INFO NABIRE
Home » Blog » Tim Peneliti Ekologika & Atamari Gelar Diskusi Terkait Penelitian Wilayah Adat Suku Yerisiam Gua & Suku Asiana Wate Di Hotel Mahavira Nabire

Tim Peneliti Ekologika & Atamari Gelar Diskusi Terkait Penelitian Wilayah Adat Suku Yerisiam Gua & Suku Asiana Wate Di Hotel Mahavira Nabire

Berlangsung di Hotel Mahavira II, Tim Peneliti Ekologika dan Atamari, melangsungkan Konsultasi Para Pihak selama dua hari dari tanggal 30 s/d 31 Agustus 2017.

Konsultasi tersebut dilakukan guna mempersentasikan hasil penelitian mereka terkait wilayah-wilayah penting Masyarakat Suku Besar Yerisiam Gua dan Suku Asiana Wate yang memiliki wilayah stok karbon, spesies penting, spesies hampir punah, wilayah dusun sagu, wilayah dusun buah alam, wilayah perairan dan juga wilayah tempat keramat yang berada di lahan konsesi (HGU) PT Nabire Baru dan PT Sariwana Adhi Perkasa yang bergerak di sektor Perkebunan Sawit.

Persentase ini dilakukan setelah mereka melakukan penelitian panjang selama tiga bulan (Juni-Agustus) 2017 di dua wilayah adat suku tersebut yang adalah bagian dari proses gugatan Suku Yerisiam Gua dan walinya LSM PUSAKA ke RSPO.

Konsultasi tersebut dihadiri oleh para pihak antara lain, Lembaga Adat,Akademisi,Agama,Masyarakat sekitar area konsesi,Aktivis Penggiat Lingkungan,NGO dan Intansi Pemerintah Nabire yang membidangi (DLH,Kehutanan,BKSDA dan Perikanan).

Dalam pertemuan konsultasi tersebut Peniliti Atamari dan Ekologika mempersentasekan bahwa dari hasil penelitian mereka di dalam areal konsensi HGU PT Nabire Baru dan PT Sariwana Adhi Perkasa yang induk perusahaannya bernama (GoodHope) asal Srilangka tersebut, banyak lokasi areal yang memiliki wilayah Stock Karbon (HCS), spesies penting dan hampir punah yang berada di wilayah-wilayah konsensi sawit yang belum di buka (Land Clearing) yang di kategorikan dengan istilah NKT (Nilai Konservasi Tinggi) 1-6. Dan wilayah-wilayah tersebut bersinggungan dengan Wilayah Plasma dari koperasi-koperasi yang di bentuk oleh perusahan bagi masyarakat pemilik hak ulayat.

Dalam pemaparan mereka, juga disampaikan apabila area HCS dan NKT tersbut dibuka, dampaknya akan dihadapi masyarakat pemilik serta spesies yang bergantung pada area-area tersebut.

Sempat juga yang menjadi bahan diskusi menarik dari pertemuan tersebut adalah wilayah konsensi PT Sariwana Adhi Perkasa bersinggungan langsung dengan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dan juga wilayah Suku Wate Asiana yang masuk wilayah Konsensi PT Nabire Baru yang terdapat wilayah Gambut.

Tri Setyadi dari peneliti Ekologika juga menyampaikan dalam penjelasan persentase tersebut; bahwa Wilayah HGU Sawit yang hasil penelitian tidak dapat dilakukan pembukaan adalah wilayah Plasma Koperasi Akaba Suku Besar Yerisiam Gua, karena memiliki HCV dan diapit oleh HPT (Hutan Produksi Tetap) dan HL (Hutan Lindung) tapi juga beberapa kopeasi lainya dari Suku Yerisiam Gua dan Suku Wate Asiana.

Elimelek Yarawobi Ketua Koperasi Akaba menyampaikan bahwa wilayah Plasma Koperasi Akaba dari hasil penelitian tidak dapat dibuka sama sekali, namun yang menjadi persoalan juga adalah, koperasi Akaba sama sekali tidak akan memiliki Wilayah Plasma, hal ini berdampak pada tidak adanya hasil apa-apa dari invetasi sawit ini kepada koperasi tersebut.

Juru Bicara Suku Yerisiam Gua, Gunawan Inggeruhi dalam pertemuan tersebut menguapkan terima kasih kepada Peneliti Atamari dan Ekologika karena sudah memproteksi wilayah-wilayah penting di yerisiam gua yang masuk dalam HGU Sawit, namun yang menjadi polemik juga ialah bebarapa koperasi seperti Akaba tidak memiliki lahan plasma. Namun disisi lain suku Yerisiam Gua juga ingin ada wilayah yang dilindungi bagi kelangsungan hidup anak cucu suku Yerisiam dan juga spesies yang mengantungkan hidup di wilayah tersebut. Jadi hal ini akan didiskusikan secara kolektif dengan masyarakat di kampung untuk mempertimbangkan bersama-sama beberapa hal ini, karena suku Yerisiam menganut sistim komunal.

Suku Wate Asiana dalam pertemuan persentase tersebut yang wilayahnya memiliki lahan gambut, tetap mengizinkan PT Nabire Baru membuka kawasan mereka karena tak mau lahan plasma koperasi mereka berkurang.

Hasil dari konsultasi para pihak tersebut, beberapa perwakilan masyarakat suku besar yerisiam gua dan koperasinya bersepakat akan membicarakan secara kolektif wilayah-wilayah yang masuk NKT dan mengurangi lahan plasma mereka di beberapa koperasi. Sedangkan Suku Wate Asiana tetap mengizinkan wilayahnya dibuka oleh perusahan sawit. Akhir dari pertemuan tersebut ditutup dengan penandatangan kesepakatan para pihak bersama peneliti Atamari dan Ekologika, sebagai hasil persentase mereka.

[Nabire.Net/Roberthino Hanebora]

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.