Freeport Jadi Tuan Rumah IFRC 2026, 17 Tim Siap Berlaga di Mimika
Mimika, Sebanyak 17 tim tanggap darurat dari berbagai perusahaan di Indonesia akan mengikuti 8th Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) 2026 di Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada 23–31 Oktober 2026. Kompetisi ini menjadi ajang untuk menguji kemampuan penyelamatan sekaligus memperkuat standar keselamatan di sektor pertambangan dan energi.
IFRC 2026 diselenggarakan oleh Perhimpunan Tanggap Darurat di Bidang Pertambangan dan Energi Indonesia (PERTAPINDO) bersama PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kepala Teknik Tambang PTFI, Carl Tauran, mengatakan perusahaan bangga kembali dipercaya menjadi tuan rumah kompetisi tersebut. Freeport tercatat menjadi tuan rumah IFRC untuk ketiga kalinya setelah penyelenggaraan pada 1996 dan 2005.
“Bagi kami, kegiatan ini merupakan ajang untuk berbagi praktik terbaik dalam penanganan keadaan darurat di sektor pertambangan dan energi,” kata Carl dalam konferensi pers persiapan IFRC 2026 di Kuala Kencana, Rabu (21/10/2026).
Menurut Carl, keselamatan merupakan prinsip utama dalam operasional perusahaan. Karena itu, kesiapsiagaan tim tanggap darurat menjadi fondasi penting untuk memastikan kegiatan operasional berjalan aman.
Ia berharap IFRC 2026 tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memperkuat sinergi ant perusahaan dalam menghadapi tantangan penyelamatan yang semakin kompleks seiring perkembangan teknologi.
Delapan Kategori Kompetisi Penyelamatan
Ketua Panitia IFRC 2026, Periyadi, mengatakan persiapan kompetisi telah dilakukan sejak tahun sebelumnya. Panitia menyiapkan berbagai fasilitas dan lokasi pertandingan untuk mendukung delapan kategori yang diperlombakan.
Pertandingan berlangsung di sejumlah lokasi, yakni Fireground Kuala Kencana, Mimika Sport Complex (MSC), gedung serbaguna Kuala Kencana, dan Danau MP28.
Delapan kategori kompetisi tersebut meliputi Firefighter Competency Test dan Individual Skill, Road Accident Rescue, Confined Space Rescue, High Angle Rescue Technique, Collapsed Structure Search and Rescue, Structural Fire Fighting, Underwater Rescue and Recovery, serta Firefighter Combat Challenge.
Setiap kategori menguji keterampilan khusus, mulai dari penanganan kecelakaan kendaraan, evakuasi di ruang terbatas dan ketinggian, pencarian korban di reruntuhan, hingga pemadaman kebakaran bangunan dan penyelamatan di bawah air.
Sementara itu, Firefighter Combat Challenge menguji kecepatan, ketahanan fisik, dan kemampuan peserta melalui rangkaian rintangan yang mereplikasi tugas petugas pemadam kebakaran.
Sebanyak 17 tim peserta berasal dari berbagai perusahaan pertambangan dan energi, termasuk dua tim tuan rumah, yakni PTFI Amungme Team dan PTFI Kamoro Team. Peserta lainnya berasal dari PT ANTAM Tbk, PT Adaro Indonesia, PT Bumi Suksesindo, PT Vale Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), serta sejumlah perusahaan lainnya.
Libatkan Pelajar dan UMKM Lokal
Selain pertandingan, IFRC 2026 menghadirkan kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya melalui program Safety Goes to School yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Oktober 2026 di 10 sekolah di Mimika.
Program tersebut bertujuan memperkenalkan dasar-dasar keselamatan, penanganan keadaan darurat, dan pentingnya membangun budaya keselamatan sejak usia sekolah. Kegiatan ini ditargetkan menjangkau sekitar 1.000 siswa.
Panitia juga menyiapkan program pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal pada 26–29 Oktober 2026.
PTFI turut merencanakan promosi kebudayaan suku Kamoro dan Amungme melalui pertunjukan seni budaya serta peresmian patung Kamoro yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu pagi.
IFRC Jadi Evaluasi Kesiapsiagaan Tim
Koordinator juri IFRC dari PERTAPINDO, Wiyono Winarno, menegaskan bahwa kompetisi penyelamatan tidak semata-mata bertujuan menentukan tim terbaik. Ajang ini juga menjadi sarana mengevaluasi kemampuan personel, efektivitas tindakan, dan penerapan keselamatan dalam operasi penyelamatan.
Menurut Wiyono, keberhasilan penyelamatan tidak cukup diukur dari kemampuan mengevakuasi korban. Seluruh proses harus dilakukan secara efektif dan aman, baik bagi korban maupun petugas penyelamat.
“Ujian yang sesungguhnya ada di lapangan. Kompetisi ini menjadi sarana untuk meningkatkan kompetensi tim agar tidak hanya mampu melakukan penyelamatan, tetapi juga bekerja secara efisien dan mengutamakan keselamatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi, perubahan personel, serta perbedaan prosedur dan peralatan menuntut tim tanggap darurat untuk terus memperbarui kemampuan.
Karena itu, IFRC 2026 juga memperkenalkan pendekatan dan teknologi penyelamatan modern, termasuk penggunaan virtual reality dalam salah satu skenario pelatihan serta teknologi untuk membantu pencarian korban. Teknik pencarian manual tetap menjadi bagian dari materi yang diperkenalkan.
PERTAPINDO juga menghadirkan juri internasional dari berbagai wilayah untuk memperkaya perspektif penilaian dan pertukaran pengetahuan antartim.
Sejak 2024, penyelenggaraan IFRC yang sebelumnya berlangsung setiap tahun diubah menjadi dua tahunan. Perubahan ini memberikan ruang bagi perusahaan untuk mengembangkan pelatihan internal dan kompetisi tingkat regional.
Melalui IFRC 2026 di Mimika, peningkatan kompetensi diharapkan tidak berhenti di arena pertandingan, tetapi juga diterapkan dalam kegiatan operasional sehari-hari guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat di sektor pertambangan dan energi.
[Nabire.Net/Yosef Doo]





Tinggalkan Komentar