INFO PAPUA
Home » Blog » Belajar Bergiliran & Bekerjasama Melalui Kegiatan Bermain Menumbuk di Lumpang

Belajar Bergiliran & Bekerjasama Melalui Kegiatan Bermain Menumbuk di Lumpang

Nabire, Di awal masa sekolah, anak-anak perlu untuk belajar melakukan hal secara bekerja sama dan bergiliran. Anak-anak usia dini mungkin  tidak memiliki pengalaman dalam mengerjakan hal secara bekerja sama dan bergiliran.

Di dalam kelas, materi dan peralatan terbatas, dan anak-anak harus belajar untuk bekerja sama dan bergiliran. Ketika memilih untuk fokus pada kerja sama dan bergiliran, tentu ingin agar anak-anak mendapat aktifitas fisik yang penuh semangat dalam lingkaran yang menyenangkan sehingga tercipta kondisi yang memungkinkan perilaku kerja sama dan bergiliran dapat muncul dan berkembang.

Tanggung jawab untuk melakukan kegiatan secara bekerja sama dan bergiliran dapat menjadi sebuah inti dari salah satu peraturan kelas. Beberapa anak memerlukan guru untuk menunjukkan bagaimana cara bekerja sama dan bergiliran untuk mengerti apa arti konsep tersebut.

Metode pembelajaran adalah pola umum perbuatan guru dan murid dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar. Dalam level pembelajaran PAUD, ada beberapa metode yang akan diberikan ke anak, salah satunya adalah metode bermain. Kegiatan bermain dapat dijadikan menjadi metode pembelajaran anak PAUD karena sudah pasti menjadi hal yang paling disukai anak-anak. Ide inovasi metode pembelajaran yang kreatif untuk meningkatkan ketrampilan sosial bekerja sama dan bergiliran adalah Bermain Menumbuk Di Lumpang.

Kebermanfaatan kegiatan bermain menumbuk lumpang antara lain:

  1. Ketergantungan yang positif. Anak-anak diajarkan bagaimana bekerja sama dan bergantung satu sama lain untuk mencapai kesuksesan. Semua anak mendapat kesempatan yang sama untuk berpartisipasi penuh dalam aktifitas menumbuk di lumpang.

  2. Belajar ketrampilan sosial bergiliran dan bekerja sama. Anak-anak diajarkan cara menumbuk dengan menggunakan satu lumpang dua alu. Bergiliran menjatuhkan alu ke dalam lumpang dalam aktifitas menumbuk di lumpang.

  3. Pengajaran tatap muka dan interaksi langsung. Anak-anak belajar tentang pentingnya interaksi sosial sehingga mereka dapat mempelajari kemampuan sosial secara efektif.

  4. Media tulis tidak hanya sebuah buku tulis dan pensil. Anak-anak bisa menulis di atas tepung beras menggunakan jari telunjuk.

  5. Penilain diri. Anak-anak diberi waktu untuk menilai diri sendiri pada saat dan setelah beraktifitas menumbuk lumpang.

  6. Mengetahui dan mengenal teknologi sederhana. Anak-anak menjadi tahu kegunaan lumpang, alu, dan ayakan.

  7. Panca indra dalam lumpang. Anak-anak dapat mendengar suara benturan antara lumpang dan alu. Anak-anak dapat meraba dan meremas-remas hasil tumbukannya, masih kasar atau sudah halus. Anak-anak dapat mencium aroma kopi ketika menumbuk kopi, mencium aroma beras ketika menumbuk beras, dan menciumg aroma kacang ketika menumbuk kacang. Anak-anak dapat melihat hasil tumbukannya, masih kasar atau sudah halus. Anak-anak mengetahui rasa gurih kacang, rasa pahit kopi, dan rasa hambar beras.

  8. Pengalaman langsung. Anak-anak mendapatkan pengalaman langsung menumbuk menggunakan lumpang, memegang dan menggunakan alu dengan benar, dan melihat proses penghancuran beras, kopi, dan kacang.

  9. Meningkatkan minat belajar anak-anak dalam proses pembelajaran ketrampilan sosial bergiliran dan bekerja sama.

Merencanakan sebuah kegiatan baru bagi anak-anak saat belajar ketrampilan sosial bergiliran dan bekerja sama memerlukan permainan yang kreatif, banyak imajinasi dan energi tinggi, tetapi hasilnya sangat menyenangkan. Keceriaan anak-anak dan antusiasme yang meningkat untuk melakukan aktifitas sangatlah diperlukan. Oleh karena itu, guru harus pandai-pandai memilih metode pembelajaran yang tepat agar anak-anak lebih tertarik. Berikut adalah perencanaan-perencanaan yang perlu dilakukan oleh guru:

  1. Merencanakan secara cermat apa yang diharapkan dilakukan oleh anak-anak.

  2. Membuat peraturan bermaian yang dapat dipahami dengan jelas oleh anak-anak.

  3. Menyusun perangkat pembelajaran seperti RPPM, RPPH, dan intrumen penilaian.

  4. Menyiapkan lembar observasi dan lembar evaluasi.

  5. Menyiapkan media lumpang dan alu serta perlengkapan lainnya seperti loyang dan ayakan.

  6. Menyiapkan bahan yang ditumbuk seperti beras, kopi sangrai, dan kacang goreng.

  7. Menyiapkan vidio pembelajaran tentang aktifitas menumbuk https://youtube.com/RBJNvE6f1Qo?feature=share

Selanjutnya pelaksanaan kegiatan yaitu:

  • Memutar vidio pembelajaran melalui laptop tentang aktifitas menumbuk

  • Menjelaskan tentang ketrampilan sosial bergiliran dan bekerja sama

  • Mengajari anak cara menumbuk, mengayak, dan menulis nama panggilan di atas tepung beras

  • Mengajak anak mulai menumbuk

  • Mengajak anak mulai mengayak

  • Memberi tugas pada anak untuk menulis nama panggilan di atas tepung beras

  • Mengajak anak untuk mengeksplorasi fungsi panca indra dari kegiatan menumbuk

  • Memberikan bimbingan kepada anak yang memerlukan

  • Mengevaluasi hasil ketrampilan sosial pada anak

Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pada anak-anak, bahwa metode penbelajaran bermain menumbuk di lumpang dapat menjadikan kegiatan belajar ketrampilan sosial bergiliran dan bekerja sama lebih aktif, menarik, dan menyenangkan bagi anak-anak. Dengan demikian  kegiatan bermain menumbuk di lumpang bisa menjadi salah satu referensi pembelajaran inovatif. Kedepannya anak-anak juga diperkenalkan tentang ketrampilan sosial bergiliran dan bekerjasama di tempat-tempat umum seperti di kantor pos, kantor polisi, dan lain-lain.

Penulis : Fitri Septi Ariyani, S.Pd

[Nabire.Net]


Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.