INFO NABIRE INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Dari Sebungkus Nasi hingga Rumah bagi 68 Anak, Kisah Amos Yeninar di Nabire

Dari Sebungkus Nasi hingga Rumah bagi 68 Anak, Kisah Amos Yeninar di Nabire

(Dari Sebungkus Nasi hingga Rumah bagi 68 Anak, Kisah Amos Yeninar di Nabire)
(Dari Sebungkus Nasi hingga Rumah bagi 68 Anak, Kisah Amos Yeninar di Nabire)

Nabire, Suara puluhan anak menyanyikan lagu rohani terdengar syahdu dari salah satu ruangan di Panti Asuhan Siloam, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Ahad sore, 20 September 2026. Mereka menyanyikan lagu pujian untuk Kristus Sang Raja.

Di ruang lain, tujuh anak duduk dengan buku terbuka. Ada yang mengerjakan tugas dan saling membantu, sementara yang lain bercanda dan berlarian.

Pemandangan sore itu mengguratkan senyum di wajah Amos Yeninar, pria berusia 39 tahun yang berdiri memperhatikan mereka. Pendiri panti asuhan itu tampak sederhana, tetapi memikul tanggung jawab besar atas puluhan kehidupan anak-anak di sana.

Meski lelah, senyumnya mengembang melihat keceriaan anak-anak asuhnya.

(Aktivitas anak-anak di Yayasan Siloam)

Amos kemudian menghampiri anak-anak yang sedang belajar. Sambil tengkurap untuk menyamai posisi tubuh mereka, ia menantang seorang anak berusia tujuh tahun membaca buku di depannya.

Anak itu pun menunjukkan kemampuan membacanya dengan wajah bangga.

Bagi anak-anak Panti Asuhan Siloam, Amos bukan sekadar pendiri yayasan. Ia adalah sosok ayah bagi 68 anak berusia 7 hingga 15 tahun yang menghuni panti tersebut.

Ia tak pernah alpa mengabsen mereka, mengingatkan untuk berdoa, belajar, dan menjaga kebersihan.

“Terima kasih Bapak sudah ajak, kasih makan saya di asrama, jaga saya, kasih masuk sekolah, sampai saya besar, kuat, dan sehat,” kata Jedia Agimbau.

Jedia, yang kini duduk di kelas lima SD Siloam, telah tinggal di panti sejak berusia tujuh tahun. Ia diantar ibunya setelah ayahnya meninggal.

Kini, Jedia berani menatap masa depan. Ia ingin menjadi pendeta.

Amos dan panti yang didirikannya menjadi rumah bagi anak-anak yang sebagian telah kehilangan keluarga. Banyak di antara mereka pernah menjalani kehidupan keras sebagai anak jalanan.

(Anak-anak Yayasan Siloam tetap semangat belajar di malam hari)

Di panti seluas 80 x 70 meter itu, mereka kembali menemukan keluarga sekaligus mendapatkan kesempatan untuk mempersiapkan masa depan.

Sebelas Tahun Lalu, Sebuah Keputusan Mengubah Hidup Amos

Perjalanan Amos bersama anak-anak jalanan bermula sebelas tahun lalu.

Saat itu, ia diliputi kesedihan setelah mendapat vonis dokter bahwa usianya diperkirakan tidak akan panjang karena menderita suatu penyakit yang tidak ingin ia ungkapkan kepada publik.

“Cukup saya dan keluarga yang tahu,” ucapnya pendek kepada Nabire.Net.

Pria asal Kabupaten Supiori, Papua, itu mengaku sempat putus asa.

“Saya sempat berpikir untuk bunuh diri,” ujarnya.

Dalam keputusasaan itu, Amos mengambil keputusan besar. Ia meninggalkan Supiori, kabupaten yang selama ini memberikan kehidupan nyaman baginya.

Jika benar hidupnya tidak panjang, ia ingin sisa hidupnya memberikan manfaat bagi orang lain.

Lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih itu meninggalkan kehidupannya sebagai petugas Puskesmas dan tokoh partai politik besar untuk memulai kehidupan baru yang belum ia bayangkan.

Bersama istrinya, Elvira, dan putra mereka yang saat itu baru berusia dua tahun, Amos berangkat ke Nabire.

Perjalanan dari Supiori ditempuh dengan menumpang speed boat selama sekitar tujuh jam. Ia membawa sepeda motornya untuk bekerja sebagai tukang ojek.

Keluarganya kemudian menyewa sebuah kamar kecil di Nabire.

Sebungkus Nasi Menjadi Pintu Masuk

Suatu ketika, saat melamun di sebuah pantai di Nabire, perhatian Amos tertuju kepada anak-anak yang berjalan mencari makanan dalam keadaan lapar.

Pemandangan itu membuat pikirannya tertuju pada kerasnya kehidupan anak-anak jalanan.

“Muncul jiwa mengasihi anak-anak,” katanya.

Dari situlah arah hidup Amos mulai berubah.

Ia ingin menciptakan rumah yang nyaman bagi anak-anak jalanan di Nabire, meskipun saat itu belum tahu bagaimana caranya.

Pada 2016, Amos mulai mendekati mereka. Hampir setiap malam, ia membawa sekitar 15 nasi bungkus untuk anak-anak di kawasan Pasar Oyehe.

Makanan itu menjadi daya tarik.

Jumlah anak yang datang bertambah. Kedatangan Amos dengan nasi bungkus menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengisi tenaga sebelum kembali menjalani kehidupan di jalan.

Namun Amos menyadari, membangun kepercayaan tidak bisa dilakukan dengan cepat.

“Saya tidak langsung datang dan mengatakan kalian harus ikut saya. Saya melihat kebutuhan mereka makanan,” ujarnya.

Dari makanan, lahir percakapan. Dari percakapan tumbuh kepercayaan.

Sebungkus nasi ternyata menjadi pintu masuk untuk mengenal kehidupan anak-anak tersebut lebih dekat.

Ia Menemukan Mereka Tidak Hanya Kekurangan Makanan

Semakin dekat dengan anak-anak jalanan, Amos menemukan kenyataan yang jauh lebih berat.

Kehidupan keras di jalan membuat sebagian dari mereka bertahan hidup dengan mencuri, mabuk, mengisap lem, hingga terjerumus dalam seks bebas. Perkelahian dan kekerasan juga menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Amos kemudian menyadari bahwa persoalannya bukan hanya perut yang lapar.

Mereka juga kekurangan kasih sayang, perhatian, pendidikan, dan sebuah tempat yang dapat disebut rumah.

Bantuan nasi bungkus yang diberikan Amos akhirnya menarik perhatian banyak orang.

Ketika pandemi Covid-19 berlangsung, ia tetap membagikan makanan kepada anak-anak jalanan dengan menyisihkan penghasilannya sebagai tukang ojek. Kisah tersebut kemudian viral dan bantuan mulai berdatangan.

Saat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise berkunjung ke Nabire, Amos mendapat kesempatan mempresentasikan pelayanan yang dilakukannya.

Dukungan pun semakin mengalir.

Sebuah gedung milik pemerintah setempat di Jalan Yos Sudarso, Oyehe, yang sebelumnya kerap digunakan untuk pertemuan ibu-ibu PKK, diserahkan kepada Amos untuk digunakan sebagai rumah singgah.

Ia menamainya Rumah Singgah Pemulihan Generasi Emas Papua.

Namun perjalanan itu tidak mudah.

Puluhan anak datang ke rumah singgah terutama untuk makan. Amos perlahan mencoba mengubah tempat tersebut menjadi rumah dalam arti sebenarnya dan mengajak mereka meninggalkan kebiasaan seperti ngelem, mabuk, serta konsumsi narkoba.

Perubahan ternyata tidak mudah. Banyak anak kembali ke jalan.

Bahkan rumah singgah itu pernah dilempari batu dan dibakar oleh anak-anak yang sebelumnya datang ke sana.

“Yang lebih parah, rumah singgah yang kita tempati dibakar oleh mereka sendiri,” kata Amos.

Selama sekitar setahun menghadapi situasi tersebut, Amos mengaku sempat patah arang.

Lima Anak Menjadi Awal Panti Asuhan Siloam

Titik perubahan berikutnya datang setelah Amos bertemu Daniela, perempuan asal Korea Selatan yang pernah menangani anak-anak dengan kondisi serupa di Jayapura.

Pertemuan itu terjadi di Sekolah Pengharapan.

Pesan Daniela kepada Amos sederhana: jangan menunggu terlalu lama dan mulailah dari anak-anak yang masih kecil.

Amos mengikuti saran tersebut.

Sekitar 2018–2019, ia membawa lima anak berusia sekitar 5 hingga 10 tahun dari kawasan Pasar Karang, Kalibobo.

Kelima anak dengan latar belakang berbeda itu kemudian menjadi cikal bakal Panti Asuhan Siloam.

Dengan modal tabungan Rp1 juta, Amos mulai membangun rumah panti di Jalan Jayanti.

Awalnya, rumah itu jauh dari kata mewah. Bangunannya terbuat dari kayu dengan dinding tripleks dan berukuran sekitar 20 x 30 meter.

Namun bagi anak-anak yang tinggal di sana, rumah itu memberikan sesuatu yang sangat berarti: tempat tidur, makanan yang layak, pendidikan, dan seseorang yang menunggu mereka pulang.

“Mereka punya seseorang yang menunggu pulang,” ucap Amos.

Siloam Tumbuh dari Bantuan-Bantuan Kecil

Amos kemudian berhenti menjadi tukang ojek setelah unggahan mengenai pelayanannya viral dan mendorong semakin banyak orang memberikan bantuan.

Ada yang menyumbangkan bahan bangunan. Ada yang membantu papan dan batu.

Sedikit demi sedikit, Siloam berkembang.

Rumah panti yang sebelumnya berdinding tripleks perlahan berubah.

Namun kebutuhan sehari-hari tidak selalu mudah dipenuhi.

Siloam belum memiliki donatur tetap yang menjamin kebutuhan makanan setiap hari. Ada saat ketika persediaan makanan benar-benar habis dan beras tidak mencukupi.

Pada hari-hari seperti itu, anak-anak hanya makan pisang.

Bagi Amos, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Ia terus mengajarkan anak-anak untuk rajin berdoa dan bersyukur.

“Saya mengajarkan mereka untuk tetap bersyukur,” katanya.

Dari Bangun Pagi hingga Menyiapkan Masa Depan

Hari anak-anak di Siloam dimulai sekitar pukul 05.00 WIT.

Sebelum bersekolah, mereka beribadah pagi, membersihkan halaman, kemudian sarapan.

(Anak-anak menikmati sarapan)
(Anak-anak menikmati sarapan)

Bagi Amos, pendidikan karakter menjadi salah satu tujuan utama.

Ia berusaha membentuk kebiasaan baru bagi anak-anak yang sebagian sebelumnya hidup tanpa aturan yang teratur.

“Seiring berjalannya waktu, karakter yang dulu jelek sekarang ada perubahan signifikan,” katanya.

(Anak-anak dilatih memiliki ketrampilan dan rajin bekerja)
(Anak-anak dilatih memiliki ketrampilan dan rajin bekerja)

Namun pendidikan bagi Amos tidak berhenti di ruang kelas.

Ia juga ingin anak-anak memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk hidup mandiri.

Sejak 2024, hampir 20 anak Papua dikirim ke Malang untuk mengikuti pelatihan keterampilan bersama BLK Stream, lembaga yang memberikan pelatihan vokasional secara gratis.

Mereka belajar otomotif, desain grafis, komputer, mebel, dan menjahit selama sekitar satu tahun.

Yayasan Siloam menanggung kebutuhan hidup selama pelatihan serta tiket keberangkatan. Setelah menyelesaikan pelatihan, mereka mengikuti magang di Bali dan memperoleh sertifikat.

Belasan anak telah kembali ke Nabire dan mulai mandiri.

Saat ini, menurut Amos, masih ada sembilan anak yang mengikuti pelatihan di Malang. Pada 24 September, tujuh anak lainnya direncanakan berangkat menyusul kakak-kakaknya.

“Kalau sudah selesai, ada beberapa anak yang bilang, ‘Kakak, nanti selesai, kami balik lagi’,” tuturnya.

Siloam Kini Bukan Hanya Panti

Panti Asuhan Siloam kini telah berkembang jauh dari bentuk awalnya.

Lahan yang dahulu sempit berkembang hampir tiga kali lipat. Siloam tidak hanya memiliki panti asuhan, tetapi juga taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang terbuka bagi anak-anak dari luar panti.

Jumlah siswanya telah mencapai lebih dari 150 orang.

(Makan malam anak-anak Yayasan Siloam)
(Makan malam anak-anak Yayasan Siloam)

Empat tahun lalu, penggalangan dana melalui Kitabisa.com menghasilkan donasi sekitar Rp600 juta untuk pembangunan TK dan SD tiga kelas.

Sebagian dana digunakan untuk pembangunan, sementara sebagian lainnya untuk menggaji guru dan pengasuh.

Dukungan juga datang dari pemerintah.

Dinas Sosial Kabupaten Nabire membantu terutama dalam bentuk bahan makanan. Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire membantu pembangunan satu ruang kelas pada 2025.

Dinas Pendidikan Kabupaten Paniai juga membantu satu ruang kelas dan pagar. Pada tahun yang sama, Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa turut memberikan bantuan.

Bukan Lagi Mengejar Mimpi Sendiri

Amos pernah memiliki cita-cita menjadi bupati.

Kini, ia memilih berada dekat dengan anak-anak.

Ayah dua anak itu ingin mempersiapkan, membekali, dan mendampingi anak-anak terlantar agar suatu hari mereka dapat menentukan masa depannya sendiri.

“Saya ambil keputusan biar anak-anak ini yang menjadi orang sukses.”

Ia ingin anak-anak yang dibinanya mampu berdikari.

“Saya sebatas siapkan mereka dan gantikan sa punya mimpi. Suatu saat saya akan lihat kalian berhasil.”

(Amos Yeninar berkaos hitam sebelah kiri bersama anak-anak binaannya)

Di balik semua yang telah dibangun, Amos masih menyimpan satu mimpi.

Ia berharap Yayasan Siloam suatu hari dapat berkembang menjadi balai latihan kerja melalui Siloam Training Center.

“Memang kita punya mimpi mau buat Siloam Training Center. Jadi sejenis satu tempat pelatihan yang betul-betul mendidik anak-anak seperti Stream tadi,” katanya.

(Anak-anak Yayasan Siloam Nabire)

Sebuah mimpi yang berawal dari sesuatu yang sederhana: sebungkus nasi untuk anak-anak yang lapar.

Kini, mimpi itu telah tumbuh menjadi rumah, sekolah, tempat belajar, dan ruang bagi puluhan anak untuk menatap masa depan.

*Penulis: Sitti Hawa/Wartawan Aktif di Nabire.Net

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.