INFO NABIRE
Home » Blog » Ibadah Minggu Pagi, 17 Juli 2016, Di Jemaat GKI Silo Kalibobo Nabire

Ibadah Minggu Pagi, 17 Juli 2016, Di Jemaat GKI Silo Kalibobo Nabire

b

(Dokpri.Ottow.Yoteni)

Ibadah Minggu Pagi, 17 Juli 2016, di Jemaat GKI Silo Kalibobo Nabire, dipimpin oleh Pelayan Firman Pdt. M. Lawalatta S.Th, dengan mengusung pembacaan Firman dari Injil Lukas 16:1-9 dengan Perikop “Bendahara Yang Tidak Jujur.”

Dalam khotbahnya, Pdt. M. Lawalatta S.Th mengatakan, ini adalah salah satu perumpamaan Yesus yang paling sulit ditafsirkan sebab dengan mudah nanti dapat dianggap seolah-olah Yesus membenarkan atau mentolerir korupsi, pemborosan, dan penyalahgunaan keuangan. Padahal kita tahu Yesus dalam seluruh sikap hidupNya sangat anti kepada kejahatan dan penyimpangan. Dan bila kita baca seksama ayat-ayat sesudah perumpamaan ini justru sangat menekankan sikap yang sangat kritis dan tegas terhadap uang.

Agar tidak salah tafsir maka kita harus menempatkan teks sungguh-sungguh sebagai suatu perumpamaan. Menurut para ahli PB perumpamaan harus diterima sebagai suatu cerita utuh dengan satu pesan atau maksud saja. Perumpamaan tidak bisa ditafsirkan kata per kata atau kalimat per kalimat. Pesan atau maksud perumpamaan yang diberi judul “Bendahara Yang Tidak Jujur” ini adalah agar kita menggunakan waktu genting atau kritis tersisa. Waktu kehidupan ini menurut Yesus sangat kritis dan genting, sebab itu orang harus melakukan sesuatu yang sangat radikal untuk menyelamatkan hidupnya. Bendahara itu dipuji oleh tuannya karena dia tahu melakukan sesuatu menyelamatkan dirinya dalam situasi yang sangat genting itu. Jadi yang dipuji oleh tuannya bukanlah sikap boros apalagi korupsinya namun kecekatan dan kecepatannya bertindak.

Lantas apakah arti perumpamaan Bendahara Tak Jujur ini bagi kita yang hidup sekarang?

Bendahara itu dipuji oleh tuannya karena memikirkan masa depannya dan bertindak sangat cepat untuk mengamankan masa depannya itu. Kita juga dipanggil untuk memikirkan dan melakukan hal-hal yang berguna untuk masa depan kita, tentu dengan cara-cara yang jauh lebih baik dan benar. Apakah itu? Banyak sekali. Bagi kaum muda: belajar sebaik-baiknya selama ada kesempatan. Juga berkarya dan melakukan kebajikan. Setiap karya dan kebajikan adalah modal atau investasi yang sangat berharga ke masa depan. Selain itu membangun jaringan, bersikap hemat dan menabung, masuk asuransi, dan termasuk menjaga kesehatan.

Namun renungan hari ini mengajak kita melihat masa depan lebih dalam lagi. Bukan hanya masa depan secara finansial dan sosial, tetapi juga masa depan secara spiritual. Apakah yang harus kita lakukan untuk mengamankan masa depan kita secara spiritual? Jawabnya: bertobat dan percaya kepada Kristus.

Kedua Menggunakan Waktu Dengan Bijak

Sekali lagi baiklah kita catat bahwa: bendahara dalam perumpamaan ini dipuji bukanlah karena kecerdikan apalagi karena kecurangan atau sikap borosnya, tetapi karena kecekatannya mengamankan masa depannya. Bagaimana dengan kita. Sebagai orang-orang beriman, murid-murid Kristus, seyogianya kita harus lebih cekatan dan cepat serta sigap lagi mengamankan masa depan kita sebab kita tahu waktu kita sangatlah terbatas. Waktu kehidupan ibarat jam pasir atau stopwatch yang mengalir cepat dan suatu saat akan berhenti. Sebab itu tidak ada waktu bagi kita melakukan hal-hal yang jahat atau tidak berguna lagi.

Pergunakanlah waktu yang ada (Efesus 5:16, Kolose 4:5). Waktunya telah singkat! (1 Korintus 7:29). Kesudahan segala sesuatu sudah dekat (1 Petrus 3:7). Hari ini adalah waktu perkenanan itu (2 Korintus 6:2). Semua ayat ini menyadarkan kita untuk memanfaatkan waktu yang tersisa hanya untuk hal-hal yang sangat penting, baik, benar dan indah saja. Waktu kehidupan itu rupanya benar-benar terbatas dan tidak bisa didaur ulang sebab itu jangan disia-siakan.

Pertanyaan: apakah hal-hal yang sangat penting yang harus Saudara dan saya kerjakan hari ini yang selama ini enggan Saudara dan saya lakukan?

Ketiga Belajar Bertanggung Jawab dan Bersahabat

Kita memiliki profesi dan latar belakang pendidikan kita masing-masing. Tidak semua kita berprofesi di bidang keuangan atau bisnis sama seperti bendahara dalam kisah ini. Namun apapun profesi kita, Tuhan memanggil kita agar hidup dan bekerja penuh tanggungjawab. Apapun pekerjaan yang kita lakukan, dimanapun kita bekerja, siapapun majikan kita, Tuhan menyuruh kita bersikap jujur, setia dan dapat dipercaya juga dalam hal keuangan. Ya, Tuhan meminta kita agar menjadikan kejujuran, kesetiaan, dan kepercayaan sebagai prinsip dan sikap hidup kita orang-orang beriman.

Namun bukan hanya itu Tuhan juga memanggil kita membangun hubungan, relasi dan persahabatan. Kita tidak sendirian di dunia ini dan juga tidak hidup untuk diri kita sendiri. Persahabatan dan perkawanan itu hendak kita bangun dalam ketaatan kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Dan baiklah kita ingat Tuhan meminta kita agar tidak melanggar hukum demi persahabatan kita.

Pada akhirnya Tuhan memanggil kita semua menjadikan hidup kita di dunia – betapa pun sempit dan terbatasnya – sangatlah bermakna dan membahagiakan. Itu hanya mungkin jika kita tetap bersama-sama dan dalam Kristus.

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.