INFO PAPUA
Home » Blog » Tokoh Lintas Agama Kabupaten Dogiyai Minta Pemkab Tertibkan Miras & Tempat Prostitusi

Tokoh Lintas Agama Kabupaten Dogiyai Minta Pemkab Tertibkan Miras & Tempat Prostitusi

(Sosialisasi Pemuda Lintas Agama Kabupaten Dogiyai Minta Pemkab Tertibkan Miras & Tempat Prostitusi)

Dogiyai – Forum Komunikasi Umat Beragama kabupaten Dogiyai, melaksanakan Sosialisasi Pemuda Lintas Agama kabupaten Dogiyai, bertempat di Aula Koteka Moge, Dogiyai, Rabu (30/09).

Sosialisasi ini mengusung tema “Dampak Miras & Pergaulan Bebas, diikuti perwakilan masing-masing agama dan denominasi gereja serta pengurus FKUB sebanyak 17 anggota.

Adapun materi yang dipaparkan dalam kegiatan ini ada dua yaitu ‘Miras & Dampaknya’ yang dibawakan oleh Pdt. Obeth Magai, S.Th, serta ‘Seks Bebas/Pergaulan Bebas’.



Dalam sosialisasi ini semua tokoh lintas agama sepakat agar miras dan tempat prostitusi agar segera ditutup sehingga bisa mencegah kasus kriminalitas, lebih khusus di kabupaten Dogiyai.

Dengan memberikan ijin kepada penjualan miras dan tempat prostitusi, pemkab Dogiyai secara tidak langsung telah membunuh Orang Asli Papua secara perlahan-lahan, oleh karena itu pemkab Dogiyai harus tegas dengan perijinan hal tersebut.

Selain pengawasan dari pemerintah, dibutuhkan dukungan dari keluarga/orang tua serta tokoh agama untuk memberi pemahaman bahwa miras dan seks bebas adalah perbuatan dosa dan dan merusak masa depan.

Dalam diskusi ini, salah seorang tokoh agama dari Gereja Baptis Serikat Indonesia kabupaten Dogiyai, Pdt. Tandi, mengatakan, ada salah satu tempat hiburan karaoke yang beroperasi di samping Gereja, dan sering memutar musik kencang sehingga mengganggu waktu istirahat malam. Ia meminta pemerintah daerah bisa memperhatikan hal tersebut.

Sementara itu, tokoh agama Islam kabupaten Dogiyai menegaskan bahwa agama Islam melarang keras mengkonsumsi minuman keras dan seks bebas, karena itu hukumnya haram. Ia juga sepakat agar pemkab Dogiyai bisa membuat aturan tegas untuk melarang peredaran miras dan tempat hiburan yang menawarkan praktek prostitusi.

(Diduga tempat lokalisasi baru di Dogiyai)

Di tempat yang sama, Emanuel Douw, dari Paroki Yohanes Pemandi mengatakan, untuk membentuk kembali manusia yang seutuhnya butuh pergaulan tapi pergaulan bebas negatif yang sedang mematikan generasi muda. Hal ini perlu adanya tahapan keberlanjutan sosialisasi menyeluruh yang tepat sasaran melalui gereja dan sekolah.

Kemudian, Frater Paroki Modio mengatakan Papua sedang mengalami krisis iman dan identitas atau kebudayaan karena Miras bukanlah budaya orang Mee. Pertanyaannya, muncul krisis budaya melalui miras, lalu siapa yang menjual miras di Dogiyai ?

Ia meminta agar generasi muda harus bekerjasama dengan tokoh adat untuk buat peraturan yang tegas untuk menjual miras dan mendirikan tempat-tempat perjudian yang didukung dari semua pemangku kepentingan di Kabupaten ini supaya Orang Mee bisa menghargai budayanya sendiri. Diharapkan Pemerintah mesti mendirikan kearifan lokal untuk melibatkan anak-anak generasi mudah.

[Nabire.Net/Ones Yobee]

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.