15 Siswa Sekolah Alkitab Mulia Angkatan ke-58 Resmi Ditamatkan, Siap Melayani di Tanah Papua
Puncak Jaya, 17 Juni 2026 – Sebanyak 15 siswa-siswi Sekolah Alkitab Mulia (SAM) Angkatan ke-58 Tahun 2026 resmi ditamatkan setelah menyelesaikan pendidikan keagamaan selama kurang lebih tiga tahun. Acara penamatan berlangsung di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Selasa (16/6/2026), dengan dihadiri jajaran pemerintah daerah, tokoh gereja, dan unsur TNI/Polri.
Prosesi penamatan dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Puncak Jaya Mus Kogoya, SE., MM., Ketua Wilayah Yamo Dr. Pdt. Lenis Kogoya, Ketua III DPRK Maichel Wonerengga, pimpinan denominasi gereja, para gembala daerah, kepala sekolah, dewan guru, serta pengurus Sekolah Alkitab Mulia.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Mus Kogoya menyampaikan permohonan maaf dari Bupati Puncak Jaya Dr. Yuni Wonda yang tidak dapat menghadiri acara karena agenda pemerintahan yang tidak dapat ditinggalkan. Meski demikian, Bupati menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya penamatan tersebut.

Menurut Mus Kogoya, pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang berakar kuat pada nilai-nilai Injil Kristus dan siap menjadi pelayan bagi masyarakat.

Ia juga berpesan kepada para lulusan agar mengabdikan diri dengan penuh ketulusan dan konsistensi di medan pelayanan masing-masing.
“Setelah menyelesaikan pendidikan ini, para lulusan diharapkan terjun langsung melayani masyarakat, memberitakan kebenaran, dan menjadi berkat bagi keluarga maupun jemaat,” ujarnya.

Mus Kogoya menegaskan bahwa sejarah masuknya Injil di Papua telah membawa perubahan besar dalam meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Papua hingga melahirkan banyak pemimpin di berbagai jenjang pemerintahan.
Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya, lanjutnya, berkomitmen mendukung pembangunan fasilitas keagamaan, termasuk Aula dan Kantor Klasis GIDI Mulia yang diharapkan segera rampung.
Mengakhiri sambutannya, Mus Kogoya mengucapkan selamat kepada 15 lulusan Sekolah Alkitab Mulia Angkatan ke-58 dan mengingatkan bahwa tantangan pelayanan sesungguhnya baru akan dimulai setelah mereka diutus ke daerah pelayanan masing-masing.
Penamatan ini menjadi momentum penting dalam mempersiapkan generasi pelayan Tuhan yang siap mengabarkan Injil serta berkontribusi bagi pembangunan rohani dan sosial masyarakat Papua.
[Nabire.Net]





Tinggalkan Komentar