INFO NABIRE
Home » Blog » Perusahan Sawit Di Nabire Terus Tambah Areal Masyarakat Yerisiam Gua Secara Sepihak

Perusahan Sawit Di Nabire Terus Tambah Areal Masyarakat Yerisiam Gua Secara Sepihak

PT.Nabire Baru dan PT.Sariwana Adhi Perkasa perkebunan kelapa sawit (GoodHope Group) terus melakukan pembukaan areal baru masyarakat Yerisiam. Beberapa waktu lalau (27/02) masyarakat Yerisiam melakukan pertemuan guna membahas penambahan-penambahan areal oleh perusahan kelapa sawit secara sepihak, dan langsung menghentikan aktitas penebangan tersebut.

Masyarakat Yerisiam mengatakan penambahan areal-areal oleh perusahan tersebut tidak diketahui.

Menurut Sekertariat Suku Yerisiam Gua, Roberthino Hanebora, PT.Nabire Baru dan PT.Sariwana Adi Perkasa terus melakukan penambahan areal, dan menebang pohon-pohon baru tanpa persetujuan dan tak diketahui masyarakat.

Lanjut Tino panggilan akrabnya, penebangan Dusun Sagu kermat Yerisiam saja belum diselesaikan, dan kini dia lakukan penebangan areal baru.

“Kami sudah sampaikan bahwa tidak ada penebangan-penebangan hutan lagi untuk di jadikan kebun sawit. Karena masalah dusun belum selesai, tapi dua perusahan sawit itu terus lakukan pembukaan areal baru,” tutur Tino.

“PT.Nabire Baru dan PT.Sariwana Adi Perkasa itu perusahan yang tak mengormati keinginan masyarakat tapi juga tak menghargai undang-undang sebagai panglima tertinggi di Negara ini. Sudah banyak hal dilanggar dan diabaikan, pemerintah dan lembaga terkait seperti RSPO perlu mereview ulang keberadaan perusahan tersebut, karena tak ada perubahan yang signifikan kepada masyarakat pemilik, yang ada hanya timbul konflik-konflik yang lama maupun yang baru. Kalau seperti ini apa yang mau diharapakan dari investasi ini ?”, keluh Thino.

Seperti di ketahui, pada bulan April 2016 lalu PT.Nabire Baru melakukan penebangan dusun sagu keramat masyarakat Yerisiam Gua tampa persersetujuan masyarakat dengan alasan dijadikan lahan plasma. Padahal masyarakat sudah menolak. Masyarakat juga sudah melaporkan kepada DPRD Nabire dan membentuk Pansus namun hingga kini pansus tersebut tak ada kabar.

Laporan lainya juga disampaikan kepada RSPO (Roundtable on Sustainnable Palm Oil) sebuah wadah yang menentukan masa depan perusahan sawit di Indonesia dalam bisnis usahanya dengan kriteria menghargai hak Masyarakat Adat. Respon RSPO mereka sudah melekukan investigasi ke kampung sima terkait laporan masyarakat Yerisiam.

Tanggal 15 Maret 2017 nanti, direncanakan akan ada pertemuan masyarakat Yerisiam dengan perwakilan PT.Nabire Baru (GoodHope Group) untuk menentukan dan memilih pihak mediator untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan antara masyarakat Yerisiam dengan induk Perusahan PT.Nabire Baru (GoodHope Holdings Company).

Pertemuan ini adalah bagian dari aturan dan syarat RSPO untuk menyelesaikan masalah PT.Nabire Baru dengan memilih pihak mediator untuk menyelesaikan konflik tersebut.

[Nabire.Net/Roberthino.Hanebora]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.