orang-orang Israel pada waktu itu. Kita yang seharusnya menjadi teladan bagi sesama orang percaya dan bagi orang belum percaya, malah berkompromi dan terjebak dalam dosa.



Leave a Reply