BPS Catat Nabire Mengalami Deflasi 1,01 Persen pada Juli 2026, Harga Cabai hingga Tiket Kapal Turun
Nabire, Kabupaten Nabire mencatatkan deflasi sebesar 1,01 persen secara bulanan (month-to-month) pada Juli 2026. Penurunan harga sejumlah bahan pangan yang bertepatan dengan musim panen, ditambah kebijakan potongan tarif angkutan laut, menjadi faktor utama yang mendorong turunnya Indeks Harga Konsumen (IHK) di daerah tersebut.
Data tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nabire, Dio Benuvin Perkasa Ginting, SST, saat menyampaikan Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Kabupaten Nabire, Senin (3/8/2026).
Menurut Dio, terdapat dua kondisi penting yang memengaruhi perkembangan harga selama Juli 2026. Salah satunya adalah dampak musim kemarau yang dipicu fenomena El Nino. Cuaca yang lebih panas dan minim hujan membuat sejumlah komoditas hortikultura lebih cepat matang sehingga masa simpannya menjadi lebih pendek.
“Kondisi tersebut meningkatkan risiko kerusakan hasil panen sehingga distribusi komoditas ke pasar berlangsung lebih cepat. Hal ini ikut memengaruhi penurunan harga beberapa jenis sayur dan buah,” jelas Dio.
Selain faktor cuaca, pemerintah juga menerapkan program diskon 30 persen tarif dasar tiket ekonomi angkutan laut Pelni selama masa libur sekolah. Kebijakan tersebut bertujuan memperlancar mobilitas masyarakat, memperkuat konektivitas antarwilayah, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi.
Berdasarkan data BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) Nabire turun dari 118,07 pada Juni 2026 menjadi 116,88 pada Juli 2026, sehingga menghasilkan deflasi bulanan sebesar 1,01 persen.
Kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap deflasi berasal dari sektor makanan, minuman, dan tembakau dengan tingkat deflasi mencapai 2,31 persen atau memberikan andil sebesar 1,09 persen terhadap penurunan indeks harga.
BPS mencatat lima komoditas yang paling besar menekan laju harga pada Juli 2026. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan andil deflasi 0,54 persen, disusul tomat sebesar 0,38 persen, kacang panjang 0,16 persen, daging ayam ras 0,08 persen, serta angkutan laut sebesar 0,07 persen.
Dio menjelaskan bahwa turunnya harga cabai rawit dan tomat berkaitan erat dengan cuaca panas yang mempercepat proses pematangan hasil panen. Akibatnya, komoditas tersebut harus segera dipasarkan karena memiliki daya simpan yang lebih singkat.
Sementara itu, harga kacang panjang mengalami penurunan karena produksi sedang berada pada masa panen sehingga pasokan di pasar meningkat. Di sisi lain, harga daging ayam ras juga lebih rendah dibanding bulan sebelumnya berkat kondisi pasokan yang relatif stabil.
Penurunan tarif angkutan laut turut memberikan kontribusi terhadap deflasi setelah pemerintah memberlakukan potongan harga tiket ekonomi sebesar 30 persen yang berlaku hingga 15 Agustus 2026.
Meski secara umum terjadi penurunan harga, BPS juga mencatat beberapa komoditas justru mengalami kenaikan selama Juli 2026. Lima komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah tahu mentah dengan andil 0,12 persen, bensin dan angkutan udara masing-masing 0,09 persen, bawang putih sebesar 0,05 persen, serta ikan mumar sebesar 0,04 persen.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, Nabire masih mencatat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 1,7 persen. Angka tersebut menunjukkan laju inflasi yang lebih rendah dibandingkan Juli tahun lalu, menandakan kondisi harga secara umum masih relatif terkendali.
Dalam inflasi tahunan tersebut, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran menjadi penyumbang terbesar dengan tingkat inflasi mencapai 9,44 persen dan memberikan andil sebesar 0,43 persen.
Beberapa komoditas yang paling besar mendorong inflasi tahunan antara lain daging babi dengan andil 0,31 persen, bensin 0,29 persen, emas perhiasan 0,18 persen, serta tahu mentah dan kangkung yang masing-masing menyumbang 0,17 persen.
Di sisi lain, kelompok pendidikan justru mengalami deflasi tahunan sebesar 7,11 persen dengan andil 0,21 persen. Menurut BPS, kondisi tersebut dipengaruhi oleh berakhirnya sejumlah program pembiayaan pendidikan yang sebelumnya ditanggung pemerintah di Kabupaten Nabire.
Data inflasi dan deflasi yang dirilis BPS menjadi salah satu indikator penting untuk memantau stabilitas harga di daerah. Perkembangan harga pangan, biaya transportasi, hingga kebijakan pemerintah akan terus menjadi faktor yang menentukan kondisi inflasi Nabire pada bulan-bulan berikutnya, terutama menjelang perubahan musim dan periode akhir tahun ketika permintaan masyarakat biasanya meningkat.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar