Basarnas Serahkan 13 serpihan Tubuh Korban Bom Biak ke Tim Inafis
Biak Numfor, 2 Juni 2026 – Tragedi besar mengguncang Kompleks Perikanan Fandoi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, setelah ledakan dahsyat yang diduga berasal dari bom sisa Perang Dunia II terjadi pada Minggu (31/5/2026) pukul 14.45 WIT.
Hingga Senin malam (1/6/2026), tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, dan Pemerintah Daerah Biak Numfor masih melakukan operasi pencarian terhadap tiga korban yang dilaporkan hilang. Dalam proses evakuasi, Tim Basarnas berhasil mengamankan 13 serpihan tubuh korban yang kini telah diserahkan kepada Tim Inafis untuk proses identifikasi DNA.
Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan mengungkapkan bahwa insiden tersebut menyebabkan lima warga meninggal dunia, 18 orang mengalami luka-luka, dan 56 warga terpaksa mengungsi ke posko darurat. Seluruh korban meninggal dunia telah dimakamkan di TPU Sorido.
Operasi pencarian sempat mengalami kendala akibat pasang surut air laut dan terbatasnya visibilitas pada malam hari. Tim SAR kini memfokuskan pencarian di wilayah perairan sekitar lokasi ledakan karena korban diduga terbawa arus atau tertimbun puing-puing.
Untuk alasan keamanan, aparat membagi lokasi kejadian menjadi dua zona. Ring 1 yang merupakan pusat ledakan ditetapkan sebagai zona berbahaya dan ditutup total karena belum steril dari ancaman bahan peledak. Tim Jibom dan Puslabfor Polda Papua masih melakukan penyisiran serta investigasi mendalam di lokasi tersebut.
Sementara itu, di Ring 2, petugas berhasil mengamankan sejumlah benda berbahaya berupa dua proyektil militer dan satu granat tangan tipe nanas yang kemudian dimusnahkan melalui prosedur disposal terkendali.
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor juga telah membuka posko terpadu untuk menyalurkan bantuan logistik dan pelayanan kesehatan bagi para pengungsi yang terdiri dari 43 orang dewasa dan 13 balita.
Peristiwa ini menjadi pengingat serius akan bahaya sisa-sisa amunisi Perang Dunia II yang masih tersebar di Biak Numfor. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu medan pertempuran terbesar di Pasifik pada masa perang, sehingga berbagai jenis bom, granat, dan amunisi aktif masih berpotensi ditemukan hingga saat ini.
Aparat mengimbau masyarakat agar tidak memasuki area yang telah dipasang garis polisi serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan benda logam atau objek mencurigakan yang diduga merupakan sisa amunisi perang.
[Nabire.Net/Hendy Mirino]





Tinggalkan Komentar