Pihak Keluarga Buka Suara Terkait Kematian Elikius Ikomou Dalam Insiden Pasar Karang Nabire

Nabire, 27 Juni 2025 – Kasus kematian seorang pemuda, Elikius Ikomou (23) atau disapa Eko, usai diamankan aparat kepolisian di sekitar kawasan Karang Barat, Nabire, memicu polemik luas di tengah masyarakat. Dugaan salah tangkap hingga tindak kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa korban kini menjadi sorotan publik, di tengah upaya pihak kepolisian mengendalikan situasi pasca-kericuhan di Pasar Karang.
Terkait hal itu, pihak keluarga Eko Ikomou angkat suara. Dalam konferensi pers yang digelar keluarga korban, Jumat (27/06), perwakilan keluarga korban Yulius Edowai, membeberkan kronologi yang berbeda dengan kronologi yang disampaikan pihak kepolisian.
Yulius menjelaskan, pada Rabu malam, 25 Juni 2025, Eko masih bersama keluarganya di rumah. Ia sempat menceritakan rencana membeli motor bekas seharga Rp 5 juta dari rekannya.
Keesokan paginya, Kamis (26/06) sekitar pukul 08.00 WIT, Eko meminta uang kepada ibunya untuk membeli motor tersebut. Sang ibu menyetujui, dengan syarat kelengkapan surat kendaraan harus dicek. Setelah mengambil uang di bank, sang ibu pulang, namun Eko sudah tidak berada di rumah.
Sekitar siang hari, keluarga mendapat kabar dari warga bahwa Eko sudah dinaikkan ke mobil ambulans dan dibawa ke rumah sakit. Mereka bergegas ke Polres Nabire, tempat terakhir Eko dikabarkan diamankan bersama dua rekannya, Marga Gobai dan Marga Pigai.
Di Polres, keluarga justru diperlihatkan foto jenazah Eko yang sudah meninggal dunia.
Berdasarkan penelusuran, usai kericuhan di Pasar Karang, aparat melakukan pengejaran hingga ke kawasan Karang Barat. Di sana, Eko bertemu temannya, Maga Pigai. Pigai mengakui bahwa saat itu dirinya membawa dua botol minuman keras jenis CT, namun Eko disebut tidak ikut minum.
Saat pengejaran berlangsung, Pigai berhasil kabur, sementara Eko Ikomou dan Marka Gobai ditangkap. Keduanya kemudian dibawa menggunakan mobil patroli, namun keluarga menegaskan tidak mengetahui pasti kondisi Eko selama perjalanan hingga akhirnya mendapat kabar kematian.
Kecaman Keluarga dan Tuntutan Keadilan
Pihak keluarga menolak narasi resmi kepolisian dalam hal ini Kapolres Nabire yang menyebut Eko terlibat dalam kericuhan dalam beberapa waktu lalu yang kini menjadi sorotan publik. Mereka menduga ada tindakan kekerasan yang menyebabkan Eko kehilangan nyawa.
“Kami mendesak Kapolda Papua Tengah dan Kapolri mengevaluasi Kapolres Nabire dan seluruh anggota yang terlibat. Kami minta proses hukum transparan dan terbuka,” tegas Yulius Edowai.
Keluarga juga mengkritik tindakan Polres yang memandikan jenazah Eko dan memakaikannya pakaian serta sepatu tanpa sepengetahuan keluarga. Proses otopsi dilakukan tanpa melibatkan pihak keluarga, memunculkan dugaan adanya upaya menutupi penyebab kematian.
Korban Lain dalam Insiden Tersebut
Selain Elikius Ikomou, dua warga lain dilaporkan mengalami luka tembak:
-
Fredi Mote, (40) tertembak di lengan kiri saat pulang dari pasar.
-
Apedius Kayame,(19) tertembak di kaki di depan Gereja Afata, Karang Barat.
Keduanya masih dirawat di RSUD Nabire.
Desakan Transparansi dan Pengawalan Kasus
Kematian Eko Ikomou memicu kemarahan warga, terutama di kalangan masyarakat Meepago. Keluarga berencana menggelar pertemuan adat, menyurati DPRP, MRP, tokoh adat, serta lembaga penegak hukum untuk menuntut keadilan.
“Kami minta seluruh masyarakat Meepago ikut mengawal kasus ini. Jangan sampai peristiwa tragis seperti ini terulang,” pungkas Yulius.
[Nabire.Net/Musa Boma]
Tinggalkan Komentar