Inflasi Nabire Oktober 2026 Tembus 5,97 Persen, BPS Ungkap Penyebabnya
Nabire, Inflasi tahunan Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mencapai 5,97 persen pada Oktober 2026. Kenaikan harga tersebut terutama dipengaruhi komoditas pangan, khususnya cabai rawit dan cabai merah, di tengah gangguan produksi hortikultura akibat fenomena El Niño dan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nabire menunjukkan tekanan harga juga terjadi secara bulanan. Pada Oktober 2026, inflasi month-to-month (mtm) tercatat sebesar 0,26 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 119,90 pada September menjadi 120,21.
Kepala BPS Kabupaten Nabire, Dio Benovin Perkasa Ginting, menyampaikan perkembangan tersebut dalam pemaparan Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (2/11/2026).
Angka inflasi tahunan sebesar 5,97 persen menjadi perhatian karena melampaui angka 3,5 persen yang disebutkan BPS sebagai batas atas target inflasi pemerintah.
Harga Cabai dan Sayuran Dorong Inflasi Nabire
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan di Nabire. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,71 persen dengan andil yang dilaporkan sebesar 0,34 persen.
Berdasarkan pemantauan BPS, cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni 0,33 persen. Posisi berikutnya ditempati cabai merah sebesar 0,21 persen, kangkung 0,08 persen, tomat 0,07 persen, dan ketimun 0,07 persen.
Dominasi komoditas hortikultura tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga bahan pangan segar masih menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi perkembangan harga kebutuhan masyarakat di Nabire.
Kenaikan harga sejumlah komoditas itu berkaitan dengan kondisi cuaca dan lingkungan yang memengaruhi hasil pertanian. Fenomena El Niño serta kabut asap akibat karhutla dilaporkan mengganggu produksi sehingga hasil panen belum optimal dan pasokan di pasar ikut terpengaruh.
Keterbatasan pasokan ketika permintaan tetap berlangsung dapat mendorong harga komoditas pangan naik. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pengeluaran rumah tangga, terutama untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.
BPS Catat 405 Titik Panas di Nabire
Selain mencermati perkembangan harga, BPS Kabupaten Nabire menyoroti kondisi lingkungan yang menyertai tekanan inflasi tersebut.
Dio mengungkapkan, sebanyak 405 titik panas terdeteksi di Kabupaten Nabire selama periode 1–18 Oktober 2026.
Temuan itu menjadi perhatian karena karhutla tidak hanya berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menghasilkan kabut asap yang dapat berdampak terhadap kesehatan.
Gangguan lingkungan dan pertanian tersebut perlu menjadi perhatian bersama, mengingat ketersediaan pangan berkaitan erat dengan stabilitas harga di pasar. Pemantauan kondisi cuaca, pasokan komoditas, serta perkembangan harga menjadi penting untuk mengantisipasi tekanan inflasi berikutnya.
Harga Daging Babi Turun, Pemerintah Jaga Stabilitas Pasar
Di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pangan, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi bulanan.
Daging babi memberikan andil deflasi terbesar sebesar 0,33 persen. Berikutnya, angkutan udara menyumbang deflasi 0,09 persen, ikan cakalang 0,07 persen, ikan mumar 0,05 persen, dan wortel 0,05 persen.
Penurunan harga daging babi berkaitan dengan kesepakatan Pemerintah Kabupaten Nabire bersama peternak dan pemotong daging babi yang menetapkan harga sebesar Rp150.000 per kilogram.
Kesepakatan tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi pasar bagi peternak lokal. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa kebijakan harga dan koordinasi antarpelaku pasar dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.
Meski demikian, dampak kebijakan terhadap inflasi secara keseluruhan tetap perlu dilihat bersama perubahan harga komoditas lainnya.
Inflasi Tahunan 5,97 Persen, Makanan dan Restoran Tertinggi
Jika dibandingkan dengan Oktober 2025, inflasi Kabupaten Nabire pada Oktober 2026 tercatat sebesar 5,97 persen. Berdasarkan kelompok pengeluaran, penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi tahunan tertinggi, yakni 9,62 persen, dengan andil sebesar 0,45 persen.
Dari sisi komoditas, cabai rawit kembali menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 2,23 persen. Cabai merah menyusul sebesar 0,72 persen, kemudian bensin 0,29 persen, minyak goreng 0,24 persen, dan telur ayam ras 0,17 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan harga tidak hanya berasal dari komoditas pangan segar. Bahan bakar dan sejumlah kebutuhan rumah tangga lainnya juga berkontribusi terhadap inflasi tahunan.
Sementara itu, beberapa komoditas mengalami penurunan harga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Daging babi memberikan andil deflasi sebesar 0,25 persen, diikuti biaya sekolah menengah atas (SMA) sebesar 0,11 persen, bawang merah 0,10 persen, beras 0,08 persen, dan bunga pepaya 0,08 persen.
Stabilitas Harga Pangan Jadi Perhatian
Perkembangan inflasi Oktober 2026 menunjukkan bahwa kenaikan harga di Nabire masih dipengaruhi kombinasi faktor pasokan pangan, kondisi lingkungan, serta perubahan harga berbagai kebutuhan masyarakat.
Bagi masyarakat, tekanan harga berpotensi memengaruhi daya beli, terutama apabila kenaikan terjadi pada bahan pangan yang dikonsumsi sehari-hari.
Karena itu, pemantauan harga dan ketersediaan pasokan perlu menjadi perhatian pemerintah daerah bersama pelaku usaha, petani, peternak, dan pihak terkait lainnya.
Data BPS Kabupaten Nabire menjadi salah satu acuan untuk mengevaluasi perkembangan harga dan menentukan langkah pengendalian inflasi. Perkembangan cuaca, hasil panen, distribusi komoditas, serta efektivitas upaya stabilisasi harga akan menjadi faktor penting dalam melihat arah inflasi Nabire pada periode berikutnya.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar