“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Matius 26:34).
Demikian kutipan ayat dari Nats Firman Tuhan pada Ibadah Minggu Palma, 20 Maret 2016, di Jemaat GKI Sola Scriptura Kali Harapan Nabire, dengan mengambil pembacaan Firman dari Injil Matius 26:30-35 dengan perikop “Petrus akan Menyangkal Yesus.” Ibadah ini dipimpin oleh Pelayan Firman, Pdt Eveline Maraja Pondaag S.Th.
Dalam khotbahnya, Pdt Eveline Maraja Pondaag S.Th mengatakan, Tuhan Yesus memperingatkan Petrus bahwa setelah Ia ditangkap nanti, Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali.
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Mat. 26:34). Sebelum dan sesudah Yesus mengatakan itu, Petrus masih ngotot bahwa ia adalah murid yang paling setia: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” (Matius 26:33). Kata Petrus kepada-Nya: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Nubuat Kristus akan penyangkalan Petrus terhadap diri-Nya, ternyata terbukti. Matius 26:69-75 mencatat, Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok. Pertanyaan: “Mengapa Petrus dapat melakukan penyangkalan ini?” Ada 2 penjelasan.
Pertama, Petrus menggangap dirinya superior dan memandang enteng peringatan Tuhan Yesus. Dengan kata lain, Petrus ingin menyatakan bahwa peringatan Tuhan Yesus itu tidak benar dan tidak akan berlaku untuk dirinya. Bukan itu saja, ketika ia berkata: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak,” Petrus melakukan kesalahan yang lain, yakni menggangap diri lebih superior daripada murid-murid yang lain. Disinilah letak kesalahan terbesar dari Petrus, yakni ia overconfidence akan kemampuan dirinya.
Seharusnya Petrus belajar dari cerita tokoh-tokoh terkenal dari Perjanjian Lama, yang menyombongkan diri dan pada akhirnya jatuh. Misalnya raksasa Goliat (1 Samuel 17:44,51); raja Aram Benhadad, (1 Raja-raja 20:11-21); Panglima Persia Haman (Ester 5:11,12; 7:10); raja Asyur, Sanherib (2 Tawarikh 32:14,19,21). Amsal 16:18 mengatakan: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.”
Kedua, penyangkalan Petrus terhadap Yesus adalah suatu kejadian yang diizinkan Tuhan untuk membawa Petrus kepada pertobatan yang sejati. Bila kita membaca Matius 26:69-75, kita dapat merasakan tekanan yang semakin meningkat akan penyangkalan Petrus. Pada penyangkalan pertama, Petrus hanya berkata: “Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.” Penyangkalan kedua, Petrus dengan bersumpah berkata: “Aku tidak kenal orang itu.” Pada penyangkalan ketiga, Petrus mulai mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang itu.”
Bayangkan, dalam beberapa jam saja, Petrus yang begitu sombong telah berubah menjadi begitu pengecut. Tapi Tuhan Yesus adalah Allah yang begitu pengasih. Ketika Petrus jatuh begitu dalam, Dia tidak membuangnya, Saat itu juga, dengan muka yang bengkak dan penuh darah, Yesus memandang Petrus dengan pengampunan (Lukas 22:6). Petrus yang melihat pandangan Kristus yang demikian, tidak tahan, ia pergi keluar dan menangis. Tangisan itu adalah tangisan pertobatan. Ini terbukti, setelah Yesus bangkit dan tiga kali bertanya, apakah Petrus mengasihi-Nya, Petrus hanya menjawab: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Yesus kemudian menjawab: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus tahu, hanya gembala yang rendah hati, dapat diserahi domba-domba-Nya. Amin.
Tinggalkan Komentar