1.700 Kasus TBC Ditemukan di Nabire hingga September 2026, Dinkes Ingatkan Pasien Tuntaskan Pengobatan
Nabire, Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mencatat sebanyak 1.700 kasus tuberkulosis (TBC) hingga September 2026. Jumlah tersebut baru mencapai sekitar 70 persen dari target estimasi penemuan sebanyak 2.436 kasus, sehingga upaya menemukan penderita dan memastikan pengobatan berjalan hingga tuntas masih menjadi perhatian pemerintah daerah.
Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (P2PM) atau Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Alfred Denis Lambey, mengatakan penemuan kasus TBC terus diintensifkan melalui berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas, rumah sakit hingga klinik.
Hal itu disampaikan Alfred saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (30/10/2026). Ia menjelaskan, capaian penemuan kasus saat ini masih berada di bawah target program yang ditetapkan sebesar 90 persen.

Menurutnya, keterlibatan seluruh fasilitas kesehatan diperlukan agar masyarakat yang mengalami gejala TBC dapat segera menjalani pemeriksaan dan memperoleh penanganan yang sesuai.
Rumah Sakit Catat Penemuan Kasus Tertinggi
Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), rumah sakit menjadi fasilitas pelayanan kesehatan dengan jumlah penemuan kasus TBC tertinggi di Kabupaten Nabire.
Sementara itu, pada tingkat puskesmas, Puskesmas Bumi Wonorejo mencatat jumlah penemuan kasus terbanyak dengan 202 kasus. Berikutnya, Puskesmas Karang Tumaritis mencatat 181 kasus, SP Kalibobo sebanyak 109 kasus, Siriwini 106 kasus, dan Samabusa 86 kasus.
Data tersebut menunjukkan bahwa puskesmas memiliki peran penting dalam mendukung penemuan kasus, pemeriksaan awal, serta pelayanan pengobatan bagi masyarakat.
Kabupaten Nabire sendiri memiliki 32 puskesmas, satu rumah sakit, serta sejumlah klinik yang turut mendukung pelayanan kesehatan, termasuk penanganan TBC.
Dengan jaringan fasilitas tersebut, Dinas Kesehatan terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit menular tersebut.
Kenali Gejala dan Cara Penularan TBC
Alfred menjelaskan, tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mengenai organ lain, seperti tulang, kelenjar getah bening, hingga selaput otak.
Penularan TBC terjadi melalui udara ketika penderita TBC menular mengeluarkan partikel yang mengandung bakteri saat batuk, bersin, berbicara, atau melakukan aktivitas lain yang menghasilkan aerosol. Partikel tersebut dapat terhirup oleh orang lain.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, terutama lebih dari tiga minggu, sesak napas, nyeri dada, demam ringan, menggigil, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan, berkurangnya nafsu makan, dan tubuh mudah lelah.
Masyarakat yang mengalami gejala tersebut dianjurkan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk menjalani pemeriksaan. Langkah ini penting agar penyakit dapat diketahui lebih awal dan penanganan tidak terlambat.
Dalam proses diagnosis, petugas kesehatan dapat mengambil sampel dahak pasien untuk diperiksa menggunakan mesin Tes Cepat Molekuler (TCM). Pemeriksaan tersebut membantu mendeteksi materi genetik bakteri penyebab TBC sekaligus mendukung penentuan penanganan yang tepat.
Pengobatan TBC Harus Sampai Tuntas
Selain meningkatkan penemuan kasus, Dinas Kesehatan Nabire menghadapi tantangan dalam memastikan pasien yang telah terdiagnosis tetap menjalani pengobatan sesuai jadwal.
Alfred mengungkapkan, sebagian pasien menghentikan konsumsi obat ketika merasa kondisi tubuhnya sudah membaik. Padahal, hilangnya gejala belum tentu berarti seluruh bakteri penyebab TBC telah teratasi.
“Biasanya orang minum obat TBC selama satu bulan, kemudian merasa sudah enak dan tidak melanjutkan pengobatan. Ini yang harus kita hindari. Obat harus diminum secara teratur selama enam bulan untuk membunuh kuman Mycobacterium tuberculosis di dalam tubuh,” jelas Alfred.
Ia menerangkan, pengobatan TBC sensitif obat (TBC SO) umumnya berlangsung selama enam bulan, bergantung pada kondisi pasien dan regimen yang diberikan. Sementara itu, pasien dengan TBC resisten obat (TBC RO) dapat membutuhkan pengobatan yang lebih panjang, sesuai hasil pemeriksaan dan regimen yang ditetapkan tenaga medis.
Penghentian obat tanpa arahan tenaga kesehatan dapat menyebabkan pengobatan gagal, meningkatkan risiko kekambuhan, dan berkontribusi terhadap munculnya resistensi obat.
Karena itu, pasien diharapkan berkonsultasi dengan petugas kesehatan apabila mengalami efek samping atau kendala selama pengobatan, bukan menghentikan konsumsi obat secara sepihak.
Capaian Pengobatan TBC Nabire Mendekati Target
Dari sisi dimulainya pengobatan, Alfred menyebutkan bahwa capaian enrollment rate atau proporsi pasien TBC sensitif obat yang memulai pengobatan telah mencapai 90 persen dari target 95 persen.
Capaian tersebut didukung oleh kerja petugas kesehatan di puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Meski demikian, upaya lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan pasien yang telah ditemukan dan didiagnosis tidak terputus dari layanan pengobatan.
Dinas Kesehatan juga mengajak masyarakat menerapkan gerakan TOSS TBC, yakni Temukan, Obati, Sampai Sembuh.
Dalam pelaksanaannya, pasien dapat didampingi Pengawas Menelan Obat (PMO) yang berasal dari anggota keluarga, petugas kesehatan, kader kesehatan, maupun tokoh masyarakat. Pendampingan ini diharapkan membantu pasien meminum obat secara teratur dan menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran.
Obat TBC Gratis, Masyarakat Diminta Hindari Stigma
Pemerintah Kabupaten Nabire, menurut Alfred, telah memberikan perhatian terhadap pengendalian TBC melalui surat edaran bupati dan keputusan terkait upaya penanggulangan penyakit tersebut pada 2026.
Ia menambahkan, obat TBC tersedia secara gratis melalui layanan puskesmas dengan dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ketersediaan obat ini diharapkan membantu pasien mengakses pengobatan tanpa terbebani biaya obat.
Alfred juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengucilkan orang yang terdiagnosis TBC. Dukungan keluarga dan lingkungan dinilai penting untuk membantu pasien menjalani pengobatan hingga selesai.
“Kalau ada keluarga atau saudara kita yang terinfeksi TBC, jangan jauhi mereka. Berikan pengertian dan dukungan karena TBC dapat disembuhkan apabila pasien minum obat secara teratur sampai tuntas,” ujarnya.
Menurut Alfred, keberhasilan pengendalian TBC tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan dan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat.
Ke depan, peningkatan penemuan kasus, pemeriksaan sedini mungkin, kepatuhan minum obat, serta pengurangan stigma diharapkan dapat memperkuat upaya penanggulangan TBC di Kabupaten Nabire.
Masyarakat yang mengalami gejala mencurigakan diimbau segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Deteksi dini dan pengobatan sesuai petunjuk tenaga medis menjadi langkah penting untuk membantu pasien sembuh sekaligus menekan risiko penularan di lingkungan keluarga dan masyarakat.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar