INFO PAPUA TENGAH
Home » Blog » Perlunya Rekonsiliasi dan Pembangunan Ulang Asrama Migani di Dogiyai

Perlunya Rekonsiliasi dan Pembangunan Ulang Asrama Migani di Dogiyai

(Foto. Paroki Santo Petrus Mauwa yang menjadi tempat penampungan sementara anak-anak asrama migani/Dok.Istimewa)

Dogiyai – Minggu, 28 April 2024, sekitar jam 12 siang, sebuah tragedi menimpa anak-anak pelajar suku Moni di Dogiyai. Asrama Migani, tempat tinggal mereka sejak tahun 1980-an hangus terbakar, meninggalkan mereka tanpa tempat tinggal. Kebakaran tersebut terjadi di Kompleks Koramil Moanemani, Kabupaten Dogiyai, dan sedang menjadi sorotan karena belum jelas penyebab pastinya.

Kebakaran ini tidak hanya memunculkan keprihatinan, tetapi juga mengundang pro dan kontra di antara masyarakat Dogiyai sendiri. Sebagian mengaitkan peristiwa ini dengan konflik horizontal yang baru-baru ini meletus di Nabire pada tanggal 26-27 April 2024.

Namun, pandangan ini tidak diterima oleh sebagian lainnya, terutama yang mendasarkan pada budaya leluhur suku Mee. Menurut budaya mereka, seorang musuh yang sudah masuk dalam rumah, wajib dilindungi sampai konflik atau perang berakhir. Mereka menolak gagasan bahwa warga Dogiyai bisa melakukan tindakan membakar asrama sebagai respon terhadap konflik.

Tanggapan dari Pihak Berwenang

Ketua Forum Kerukunan Badan Kerukunan Beragama (FKUB) Kabupaten Dogiyai, Pdt. Obeth Magai, S.Th, M.IP, menyatakan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Dia mengajukan pertanyaan yang mendasar tentang motif dibalik kebakaran tersebut. Apakah kebakaran itu murni kecelakaan, ataukah ada motif politis atau emosional dibaliknya?

FKUB juga meminta dukungan dari masyarakat Dogiyai, terutama melalui Pemuda Katolik Komisariat Cabang Dogiyai, untuk membantu membangun kembali asrama tersebut. Mereka menekankan pentingnya memperbaiki hubungan antar suku dan memastikan keamanan serta kesejahteraan anak-anak pelajar Moni.

Tantangan Menuju Rekonsiliasi

Kebakaran ini menjadi tantangan besar bagi upaya rekonsiliasi pihak-pihak yang bertikai. Dengan membangun kembali asrama Migani, masyarakat berharap dapat menunjukkan komitmen mereka untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan damai bagi semua etnis yang tinggal di wilayah tersebut. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk gereja dan pemerintah, diharapkan dapat membantu memulihkan kehidupan anak-anak pelajar suku Moni dan membangun kembali rasa keamanan dan kepercayaan di antara masyarakat Dogiyai.

“Kita mesti membantu membangun kembali honai bagi anak-anak pelajar Moni di lokasi yang lama mereka tinggal. Kita semua, gereja (Katolik, KINGMI, GKII) dan pemerintah wajib membantu membangun asrama tersebut mulai dari waktu dekat ini,” pungkas Pdt. Obeth Magai, S.Th, M.IP.(*)

[Nabire.Net]


Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

  • didikprasetyo
    30 April, 2024 13:03 pada 13:03

    Anak muda pelajar n mahasiswa diharapkan u serius dlm menempuh ilmu, dan diharapkan u mengisi tenaga Aan dan aparatur negara, sehingga OTSUS Papua,sangat dirasakan manfaatnya u kesejahteraan rakyat Papua. Para mahasiswa jangan terpengaruh oleh kelompok Opm yg hanya memperkeruh suasana dan mengganggu keamanan.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.