Kabupaten Nabire Masuk 2 Besar Nasional dalam Program Pencegahan Hepatitis B
Nabire, Kabupaten Nabire kembali menorehkan prestasi di bidang kesehatan dengan meraih peringkat kedua nasional dalam pelaksanaan Program Pencegahan Penularan Hepatitis B dari Ibu ke Anak (PPIA). Penghargaan tersebut diberikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada peringatan Hari Hepatitis Sedunia yang berlangsung di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, pada 28 Juli 2026.
Capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan tenaga kesehatan di Kabupaten Nabire dalam menjalankan program pencegahan hepatitis B, khususnya bagi ibu hamil dan bayi baru lahir. Penghargaan itu sekaligus menunjukkan bahwa upaya pelayanan kesehatan di daerah mampu bersaing di tingkat nasional meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Agustina Elvin, S.Kep., Ns., mengungkapkan rasa syukur atas penghargaan tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, prestasi yang diraih bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari kolaborasi seluruh tim yang selama ini menjalankan program hepatitis secara konsisten.
“Ini bukan hasil kerja satu orang, tetapi kerja tim. Kinerja kami ternyata dibaca oleh pemerintah pusat dan kami mendapatkan peringkat nomor dua nasional,” ujar Agustina.
Ia menjelaskan bahwa posisi pertama diraih oleh Kabupaten Lampung, sementara Nabire berhasil menempati posisi kedua. Capaian tersebut dinilai sangat membanggakan mengingat pelaksanaan program dilakukan di tengah keterbatasan anggaran dan berbagai tantangan operasional di lapangan.
Agustina memberikan apresiasi kepada seluruh penanggung jawab program hepatitis, baik di tingkat fasilitas kesehatan maupun kabupaten, yang tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
“Kami bekerja dengan segala keterbatasan dan kekurangan. Namun program ini adalah amanah yang harus kami laksanakan. Kami berharap prestasi ini dapat terus dipertahankan, bahkan ke depan bisa meraih peringkat pertama,” katanya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada tim hepatitis Provinsi Papua Tengah yang selama ini aktif memberikan pendampingan, arahan, serta pembinaan sehingga pelaksanaan program di Nabire dapat berjalan optimal.
Program pencegahan hepatitis B sendiri berfokus pada perlindungan ibu hamil dan bayi sejak masa kehamilan. Seluruh ibu hamil di Kabupaten Nabire menjalani pemeriksaan hepatitis sebagai bagian dari skrining rutin untuk mencegah penularan virus dari ibu kepada anak.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan ibu hamil positif hepatitis B, tenaga kesehatan akan memberikan tindakan profilaksis kepada bayi segera setelah lahir. Langkah tersebut bertujuan memutus rantai penularan sehingga bayi dapat tumbuh sehat tanpa terinfeksi virus hepatitis B.
“Harapannya, bayi yang lahir menjadi generasi emas Papua yang bebas dari hepatitis dan mampu membangun daerah di masa depan,” jelas Agustina.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Pingky Pancawardani, menyampaikan apresiasi atas pencapaian Kabupaten Nabire. Menurutnya, penghargaan tersebut mencerminkan komitmen tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Kami memberikan apresiasi yang besar kepada Kabupaten Nabire. Tantangan tentu banyak, tetapi bagaimana kita melayani dengan hati untuk melindungi masyarakat dari infeksi hepatitis akibat virus,” ujarnya.
Pingky juga menyoroti pentingnya sistem pelaporan digital SIHAPI sebagai bagian dari penilaian nasional. Hingga saat ini, baru dua kabupaten di Papua Tengah yang aktif melaporkan pelaksanaan program melalui sistem tersebut.
Menurutnya, kualitas pelaporan menjadi faktor penting agar seluruh capaian daerah dapat terdokumentasi dan diakui oleh pemerintah pusat.
“Kalau kita bekerja tetapi tidak melaporkan, maka hasil kerja itu tidak akan terbaca oleh pemerintah pusat. Karena itu kami berharap seluruh kabupaten memanfaatkan sistem pelaporan digital SIHAPI,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan seluruh fasilitas kesehatan untuk memperkuat pelaksanaan triple eliminasi, yaitu pemeriksaan hepatitis B, HIV, dan sifilis bagi ibu hamil. Pemeriksaan tersebut menjadi langkah strategis untuk mencegah penularan penyakit kepada bayi sejak dalam kandungan.
Pingky juga mendorong seluruh puskesmas agar terus memperkuat kolaborasi melalui Integrasi Layanan Primer (ILP), sekaligus mengajak masyarakat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) setidaknya sekali dalam setahun sebagai upaya deteksi dini berbagai penyakit.

Keberhasilan Kabupaten Nabire meraih peringkat kedua nasional diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh tenaga kesehatan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan. Dengan kolaborasi yang kuat, pelaporan yang tertib, serta partisipasi aktif masyarakat dalam skrining kesehatan, target melahirkan generasi Papua Tengah yang sehat dan bebas hepatitis di masa depan diyakini dapat terwujud.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]





Tinggalkan Komentar