INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Refleksi Otsus dan Pemekaran Papua, Warga Dogiyai Soroti Keadilan dan Makna Hidup Damai

Refleksi Otsus dan Pemekaran Papua, Warga Dogiyai Soroti Keadilan dan Makna Hidup Damai

Dogiyai, 19 Februari 2026 – Seorang warga Kampung Dikiyouwa, Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai, Agustinus Tebai, menyampaikan refleksi terbuka terkait makna kehidupan, perdamaian, serta implementasi Undang-Undang pemekaran Papua dan Otonomi Khusus (Otsus).

Dalam tulisannya, ia mengajak masyarakat untuk melakukan evaluasi diri sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila ada pihak yang merasa tersinggung atas pendapat yang disampaikan.

Menurutnya, kehidupan harus dimaknai dengan sikap apa adanya, saling menghormati, serta membangun kedekatan dengan Tuhan sebagai garda utama penyelamatan. Ia mengutip pepatah “tak kenal maka tak sayang” sebagai ajakan untuk saling mengenal dan membangun persaudaraan di tengah perbedaan.

Dalam refleksinya, ia juga menyinggung lahirnya Otonomi Khusus Papua melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Ia mempertanyakan bagaimana implementasi dan tujuan pemekaran daerah dijalankan berdasarkan dasar hukum yang ada, serta sejauh mana kebijakan tersebut membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat kecil, termasuk petani.

Selain itu, ia menyinggung dinamika politik lokal yang menurutnya seringkali menimbulkan rasa ketidakadilan. Ia mengaku pernah dinyatakan lulus sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Dogiyai dan telah melalui tahapan administrasi, namun tidak dilantik menjelang hari pelantikan.

Refleksi tersebut juga mengangkat makna pemekaran Papua sebagai upaya menghadirkan kedamaian dan kesejahteraan. Ia menilai bahwa dalam proses pembangunan daerah, masyarakat perlu mengedepankan akal sehat, persatuan, serta menjauhkan diri dari kepentingan politik yang memecah belah.

Menurutnya, membangun daerah harus berlandaskan nilai damai, dukungan bersama, serta pendekatan spiritual yang dekat dengan Tuhan.

Tulisan tersebut ditutup dengan ajakan untuk saling menyelamatkan, hidup damai, dan membangun Papua dengan semangat persaudaraan.

[Nabire.Net]

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.